Kementerian Pariwisata Kembangkan 15 Provinsi Wisata Ramah Muslim

Encik dan Puan Batam 2026
Finalis Duta Wisata Encik dan Puan Kota Batam 2026 tampil pada malam grand final di Ballroom Harmoni One, Batam Centre, Sabtu (9/5/2026). Pemerintah Kota Batam menargetkan generasi muda ikut memperkuat promosi wisata dan budaya daerah. Foto: Diskominfo Batam

JAKARTA (gokepri) — Kementerian Pariwisata memperluas pengembangan wisata ramah Muslim di 15 provinsi sebagai strategi menarik pasar wisatawan Muslim dunia. Langkah ini ditempuh karena Indonesia masih memiliki peluang memperbesar kunjungan wisatawan, termasuk dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan pasar non-OKI.

Pengembangan itu tidak berhenti pada promosi destinasi. Pemerintah juga menyiapkan agenda wisata, memperluas akses informasi, serta mendorong lahirnya produk wisata yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, 15 provinsi tersebut dipilih berdasarkan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) yang disusun mengacu pada Global Muslim Travel Index (GMTI). Indeks itu memetakan daerah yang memiliki potensi menjadi destinasi wisata ramah Muslim.

Baca Juga: Wisata Ramah Muslim, Indonesia Kian Diperhitungkan

Provinsi yang masuk dalam daftar tersebut ialah Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah satu strategi yang ditempuh ialah memasukkan berbagai agenda yang menarik wisatawan Muslim ke dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Program itu menjadi etalase nasional untuk mempromosikan berbagai kegiatan unggulan daerah.

Beberapa agenda yang didorong antara lain Aceh Ramadhan Festival, Aceh Culinary Festival, Muslim Life Fest, Balangan Islamic Festival, Pawai Takbir Batam, serta Batam Wonderfood & Art Ramadhan.

Kementerian Pariwisata juga menghadirkan laman khusus Muslim Friendly Travel pada portal Indonesia.travel. Laman tersebut memuat informasi mengenai destinasi, kalender kegiatan, lokasi tempat ibadah, hingga paket wisata ramah Muslim.

Widiyanti mengatakan pemerintah juga memperluas pilihan produk wisata agar tidak hanya bertumpu pada wisata religi. “Produk wisata ramah Muslim Indonesia juga terus didiversifikasi, mulai dari wisata religi, kuliner halal, hingga wellness berbasis nilai spiritual,” ujarnya.

Selain pengembangan produk, pemerintah memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui pendampingan bisnis. Kementerian juga memperluas akses pasar dan pembiayaan bagi penyedia paket wisata ramah Muslim.

Menurut Widiyanti, Indonesia masih memiliki peluang meningkatkan kunjungan wisatawan Muslim dari negara-negara anggota OKI. Peluang itu tetap terbuka meski kawasan Timur Tengah tengah menghadapi dinamika geopolitik.

Arab Saudi diperkirakan masih menjadi salah satu kontributor utama wisatawan Muslim ke Indonesia. Pertimbangannya, konektivitas penerbangan antara kedua negara masih terjaga.

Meski demikian, Kementerian Pariwisata terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah. Hasil pemantauan menjadi dasar penyesuaian strategi promosi di kawasan tersebut.

Pemerintah juga memperluas sasaran promosi ke negara-negara di luar OKI yang memiliki permintaan tinggi terhadap wisata ramah Muslim. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas pasar dan mengurangi ketergantungan pada kawasan tertentu.

Negara yang menjadi sasaran promosi antara lain Singapura, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, China, Australia, dan Selandia Baru. Selain itu, promosi juga diarahkan ke Malaysia, Brunei Darussalam, Turki, dan Uzbekistan yang selama ini menjadi pasar potensial wisatawan Muslim. ANTARA

Baca Juga: Faktor Penguatan Dolar Ikut Menentukan Pilihan Turis Wisata ke Kepri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait