Indonesia Bangun Enam Pusat Perawatan Pesawat, Geser Dominasi Negara Tetangga

KEK Batam Aero Technic
Pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana, di hangar A fasilitas MRO di KEK Batam Aero Technic, Kota Batam, Kamis 21 Maret 2024. Foto: gokepri/Candra Gunawan

JAKARTA (gokepri) – Indonesia bersiap menandingi dominasi negara tetangga dalam bisnis perawatan pesawat. Kementerian Perhubungan merancang pembangunan enam pusat perawatan dan perbaikan pesawat terpadu atau Approved Maintenance Organization (AMO) Center di berbagai wilayah strategis, dari Batam hingga Sentani.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman, mengatakan rencana ini bagian dari upaya memperkuat industri perawatan pesawat nasional agar tak lagi bergantung ke luar negeri. “Kami ingin membangun enam kawasan AMO di titik-titik strategis,” ujarnya seusai menghadiri Indonesia Maintenance, Repair and Overhaul Summit (IMROS) 2025 di Jakarta, Selasa 14 Oktober 2025.

Enam kawasan itu tersebar di Batam, Kertajati, dan Budiarto Curug untuk wilayah barat; Makassar di kawasan tengah; serta Timika dan Sentani di kawasan timur Indonesia. Kawasan ini diharapkan menjadi pusat perawatan pesawat setara dengan Seletar di Singapura, Subang Aerospace Park di Malaysia, hingga Don Mueang di Thailand.

HBRL

Menurut Sokhib, Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing karena letak geografisnya yang strategis dan tingginya kebutuhan layanan perawatan pesawat domestik. Selama ini, banyak maskapai Indonesia mengirim pesawat ke luar negeri untuk perawatan besar. “Kita ingin industri ini tumbuh di dalam negeri, sekaligus membuka peluang investasi,” katanya.

Pembangunan kawasan AMO akan dilakukan melalui investasi non-APBN dengan pola kerja sama pemerintah dan swasta, termasuk pelaku industri perawatan nasional dan produsen global seperti Boeing atau Airbus. Pemerintah menyiapkan lahan dan infrastruktur dasar, sementara pihak swasta membangun fasilitas dan mengoperasikannya melalui kemitraan atau joint venture.

Sokhib mencontohkan model Subang di Malaysia yang ditetapkan langsung sebagai kawasan ekonomi khusus. Langkah serupa, kata dia, akan didorong di Kertajati dan Budiarto Curug agar menjadi pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) unggulan di kawasan.

Di Batam, pembangunan sudah dimulai melalui investasi Lion Group lewat Batam Aero Technic (BAT). Garuda Maintenance Facility (GMF) juga tengah menyiapkan perluasan operasi di wilayah tersebut. Dukungan penuh datang dari Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi yang memastikan ketersediaan lahan di Kertajati dan Budiarto tidak menjadi kendala.

Sementara itu, kawasan di Timika dan Sentani akan difokuskan pada perawatan pesawat kecil seperti Cessna Caravan dan Pilatus, yang banyak digunakan untuk transportasi udara di wilayah timur Indonesia.

Jika terwujud, enam AMO Center ini dapat menjadi tonggak kemandirian industri penerbangan nasional—membuka lapangan kerja baru, menekan biaya perawatan pesawat, dan menjadikan Indonesia pemain utama di pasar MRO Asia Tenggara. “Industri ini bisa menjadi mesin ekonomi baru,” ujar Sokhib. “Kita ingin Indonesia punya langit yang mandiri.” ANTARA

Baca Juga: RI Siapkan Ekosistem Baru Industri MRO

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait