Harga Telur Ayam di Batam Merangkak Naik, Ini Kata Gustian Riau

Harga telur ayam
Pedagang telur di Kota Batam. Harga komoditas ini merangkak naik. Foto: gokepri/Engesti

BATAM (gokepri.com) – Harga telur ayam di pasar tradisional Kota Batam melambung sejak beberapa hari terakhir. Harganya menyentuh Rp60 ribu per papan.

Padahal, harganya pada momen normal hanya Rp50 ribu sampai Rp52 ribu paling mahal. Kenaikan harga telur ini merata di pasar yang ada di Kota Batam.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kota Batam Gustian Riau menyebutkan kenaikan harga telur ayam di Batam karena adanya pemotongan induk ayam petelur di daerah penghasil telur ayam di Medan, Sumatera Utara.

HBRL

“Harga telur naik, kebetulan telur kita dari Sumut. Karena induk ayam petelur di sana sedang regenerasi, jadi onduk ayam petelurnya dipotong,” ujar Gustian saat ditemui, Senin 5 Desember 2022.

Akibatnya, kebutuhan telur di Kota Batam akan kurang sampai dua pekan ke depan. Sebab pergantian induk ada petelur ke indukan yang baru bisa memakan waktu hingga dua minggu.

“Dalam dua minggu belakangan ini memang ada kenaikan. Induk ayam petelur itu diganti dengan yang baru. Dua minggu ke depan akan kembali normal kembali harganya,” ujar Gustian.

Meski harga telur, naik kebutuhan bahan pokok lainnya masih aman sampai akhir tahun. Disperindag Batam juga akan melakukan operasi pasar untuk meredam kenaikan harga bahan pokok. “Saat ini aman hingga jelang Natal dan tahun baru,” kata dia.

Produksi Telur Indonesia

Dalam kesempatan lain diberitakan, telur ayam Indonesia akan terus memasuki Singapura setelah surplus produksi. Pemerintah menghitung-hitung kebutuhan telur negara tetangga tersebut yang mencapai 2,14 miliar per tahun sebagai awal perluasan pasar ekspor Indonesia.

Pemerintah akan memacu potensi pasar ekspor dari surplus hasil peternakan khususnya unggas seperti telur ayam maupun ayam DOC (day old chick) atau anak ayam umur 1 hari. Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Kementerian Pertanian, Agung Suganda menjelaskan produksi unggas ras di Indonesia selama ini telah memberikan kontribusi sebesar 60 persen terhadap PDB sektor peternakan, dan kontribusi unggas ras dalam bentuk daging dan telur sebesar 80,8 persen terhadap produksi peternakan.

“Dalam hal konsumsi, kontribusi produk unggas juga 2/3 dari konsumsi protensi hewani masyarakat Indonesia,” katanya saat pelepasan ekspor perdana produk DOC PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, Senin 28 November 2022.

Baca Juga: Menteri Maliki Osman Bicara tentang Hubungan Singapura dengan Batam: Kemajuan Batam Penting bagi Singapura

Untuk produksi daging ayam ras, sejak 2017-2022 rata-rata tumbuh 3,98 persen per tahun, dan tingkat kebutuhannya tumbuh rata-rata 2,77 persen per tahun. Sementara untuk produksi telur ayam ras tumbuh 5,19 persen per tahun dan tingkat kebutuhan telur ayam ras tumbuh 2,78 persen per tahun.

Kementan mencatat, potensi produksi ayam ras nasional pada 2022 mencapai 3,60 juta ton, sedangkan kebutuhannya hanya 3,19 juta ton sehingga produksi ayam ras mengalami surplus 473.403 ton.

Sedangkan produksi telur ayam ras nasional tahun ini yakni 5,57 juta ton, dengan tingkat kebutuhan 5,5 juta ton sehingga mengalami surplus 63.066 ton. “Hal ini menunjukkan Indonesia mampu menyuplai kebutuhan unggas dan produk turunan bukan hanya untuk masyarakat Indonesia, tapi surplus ini siap untuk menyuplai kebutuhan pangan global,” kata dia.

Menurutnya, kelebihan produksi produk unggas ini telah memicu rendahnya harga ayam hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak. Untuk itu pemerintah berupaya menjaga keseimbangan supply dan demand, dan menjaga ketersediaan dan keterjangkauan serta pemenuhan pangan bagi masyarakat Indonesia.

Baca Juga: 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti

Pos terkait