BATAM (GoKepri.com) – Para pekerja galangan di Batam ternyata tidak hanya punya cerita seru soal gaji yang tinggi, tapi juga kisah pilu perkara kontrak kerja hingga ditekan atasan sampai jatuh sakit.
Berikut penuturan Supriyadi (26) seorang pekerja galangan kapal di kawasan Sagulung, Kota Batam Kepulauan Riau.
Menurutnya, kerja di galangan kapal tak seindah bayangan orang. In bukan masalah gaji tapi soal kepastian.
Baca Juga:
- INDUSTRI GALANGAN KAPAL BATAM: Peluang Bisnis Masih Cerah
- Perusahaan Offshore Australia Akuisisi MMA Galangan Kapal Batam
Para pekerja galangan sering dipermainkan oleh pengusaha galangan kapal melalui kontrak kerja.
“Kalau gaji sama saja. Tapi, soal kepastian kerja di kontrak per tiga bulan abis itu kami di panggil untuk sambung lagi. Tapi, Kalau disambung biasanya perusahan main lepas begitu saja,” ujarnya, Selasa 15 November 2022.
Tidak hanya terus berharap akan kepastian kerja menjelang kontraknya habis, mereka juga sering mendapatkan beban kerja yang tak sesuai dengan porsinya.
Supri, panggilan akrabnya bahkan sempat jatuh sakit karena tekanan kerja dari perusahan yang berlebihan.
“Jujur udah tak ada yang betah kerja di galangan. Itu kalau mereka keterima di industri, kosong perusahan (galangan) itu,” kata Supri.
Ia menilai, sistem kerja kontrak per tiga bulan sangat merugikan para pekerja. Meskipun menurut dia hal itu bukan pelanggaran namun dia berharap sistem seperti itu dapat diubah, sehingga peminat kerja di galangan semakin meningkat.
“Kalau gaji di galangan itu tak usah dibahas. Tiga bulan pertama oke kita anggap training. Tapi habis itu dikontrak lagi tiga bulan seterusnya begitu, ya kacau. Tak ada kepastian,” kata dia.
Sementara itu Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepri, Mangara M Simarmata mengatakan, saat ini perusahaan galangan kapal membutuhkan puluhan ribu pekerja.
Sayangnya, belum bisa diserap karena kurangnya keahlian pencari kerja (pencaker) di bidang industri galangan kapal.
“Galangan kapal butuh ribuan. Kami bisa suplai tapi sampai sekarang belum bisa terserap,” kata dia saat dihubungi Selasa 15 November 2022.
Selain masalah kontrak kerja, minat pencaker untuk melamar di perusahan galangan juga minim. Para pencaker di Batam lebih berminat melamar di sektor industri manufaktur seperti di Muka Kuning.
“Kami punya peserta pelatihan yang sudah tersertifikasi saya kira itu bisa memenuhi kuota kerja di galangan,” kata dia.
Penulis : Engesti
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









