Lendot Instant Produksi Yaros, UMKM Asal Karimun Sudah Go Internasional

Kunjungan Koperasi Angkasa Johor Bahru, Malaysia ke rumah produksi lendot instant milik Yayah Rosita di Perumahan Sedayu PN, Blok G no 02. (Instagram Yayah Rosita)

Karimun (gokepri.com) – Impian Yayah Rosita (30) mengenalkan lendot, makanan khas Melayu asal Karimun ke negeri jiran Malaysia dan Singapura perlahan-lahan mulai terwujud.

“Kalau bicara lendot, orang pasti teringat Karimun,” ujar Yayah Rosita atau yang akrab disapa Yaros di gerai miliknya di kawasan PN, Teluk Uma, Kecamatan Tebing, Karimun.

Lendot memang gurih. Makanan khas Karimun berbahan dasar sagu. Isiannya terdiri dari daun kangkung atau pakis merah, udang, teri ataupun sotong. Tergantung selera.

HBRL

Makanan berkuah ini memiliki filosofi yang unik, yakni kuahnya yang berlendir akan menjadi kental saat dalam keadaan panas. Namun, berubah menjadi cair ketika sudah dingin.

Lendot instant dan seblak instant produksi UMKM Yaros. (instagram Yaros)

Kuah lendot terbuat dari sagu. Pohon sagu atau rumbia banyak tumbuh di Pulau Belat, salah satu pulau di Karimun.

Hanya saja, selama ini wisatawan yang berkunjung ke Karimun selalu disuguhkan dengan lendot yang sudah terhidang dalam mangkok.

Lantas bagaimana jika bahan dasar lendot dari sagu itu diracik sedemikian rupa dalam kemasan instant dan bisa dibawa kemana-mana?

Apa yang menjadi pertanyaan banyak orang itu sekarang sudah menjadi kenyataan di tangan seorang Yayah Rosita.

“Jatuh bangun saya menciptakan lendot instant itu. Try error, try error. Begitulah sampai lendot instant itu benar-benar jadi,” tuturnya.

Yayah Rosita bersama pelaku UMKM Karimun lainnya saat pameran KBRI Singapura. (instagram Yaros)

Setelah lendot instant itu jadi, target Yayah memang tidak lagi mengenalkan lendot di dalam negeri, melainkan go internasional.

“Kalau Yayah nembaknya memang tidak di dalam negeri. Yayah pengennya memperkenalkan makanan khas Indonesia, khususnya Karimun ke luar negeri, Malaysia dan Singapura dulu karena itulah yang paling dekat,” ungkapnya.

Apa yang dicita-citakan Yayah memang sudah dibuktikannya.

Pada September 2022, Yayah bersama para pelaku UMKM di Karimun lainnya kemudian mengikuti Festival Majestic Johor, Malaysia selama 10 hari.

Di negeri jiran itu, mereka diberi fasilitas stand gratis. Hanya uang transportasi dan akomodasi mereka tanggung sendiri.

“Kami sepakat mengambil peluang ini. Dari sana kami bisa tahu apakah produk Karimun diminati oleh masyarakat sana. Alhamdulillah, 90 persen produk terjual dengan nominal transaksi 6.000 ringgit penjualan,” ungkapnya.

Kemudian, pada Ahad, 20 Agustus 2023 Yayah bersama rekan-rekannya sesama pelaku UMKM di Karimun kembali mengambil peluang dengan mengikuti event internasional yakni Bazar HUT RI ke 78 di Kedubes Singapura.

“Alhamdulillah, target kami tercapai dengan total penjualan selama setengah hari sebesar S$ 1.519 SGD atau sekitar Rp 17.134.320 (kurs 11.280), hal ini tidak pernah kami bayangkan produk UMKM yang kami bawa 90 persen terjual habis,” bebernya.

Tidak hanya sampai di situ, upaya Yayah untuk mengenalkan lendot instant ke negeri Merlion tak pernah padam.

Yayah Rosita menerima piagam penghargaan dari Bank Indonesia sebagai tenant terbaik. (instagram Yaros)

Yayah yang sekali dua bulan mengunjungi Singapura selalu membawa beberapa kantong lendot instant ke sana.

“Tujuan Yayah tetap sama, bagaimana Yayah mengenalkan lendot ke lidah orang Singapura,” tuturnya.

Selain lendot, Yayah juga mengemas produk lain seperti seblak instant dan lakse sagu kuah.

Semua penganan khas itu diproduksi Yayah di rumahnya yang sudah disulapnya menjadi pabrik di Perumahan Mega Sedayu PN Blok G nomor 02 yang dibantu seorang karyawan.

Selain menjajal negara tetangga, Yayah tentu juga memasarkan produknya di seputaran Karimun. Produknya itu dengan mudah ditemui hampir di seluruh supermarket yang ada di Karimun.

Hanya saja, untuk mengembangkan usahanya itu, tentu saja Yayah pernah berbenturan dalam hal modal.

Saat itulah, dia mulai berkenalan dengan pihak perbankan, dalam hal ini Bank BRI.

Melalui pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, Yayah mulai mendapatkan suntikan modal sebesar Rp15 juta.

Pinjaman tersebut kemudian digunakannya untuk membeli bahan dasar termasuk kemasan produknya ke Bandung.

“Alhamdulillah, pinjaman KUR dari BRI sangat membantu saya dalam mengembangkan usaha ini,” katanya.

Terpisah, Pemimpin Cabang BRI Tanjungbalai Karimun, Yosi William Kore mengatakan, BRI fokus mendorong atau membantu permodalan masyarakat yang memiliki usaha dalam kategori UMKM, termasuk usaha lendot instant.

“Pemberdayaan UMKM itu kami dorong melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bunganya itu merupakan yang paling rendah jika dibandingkan dengan pinjaman lainnya,” ujar Yosi.

Kata Yosi, dengan pinjaman KUR tersebut, diharapkan UMKM akan terus tumbuh menjadi usaha dengan skala yang lebih tinggi, yakni dari usaha mikro, kecil, menengah hingga menjadi korporasi.

Penulis: Ilfitra

Pos terkait