Jakarta (gokepri.com) – Nilai saham PT BRI Syariah Tbk. (BRIS) meroket. Sebab utamanya karena dimulainya proses penggabungan tiga bank syariah BUMN.
Penetapan PT Bank BRIsyariah Tbk. (BRIS) menjadi surviving entity dari penggabungan tiga bank syariah BUMN, membuat harga sahamnya menyentuh level auto reject atas (ARA) selama dua hari beruntun.
Harga saham BRIS melesat 25 persen ke level Rp1.125 pada sesi I Selasa (13/10/2020). Hingga akhir perdagangan, total transaksi saham BRIS mencapai Rp981,06 miliar.
Pada hari berikutnya, saham BRIS kembali menguat 24,89 persen ke level Rp1.405. Berdasarkan data perdagangan BEI, nilai transaksi saham BRIS mencapai Rp357,33 miliar dan volume perdagangan 257,57 juta saham.
Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka koreksi pada perdagangan Kamis (15/10/2020) menjelang rilis data neraca perdagangan.
Pada pukul 09.00 WIB, IHSG menguat tipis 0,01 persen ke level 5.176,62, setelah dibuka koreksi tipis ke 5.172,59. Terpantau saham 107 menguat, 58 melemah, dan 156 stagnan.
Dua saham anak BUMN menjadi top gainers pagi ini. Saham PT Bank BRI Syariah Tbk. dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) masing-masing melonjak 19,57 persen dan 10,99 persen.
IHSG ditutup menguat 0,85 persen ke level 5.176,09 pada perdagangan Rabu (14/10/2020) yang didorong oleh sektor pertambangan dengan kenaikan 3,72 persen dan infrastruktur 1,69 persen. IHSG pun berhasil reli 8 sesi beruntun.
Sepanjang 2020, harga BRIS melambung 325,76 persen. Bahkan dalam 6 bulan terakhir, harga sahamnya meroket 616,84 persen. Harga BRIS pernah mengalami level terendah sejak IPO sebesar Rp135 pada 24 maret 2020.
Kata Analis
Indeks yang ditutup menguat pada Kamis masih dibayangi optimisme pemulihan ekonomi serta proses pengesahan RUU Omnibus Law yang terus berlanjut. Di sisi lain, tercatat kembali kenaikan jumlah kasus Covid-19.
Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper memprediksi indeks akan melemah dengan level resistance 5.193 hingga 5,211 dan level support di antara 5.107 hingga 5.141.
“Secara teknikal saat ini stochastic berada di area overbought mengindikasikan potensi mengalami koreksi dan profit taking,” tulisnya dalam publikasi riset, Rabu (13/10/2020).
Menurutnya, investor masih akan terus mencermati kelanjutan pengesahan RUU Omnibus Law. Di sisi lain, investor juga akan cenderung wait and see menanti beberapa data perekonomian.
Head of Research Lanjar Nafi mengatakan secara teknikal IHSG bergerak menguat lebih dekat pada resistance Moving Average 200 setelah berhasil break out resistance pivot fibonacci ratio.
Indikator Stochastic yang bergerak jenuh akan menjadi penahan lajut pergerakan IHSG selajutnya. Indikator MACD memiliki pergerakan yang masih cenderung positif dimana MACD line dan signal line memiliki span positif mengarah ke area overvalue dan Histogram yang memiliki akselerasi pergerakan yang kuat.
“Sehinga kami perkirakan IHSG bergerak menguat terbatas menguji resistance Moving Average 200 hari pada support resistance 5133-5198,” imbuhnya. (can)
Editor: Candra Gunawan
Sumber: Bisnis.com
Baca Juga:









