Karimun, Lingga dan Bintan Masuk Peta Lokasi Penambangan Pasir Laut

Tambang Pasir laut di Kepri
Sebuah kapal tongkang pengangkut pasir laut di perairan Provinsi Kepulauan Riau. Dok. TEMPO/ Fransiskus S.

Jakarta (gokepri) – Tiga daerah di Kepulauan Riau masuk dalam peta lokasi penambangan hasil sedimentasi laut yang di dalamnya termasuk pasir laut. Tiga lokasi tersebut yakni perairan Pulau Karimun, Bintan dan Lingga.

Total ada tujuh lokasi pengerukan hasil sedimentasi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tujuh lokasi itu meliputi laut Jawa, yakni Kabupaten Demak, Surabaya, Cirebon, Indramayu, Karawang.

Di Selat Makassar meliputi perairan sekitar Kabupaten Kutai Kartanegara dan Balikpapan. Kemudian laut di Natuna Utara yang meliputi perairan di sekitar Pulau Karimun, Pulau Lingga dan Pulau Bintan di Provinsi Kepulauan Riau. Di tiga daerah di Kepri, potensi volume sedimen dikaji mencapai 9 miliar kubik.

Baca Juga: 

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan, lokasi pemanfaatan pasir hasil sedimentasi di laut bisa saja bertambah seiring dengan temuan lokasi pemanfaatan oleh tim kajian.

“Di mana ada sedimentasi, di situ tim kajian akan terus bekerja kemudian dia lihat, cek. Kemudian dicek kandungannya dan sebagainya,” ujar Trenggono di Jakarta, Selasa 20 Maret 2024.

Pengecekan dilakukan untuk memastikan kandungan yang ada dalam sedimentasi, bila ditemukan mineral berharga maka tak dapat digunakan untuk reklamasi.

Ia juga mengungkapkan terdapat lokasi lain yang berpotensi dimanfaatkan pasir sedimentasinya. “Di Selat Malaka banyak, di daerah Aceh juga banyak, banyak sekali,” tambahnya.

Adapun di tujuh lokasi itu, apabila hasil temuan tim kajian didapati hasil sedimentasi berupa seperti lumpur maka akan ditanami mangrove.

“Jadi tidak semua sedimentasi itu kemudian harus diambil semua, lihat dari sisi ekologi seperti apa. Kalau memang desainnya tidak boleh diambil dan harus digunakan untuk penanaman mangrove, kita akan tanam mangrove,” pungkasnya.

Potensi volume sedimen di tujuh lokasi itu ditaksir sebanyak 17,6 miliar kubik. Wahyu Trenggono menyebutkan permintaan pasir laut di dalam negeri cukup banyak. peminat utama pasir sedimentasi ini adalah pengusaha yang bakal melakukan pembangunan reklamasi.

“Banyak (peminat) reklamasi di daerah Jawa Timur, Surabaya, Pantai Indah Kapuk, Kalimantan, di daerah Batam juga banyak,” jelasnya.

Dengan terbitnya aturan penambangan hasil sedimentasi laut ini membuka kembali keran ekspor pasir laut. Namun Trenggono menegaskan pasir laut boleh ditambang untuk ekspor sepanjang kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu terpenuhi.

Tim kajian dalam aturan yang tertuang dalam PP 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut terdiri dari KKP, Kementerian ESDM, KLHK, perguruan tinggi, Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal), Kementerian Perhubungan, Pemerintah Daerah (Pemda), dan lembaga lingkungan (NGO).

Pembentukan tim tersebut, tertuang dalam Pasal 5 Bab Perencanaan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2023. Tim ini bertugas menyusun dokumen perencanaan pengelolaan hasil sedimentasi di laut yang berisikan sebaran lokasi prioritas, jenis mineral, dan volume hasil sedimentasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: ANTARA | TEMPO

BAGIKAN