Korporasi-Korporasi yang Bersiap Ekspor Listrik Hijau ke Singapura

Ekspor listrik hijau ke Singapura
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Senior, Merangkap Menteri Koordinator Keamanan Nasional Singapura, Teo Chee Hean. Foto: Facebook/Teo Chee Hean

BATAM (gokepri) – Jalan untuk ekspor listrik hijau ke Singapura semakin terbuka lebar. Pemerintah akhirnya mengeksekusi peluang ekspor itu setelah ada kesepakatan dengan pemerintah Singapura. Seperti apa gambaran kerja sama ini? Korporasi mana saja yang merintis peluang ekspor?

Singapura berpotensi akan mengimpor listrik dari energi baru terbarukan seperti tenaga suraya dan hidrogen dari Indonesia. Kedua negara telah menandatangani kesepakatan untuk memfasilitasi kerja sama energi baru terbarukan.

Indonesia dan Singapura akan menyusun kerangka kerja sama untuk mendorong investasi pengembangan energi baru terbarukan yang mencakup perihal membangun industri solar panel dan fasilitas penyimpanan baterai listrik dari tenaga surya di Indonesia. Kerangka ini juga termasuk skema bisnis penjualan listriknya.

HBRL

Kesepakatan ini sudah diteken oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Senior, Merangkap Menteri Koordinator Keamanan Nasional Singapura, Teo Chee Hean. Penandatangan berlangsung di Singapura pada Kamis 16 Maret 2023 saat agenda Leaders’ Retreat Singapura-Indonesia.

Berbicara pada Leaders’ Retreat, Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengatakan MOU tersebut akan mendukung pengaturan komersial dalam pengembangan kemampuan energi terbarukan, infrastruktur transmisi, yang merupakan tulang punggung sistem kelistrikan, dan perdagangan listrik antar negara

“MOU akan memperkuat infrastruktur energi, transisi energi, dan keamanan energi untuk Singapura dan Indonesia, dan juga mendukung inisiatif regional seperti jaringan listrik Asean. Ini adalah hasil yang saling menguntungkan,” katanya.

Baca Juga:

MOU tersebut akan memungkinkan pengembangan industri dan kemampuan manufaktur energi terbarukan di Indonesia, termasuk fotovoltaik surya (PV) dan sistem penyimpanan energi baterai, yang menyimpan kelebihan daya untuk digunakan nanti. Ini akan memanfaatkan investasi untuk proyek ekspor listrik ke Singapura.

Singapura menginginkan proyek kerja sama EBT ini dapat memasok energi baru terbarukan untuk penggunaan domestik di Indonesia dan ekspor ke Singapura. Bukan hanya sebatas tenaga surya, tapi juga pengembangan hidrogen dan amonia sebagai sumber energi. Singapura juga menyebut kerja sama EBT bisa mendukung pengembangan koridor hijau di Kepualuan Riau dan daerah lain di Indonesia.

Kerja sama perdagangan listrik ini, bisa membantu Singapura mencapai targetnya mengimpor hingga 4 gigawatt energi listrik rendah emisi karbon hingga 2035. Jumlah ini akan memenuhi 30 persen proyeksi pasokan energi listrik Singapura pada 2035.

Energy Market Authority (EMA) Singapura telah menetapkan capaian target impor listrik EBT secara bertahap mulai 2025 sebesar 300 MW – 500 MW, 2030 sebesar 2,2 GW – 2,5 GW, dan 2035 sebesar 3,5 GW – 4 GW.

Indonesia sendiri sebelum Leaders’ Retreat sudah melempar syarat soal ekspor listrik ke Singapura. Syarat tersebut dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan dalam pertemuan leaders retreat RI – Singapura pekan lalu di Singapura.

“Pengembangan industri panel surya harus dilakukan di dalam negeri. Kita harus melakukannya secara end to end, kita tidak mau ekspor listrik ke Singapura saja, tapi kita sudah memproduksi panel surya, baterai dan lainnya,” kata Luhut. Menurut dia, dengan adanya kerja sama investasi dengan Singapura ini, maka Indonesia diharapkan mampu memproduksi solar panel dan baterai di dalam negeri. Ekspor Indonesia yang berupa bahan jadi akan mendongkrak nilai ekspor dan meningkatkan devisa negara. “Saya yakin, upaya ini akan memperkuat landasan Indonesia untuk menuju lingkungan yang lebih hijau,” papar Luhut.

Kue Ekspor Listrik

Dalam dua tahun terakhir, setidaknya lima perusahaan berbasis di Singapura telah menandatangani MOU dengan mitra internasional mereka untuk memfasilitasi impor energi bersih atau energi baru terbarukan dari Indonesia ke Singapura.

Pada bulan April 2022, perusahaan energi terbarukan berbasis di Singapura, Quantum Power Asia, dan mitra mereka yang berbasis di Jerman, Ib Vogt, mengumumkan investasi sebesar USD5 miliar (SGD6,7 miliar) untuk membangun fasilitas tenaga surya 3,5 gigawatt dan fasilitas penyimpanan baterai 12 gigawatt-jam di Kepulauan Riau, Indonesia. Lokasinya ada di Karimun.

Jika disetujui oleh Otoritas Pasar Energi Singapura atau EMA, listrik akan diangkut ke Singapura melalui kabel bawah laut dan dapat sepenuhnya dioperasikan pada tahun 2032. Proyek tersebut dapat memenuhi hingga 8 persen kebutuhan listrik Singapura.

Kemudian, pada bulan Januari 2022, Masdar Abu Dhabi menandatangani MOU dengan Tuas Power Singapura, EDF Renewables Prancis, dan Indonesia Power untuk mengembangkan kapasitas tenaga surya hingga 1,2 gigawatt, beserta penyimpanan energi untuk diekspor ke Singapura.

Pada tahun 2021, Sembcorp, perusahaan utilitas Batam PLN Batam, dan pengembang energi terbarukan Indonesia Trisurya Mitra Bersama (Suryagen) menandatangani perjanjian untuk membangun kapasitas tenaga surya sebesar 1 gigawatt di wilayah Bintan, Batam, dan Karimun serta sistem penyimpanan energi berskala besar untuk melayani masyarakat setempat dan untuk diekspor ke Singapura.

Tiga Emiten Migas

Setelah Leaders’ Retreat, pada Maret 2023, tiga emiten migas dan batu bara, diantaranya PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), dan PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) bersiap menggarap peluang ekspor listrik hijau ke Singapura.

Ketiganya menandatangani nota kesepahaman pengembangan energi terbarukan (EBT) melalui penguatan rantai pasok Solar Photovoltaic (PV) dan Sistem Penyimpanan Energi Baterai (SPEB) di Indonesia dengan beberapa pabrikan manufaktur PV dan baterai (OEM/Original Equipment Manufacturer).

Ketiga perusahaan tersebut merupakan anak usaha dari PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), PT Medco Energy Internasional Tbk. (MEDC), dan PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA).

Pengembangan EBT dan peluang industrialisasi rantai pasok Solar PV dan SPEB dilakukan Adaro Green, Medco Power dan Energi Baru bersama dengan beberapa pabrikan manufaktur PV dan baterai dari dalam dan luar negeri, antara lain PT Utomo Juragan Atap Surya Indonesia, LONGi Solar Technology Co., Ltd, Jiangsu Seraphim Solar System Co., Ltd, Znshine PV-Tech Co., Ltd, Sungrow Power Supply Co., Ltd, PT Huawei Tech Investment, dan REPT BATTERO Energy Co.,Ltd.

Pengembangan EBT dan peluang industrialisasi rantai pasok Solar PV dan SPEB dilakukan Adaro Green, Medco Power dan Energi Baru bersama dengan beberapa pabrikan manufaktur PV dan baterai dari dalam dan luar negeri, antara lain PT Utomo Juragan Atap Surya Indonesia, LONGi Solar Technology Co., Ltd, Jiangsu Seraphim Solar System Co., Ltd, Znshine PV-Tech Co., Ltd, Sungrow Power Supply Co., Ltd, PT Huawei Tech Investment, dan REPT BATTERO Energy Co.,Ltd.

Presiden Direktur PT Adaro Power Dharma Djojonegoro mengaku siap mendukung pemerintah dalam mengembangkan infrastruktur dan industri pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia. Dia mengatakan PLTS merupakan sumber EBT terbesar yang akan berkontribusi terhadap lebih dari 50 persen pembangkitan listrik dalam negeri pada tahun 2060.

“Adaro Green bersama dengan Medco Power dan Energi Baru siap mendukung upaya pemerintah, melalui Kemenkomarves, terkait penggunaan produk dalam negeri untuk proyek-proyek EBT yang sedang dikembangkan, antara lain dengan menjalin kerja sama terkait peluang industrialisasi bisnis rantai pasok PLTS yang terdiri dari rantai pasok industri Solar PV dan SPEB,” kata Djojonegoro dalam keterangan tertulis, Jumat (17/3/2023).

Baca Juga:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait