Impor Listrik dari Indonesia Terancam Mandek, Singapura Jajaki Negara Lain

Impor listrik dari Indonesia
Seorang karyawan memeriksa panel surya atap Keppel di Singapura. Foto: Reuters

Batam (gokepri) – Pemerintah Singapura tengah mencari alternatif impor energi baru terbarukan setelah kesepakatan dengan Indonesia terancam mandek.

Dilansir dari SCMP.com, Singapura mulai menjajaki peluang impor energi dari beberapa negara, terutama di Asia Tenggara demi mengamankan pasokan energi baru terbarukan. Langkah ini diungkap menteri senior Singapura, Teo Chee Hean.

Awal Juli 2023, Teo mengatakan negaranya tengah mencari pasokan energi hijau bukan hanya dari Indonesia. Sejumlah perusahaan Australia dikabarkan tertarik mengekspor listrik dari EBT ke Singapura.

HBRL

Singapura menargetkan mencapai nol emisi atau net-zero carbon emisi pada 2050, namun karena lokasi dan negaranya kecil, target ini menjadi tantangan berat. Pilihan EBT Singapura terbatas. Minimnya lahan membuat pilihan EBT seperti angin, geotermal dan PLTA sekalipun tak bisa dibangun. Pilihannya hanya solar panel untuk atap namun produksi listrinya terbatas.

Kelistrikan Singapura sepenuhnya masih mengandalkan gas alam hingga 95 persen. Hal ini membuat Singapura rentan mengalami kenaikan harga gas secara mendadak, semisal ketika harga gas menjulang usai Rusia menginvasi Ukraina.

Pemanfaatan EBT di kelistrikan Singapura masih kurang dari 4 persen. Sejumlah pengamat memandang Singapura berkejaran dengan waktu untuk memulai kelistrikan dengan energi ramah lingkungan sekaligus mencapai target nol emisi.

“Setiap negara saat ini bekerja dengan komitmen waktu yang sangat ketat untuk tujuan iklimnya (nol emisi),” kata Putra Adhiguna, pakar energi di Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA). “Singapura menargetkan sekitar 4 gigawatt listrik rendah karbon pada tahun 2035. Waktu terus berjalan, dan mereka benar-benar ingin melakukan pengembangan secepat mungkin.”

Kesepakatan dengan Indonesia
Singapura telah meneken nota kesepahaman tentang kerja sama EBT dengan Indonesia pada Maret 2023 lalu.

Korporasi penghasil energi dan mitra yang berkantor di Singapura pun berkomitmen berinvestasi USD37 miliar lewat konsep Green Corridor. Konsep ini rencananya berlokasi di Provinsi Kepulauan Riau, yang hanya berjarak 20 kilometer dari Singapura.

Namun sejarah jual beli energi antara Indonesia-Singapura pernah goyah. Pada 2011, Indonesia berencana mengurangi ekspor gas ke Singapura. Sementara pada 2020, Indonesia mengumumkan rencana untuk menghentikan pasokan satu dari dua gas ke Singapura pada 2023. Namun akhirnya kontraknya malah diperpanjang pada akhir 2022.

Indonesia kemudian menyatakan akan melarang ekspor EBT pada tahun lalu demi mengamankan pasokan untuk dalam negeri. Kabar ini mengejutkan korporasi di Singapura yang sudah meneken kerja sama dengan mitra di Indonesia. Salah satunya, Sembcorp yang memutus kerja sama dengan PT PLN Batam.

Pada Mei 2023, Menteri Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan ulang larangan ekspor listrik EBT. Jika Singapura ingin tetap mengimpor listrik EBT dari Indonesia, maka harus membangun komponen dan pabrik EBT di Indonesia. Ekspor listrik ke Singapura bisa terjadi asalkan panel surya untuk PLTS dibuat di Indonesia. Kehendak ini menjadi bagian dalam kesepakatan yang diteken Indonesia dan Singapura dalam agenda Leaders Retreat pada 16 Maret lalu.

Sebelum menyetujui skema ekspor listrik, Luhut sempat kesal. Beberapa waktu lalu dia menyatakan Singapura berpikir Indonesia bodoh karena akan mengekspor listrik begitu saja tanpa mempertimbangkan kepentingan industri dalam negeri. Karena itu, muncul syarat penggunaan panel surya buatan Indonesia dalam perdagangan listrik lintas batas tersebut.

“Ada sejumlah MOU dan sejumlah rencana pendirian kawasan industri, tetapi sampai kita melihat pabrik dibangun atau rencana diselesaikan, mungkin sulit untuk mendapat kepastian,” kata Putra.

Ada kekhawatiran di Singapura, yang sudah sangat bergantung pada negara tetangga Malaysia untuk pasokan air, yang mungkin kembali menjadi terlalu bergantung pada pemasok negara lain untuk sumber daya penting lainnya.

Tetapi pengamat mengatakan Indonesia ingin mendapat nilai tambah bagi industri dalam negerinya dalam jual beli listrik EBT ke Singapura.

“Pemerintah Indonesia melihat Singapura banyak diuntungkan dari impor energi. Ini mengurangi jejak karbon mereka dan juga meningkatkan daya saing industri mereka dengan menggunakan daya dekarbonisasi, ”kata Fabby Tumiwa, direktur eksekutif di wadah pemikir Institute for Essential Services Reform dan ahli strategi transisi energi. “Pertanyaannya, bagaimana Indonesia bisa diuntungkan? Mengekspor energi hijau tidak berkontribusi terhadap tujuan iklim Indonesia, hanya Singapura.”

Kini tak hanya memastikan pasokan panel surya dari dalam negeri, calon eksportir listrik juga mesti mengamankan kontrak pembelian di Singapura. EMA atau Energy Market Authority Singapura membuka kesempatan bagi calon eksportir untuk mengajukan proposal hingga Desember 2023. Para operator PLTS di Indonesia pun akan bersaing dengan pemasok energi bersih dari Malaysia, Kamboja, Laos hingga Thailand.

Baca Juga: 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait