JAKARTA (gokepri) – Pemerintah berjanji membenahi tata kelola pasar keuangan setelah pasar saham rontok hingga USD101 miliar dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, mengundurkan diri.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 8 persen dalam dua hari, 28–29 Januari, mencatat kejatuhan terdalam sejak April. Tekanan itu muncul di tengah kekhawatiran investor atas transparansi pasar dan ancaman penurunan peringkat Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Pada Kamis, 30 Januari, IHSG sempat berbalik menguat 0,9 persen setelah otoritas mengumumkan sejumlah langkah perbaikan untuk meredam keresahan pasar. Namun nilai tukar rupiah masih bertahan di level lemah, sekitar 16.790 per dolar AS, mendekati rekor terendah sepanjang masa pekan lalu.
Baca Juga: Setelah Dirut BEI, Pimpinan OJK Mundur
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah berkomitmen memperkuat reformasi pasar modal. “Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat,” kata Airlangga dalam konferensi pers, Kamis 29 Januari 2026.
Pemerintah dan regulator mengusulkan sejumlah perubahan. Di antaranya, menaikkan batas minimal saham beredar (free float) menjadi 15 persen, membuka ruang bagi dana pensiun dan asuransi menempatkan hingga 20 persen portofolionya di pasar modal—naik dari 8 persen—serta menelusuri afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5 persen.
Tekanan terhadap pasar meningkat setelah MSCI, pada 28 Januari, menyatakan kekhawatiran soal struktur kepemilikan saham dan transparansi perdagangan. MSCI bahkan membuka kemungkinan menurunkan status saham Indonesia ke kategori “frontier”, level yang biasanya dihindari investor institusi global.
Di tengah situasi itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan mundur. “Saya berharap ini keputusan terbaik untuk pasar modal. Semoga pengunduran diri saya membawa perbaikan,” ujarnya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan pengunduran diri tersebut tidak mengganggu operasional bursa. Regulator akan memimpin pelaksanaan reformasi dan menargetkan penyelesaian kekhawatiran MSCI paling lambat Mei. “Kami mengingatkan investor untuk tetap tenang dan rasional dalam mengambil keputusan,” kata Inarno Djajadi, Kepala Pengawas Pasar Modal OJK. Namun kemarin, Jumat 30 Januari, pimpinan OJK akhirnya ikut mengundurkan diri.
Pelaku pasar menilai langkah itu tak terelakkan. “Seseorang harus bertanggung jawab atas hilangnya kepercayaan,” kata Mohit Mirpuri, manajer portofolio SGMC Capital di Singapura. Ia melihat krisis ini sebagai titik reset bagi bursa. “Ada peluang untuk keluar lebih kuat dengan standar dan tata kelola yang lebih jelas.”
Tekanan juga datang dari faktor politik dan fiskal. Investor asing mencermati pelebaran defisit anggaran serta meningkatnya peran negara di sektor keuangan di bawah Presiden Prabowo Subianto. Penunjukan keponakannya, Thomas Djiwandono, di bank sentral pada Januari, serta pemecatan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 2025, ikut mengguncang kepercayaan pasar.
Regulator menyebut komunikasi dengan MSCI berjalan positif dan masih menunggu respons atas paket reformasi yang diajukan. “Para pembuat kebijakan ingin memperbaiki situasi ini,” kata Paul Dmitriev, analis senior dan co-portfolio manager Global X ETFs. Menurut dia, pemerintah punya insentif besar untuk bertindak cepat karena arus keluar sistemik bisa berdampak luas.
Data bursa menunjukkan investor asing melepas saham senilai bersih USD645 juta hanya dalam dua hari. Sepanjang 2025, nilai jual bersih asing telah mencapai US$1 miliar.
Sejumlah manajer investasi memperkirakan tekanan belum berakhir. Aberdeen Investments dan Valverde Investment Partners menilai kejatuhan bisa berlanjut karena masalah fundamental dan tata kelola belum sepenuhnya teratasi. Goldman Sachs, UBS, dan HSBC telah lebih dulu menurunkan rekomendasi pasar Indonesia.
Menurut pendiri Valverde Investment Partners, John Foo, dana-dana Asia yang berorientasi jangka panjang berpotensi mengalihkan investasi ke Hong Kong. Sementara dana yang fokus Asia Tenggara cenderung memilih Singapura, Vietnam, atau Thailand. BLOOMBERG, REUTERS
Baca Juga: IHSG Melonjak 22 Persen, Investor Pasar Modal Tembus 20 Juta Sepanjang 2025
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







