Industri Galangan Kapal Cerah Tapi Pekerja Kurang Berminat

Ketua Aliansi Maritim Indonesia Osman Hasyim. Foto: istimewa

BATAM (GoKepri.com) – Kontribusi sektor industri maritim khususnya galangan kapal masih cerah. Namun, industri galangan yang digadang mampu menyerap ribuan tenaga kerja ini justru sepi peminat.

Permasalahannya bukan sumber daya manusia kota Batam yang tak mumpuni, namun soal kepastian kerja yang masih abu-abu. Para pekerja harus di kontrak tiga kali pertiga bulan.

Ketua Aliansi Gerakan Kebangkitan Industri Osman Hasyim mengatakan, permasalahan kontrak kerja inilah yang membuat para pekerja ogah kerja di galangan kapal.

HBRL

Baca Juga:

Padahal, industri galangan kapal saat ini sangat membutuhkan ribuan tenaga kerja.

“Pemerintah yang menyiapkan formula seperti itu. Saya pikir itu sudah win-win solution agar perusahan tak menanggung beban jika perusahan mengalami penurunan permintaan,” ujarnya saat ditemui Rabu 16 November 2022.

Dirinya berhap ada kebiajakan baru soal kontrak kerja bagi para pekerja galangan kapal. Pihaknya juga akan membawa permasalahan itu agar peminat para pekerja galangan kapal meningkat.

“Kami di asosiasi akan bahas itu bersama serikat memang ini juga menjadi salah satu hambatannya,” kata dia.

Sementara, para pekerja galangan di Batam ternyata tidak hanya punya cerita seru soal gaji yang tinggi, tapi juga kisah pilu perkara kontrak kerja hingga ditekan atasan sampai jatuh sakit.

Hal itu diungkapkan Supriyadi (26) seorang pekerja galangan kapal di kawasan Sagulung, Kota Batam Kepulauan Riau.

Menurutnya, kerja di galangan kapal tak seindah bayangan orang. Ini bukan masalah gaji tapi soal kepastian. Para pekerja galangan sering dipermainkan oleh pengusaha melalui kontrak kerja.

“Kalau gaji sama saja. Tapi, soal kepastian kerja di kontrak per tiga bulan abis itu kami di panggil untuk sambung lagi. Tapi, kalau disambung biasanya perusahan main lepas begitu saja,” ujarnya, Selasa 15 November 2022.

Selain terus berharap akan kepastian kerja menjelang kontraknya habis, mereka juga sering mendapatkan beban kerja yang tak sesuai dengan porsinya.

Supri, panggilan akrabnya bahkan sempat jatuh sakit karena tekanan kerja dari perusahan yang berlebihan.

“Jujur udah tak ada yang betah kerja di galangan,” kata Supri.

Ia menilai, sistem kerja kontrak per tiga bulan sangat merugikan para pekerja. Meskipun menurut dia hal itu bukan pelanggaran namun dia berharap sistem seperti itu dapat diubah, sehingga peminat kerja semakin meningkat.

Penulis : Engesti

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait