Harapan Masih Ada di Tengah Alarm Resesi

Ekspor Kepri 2022
Pelabuhan Peti Kemas Batuampar, Kota Batam. (Foto: Gokepri/cg)

Bank Indonesia menilai risiko Provinsi Kepri terseret resesi ekonomi cukup rendah. Tapi turunnya permintaan ekspor satu dari berbagai efek yang akan dirasakan provinsi yang ditopang industri manufaktur ini. Optimisme pemulihan ekonomi Kepri tetap lebih menawarkan harapan ketimbang kekhawatiran sinyal resesi tahun depan.

Penulis: Engesti dan Candra Gunawan

Pidato setengah jam Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Khusus Batam Achyar Arfan menunjukkan optimisme ketika ia menjadi pembicara dalam dialog Pertumbuhan Ekonomi Batam Pasca Pandemi 2022.

Optimisme Achyar didorong tren pasar properti yang bergeliat pascapandemi dan sejumlah proyek pembangunan di Batam. Proyek strategis di Batam menambah keyakinan penjualan dan geliat properti, misalnya pengembangan Bandara Hang Nadim di bawah konsorsium Angkasa Pura 1 dan rencana besar KEK Kesehatan. Ditambah lagi relaksasi kepemilikan properti bagi asing. “Pengembangan ini memberi peluang baru yang bisa mendorong industri properti di Batam,” ungkap Achyar di Hotel Harris Batam Centre, Selasa 25 Oktober 2022.

Tapi optimisme pemimpin organisasi pengembang ini tetap menyisakan alarm soal resesi dan pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. “Namun sekarang kita dihadapkan dengan isu akan datangnya resesi global banyak negara maju yang tertekan,” kata dia di Hotel Haris, Selasa 25 Oktober 2022.

Ia menyebutkan tiga tantangan dalam pengembangan sektor properti di Batam. Pertama, lambatnya penyelesaian rumah liat (Ruli). Ia bilang, permasalahan Ruli selalu menghambat pertumbuhan properti. “Penanganan persoalan Ruli ini sangat erat dengan masa Pilkada. Terkadang ada permintaan khusus agar penataan Ruli ditunda. Sehingga pembangunan terhambat,” kata dia.

Tantangan kedua adalah tumpang tindih aturan antara Batam dan pusat. Contohnya Ketika tahun 2013 lalu ada surat keputusan terkait hutan lindung. Proses properti yang sudah berjalan terpaksa harus dihentikan. Tumpang tindih ini menghambat. “Tak hanya hutan lindung. Aturan seperti kampung tua, OSS, PBG, tata ruang, AMDAL, reklamasi, FTZ, KEK dan tambahan aturan lainnya menjadi pengaruh,” kata dia. Tantangan ketiga yang dihadapi adalah adanya isu resesi dunia, dan ketidakpastian persoalan dunia politik. “Kita harap ini tidak terjadi. Sebab efek dominonya sangat terasa,” kata dia.

Talkshow Pertumbuhan Ekonomi Kota Batam Pasca Pandemi Tahun 2022 di Hotel Harris Batam Center, Selasa 25 Oktober 2022. Foto: gokepri/Engesti

Sinyal resesi ekonomi global yang ditanggapi serius oleh Achyar berangkat dari isyarat yang muncul ke publik. Dana Moneter Internasional (IMF) semakin kencang menyalakan alarm bahaya atas ekonomi 2023, sebanyak 31 negara yang menguasai sepertiga perekonomian dunia, terancam masuk jurang resesi dan inflasi bakal mengganas. Dampaknya bisa merembet ke dunia usaha di Indonesia.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Tim Implementasi KEKDA Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri Miftachul Choiri menuturkan risiko Kepri terseret resesi ekonomi cukup rendah dan masih ada harapan untuk tetap tumbuh. Hanya, Kepri tetap akan dampak negatifnya yakni turunnya permintaan ekspor.

Indonesia diperkirakan, salah satu negara yang akan tahan dari ancaman resesi pada tahun 2023. Namun, untuk industri-industri di Provinsi Kepri, terutama di Batam, agar bisa memperluas pasar. Sehingga, saat negara-negara pasar produk industri di Kepri mengalami resesi, produk dari Kepri bisa masuk negara lain, sebagai pasar baru.

“Masih ada harapan, aman (dari ancaman resesi), karena permintaan domestik aman. Tahun 2019, ancaman tinggi, karena permintaan domestik turun,” kata Miftachul.

Demikian, diingatkan jika untuk industri, akan terdampak resesi negara-negara lain di tahun 2023. Seperti disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, empat negara yang cukup berdaya tahan dalam menghadapi ancaman resesi di 2023. Masing-masing, Indonesia, India, Brazil, dan Meksiko.

“Industri harus memperluas atau mencari pasar baru. Sehingga, saat gangguan permintaan atas produk industri turun, ada pasar baru untuk memperkuat ekspor,” himbau Miftachul.

Diakui, saat ini sejumlah negara mengalami resesi berat. Usai pandemi Covid-19, muncul perang Ukraina. Kemudian, sejumlah negara mengalami resesi krisis pangan dan energi. “Jadi memang krisis kali ini memang cukup berat. Tapi sebenarnya krisis itu tidak terjadi cuma sekali. Jadi ada siklus krisis. Tapi masing-masing krisis ini, beda karakteristiknya,” jelasnya.

Saat ini diakui, Indonesia masih aman, walaupun permintaan ekspor turun. Indonesia aman, karena permintaan domestik masih bisa tumbuh. “Karena permintaan domestik kita masih terjaga. Penduduk kita yang banyak dan membutuhkan sandang pangan, papan yang besar, itu menolong,” terang dia.

Hanya saja, untuk Batam, diakui tidak diuntungkan permintaan domestik. Batam selama ini diuntungkan permintaan ekspor. “Sehingga perlu, industri kita di Kepri untuk memperluas pasar. Mencari pasar baru, untuk menutupi, ketika permintaan dari negara-negara tujuan ekspor menurun, ada alternatif pasar baru,” imbaunya.

Sekretaris Daerah Kota Batam Jefridin Hamid pun yakin Batam bisa bertahan (Survive) jika resesi pada tahun 2023 benar-benar terjadi.

Menurutnya Kota Batam selalu bisa mandiri jika dilanda oleh berbagai resesi. Yang membuat Batam bertahan dari resesi selain kebijakan pemerintah daerah, sektor pengolahan atau manufaktur Batam yang masih kokoh sampai saat ini.

“Pandemi COVID-19 2019 itu kita minus 2 sekian persen. 2021 kita naik 2,75 pertumbuhan ekonominya. Itu naik karena kebijakan. Sebab, ketika COVID-19 melanda industri tak ada yang ditutup,” kata dia. “Memang yang ambruk itu sektor pariwisata dan perhotelan tapi sekarang sudah mulai terisi perlahan-lahan, kita bisa bangkit.”

Dirinya juga memprediksi resesi tak kan berdampak signifikan terhadap Kota Batam. Sebab, kota Batam salah satu kota yang punya magnet kuat bagi negara tetangga lainnya untuk investasi atau pun melakukan kerjasama lainnya.

Meski begitu, pihaknya bersama Forkompinda kota Batam tetap menyiapkan antisipasi agar resesi tersebut tak berdampak buruk terhadap kota Batam. “Dalam hati kecil saya tak begitu berdampak. Banyak Investasi yang sudah masuk ke Batam. Artinya ketertarikan negara maju ini sangat berpengaruh. Meski ada perang antara Rusia dan Ukraina, Batam tak akan terpengaruh kita harus optimis,” katanya.

Pengamat ekonomi Universitas Internasional Batam, Suyono Saputro mengatakan, ada beberapa sektor yang kemungkinan akan terdampak jika resesi global tahun 2023 terjadi.

Sektor manufaktur yang akan paling berdampak di Kepri jika resesi itu terjadi. Meski realisasi resesi itu masih abu-abu. Namun, ia meminta semua pihak harus menjaga sektor manufaktur agar terhindar dari dampak itu. “Karena beberapa negara besar tujuan ekspor negara Indonesia itu memang dikhawatirkan akan mengalami perlambatan ekonomi. Ini yang harus disikapi oleh pemerintah secara hati-hati,” ujar dia.

Ia menyebut, jika resesi itu terjadi maka ekspor Indonesia akan mengalami perlambatan. Dampaknya, industri manufaktur yang akan mengalami pengurangan permintaan. Perekonomian Kepri yang baru saja bangkit bisa terjun bebas jika pemerintah tak menyiapkan langkah taktis. “Dampaknya sangat besar, pengurangan lapangan kerja juga akan terjadi. Maka muntiplayer efeknya akan membuat industri mengurangi produktivitasnya,” kata dia.

***

Sejalan dengan pulihnya perekonomian global, laju pertumbuhan ekonomi Kepri kembali ke jalur positif sepanjang 2022 setelah setahun sebelumnya sudah keluar dari kontraksi.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kepri 2022 bakal mencapai 4 persen hingga 4,8 persen (secara tahunan) setelah tumbuh 3,34 persen pada 2021 dan kontraksi minus 3,8 persen pada 2020. Kota Batam diperkirakan tetap menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan PDRB 5 persen hingga 5,8 persen. Penopangnya adalah industri manufaktur, pertumbuhan ekspor dan konsumsi rumah tangga serta belanja pemerintah.

Hanya saja, BI memproyeksikan inflasi tahunan Kepri meroket dari 2,26 persen pada 2021, menjadi di level 6,71 persen-7,11 persen. “Tekanan inflasi meningkat seiring penyesuaian harga BBM dan harga pangan,” ungkap Miftahul.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II mengalami peningkatan dari 2,83 persen menjadi 5,01 persen. “Hal ini sejalan peningkatan mobilitas yang meningkat, ekonomi Kepri pada triwulan II 2022 tumbuh 5,01 persen,” sambungnya.

Peningkatan tersebut didukung oleh beberapa hal di antaranya yaitu dari sisi pengeluaran yang terdiri atas sektor ekspor dan konsumsi rumah tangga. Sementara dari sisi lapangan usaha didukung oleh aktivitas kegiatan pariwisata, pertambangan dan industri pengolahan.

“Ketiga lapangan usaha ini, mampu menyerap 58,56 persen tenaga kerja. Ketiga lapangan usaha inilah, yang mendorong perbaikan pada beberapa indikator kesejahteraan masyarakat,” ujar Miftahul.

Terkait nilai ekspor Kepri menurut sektor usaha dari Januari hingga Agustus di tahun 2021 – 2022 mengalami kenaikan. Hal tersebut dilihat dari sisi migas sebesar 45 persen, pertanian 7 persen, industri pengolahan 30 persen dan tambang 30 persen. Serta ekspor non-migas dari Januari hingga 2 Agustus 2022 sebesar USD 10,305 miliar.

“Untuk Ekspor non-migas dari Kepri ini sendiri, masih didominasi kelompok mesin atau peralatan listrik, mesin atau pesawat mekanik. Kemudian benda dari besi dan baja dengan negara tujuan ekspor utama yakni Singapura, Amerika Serikat, dan Tiongkok,” kata dia.

Selain itu , dari sisi pariwisata, kunjungan wisatawan ke Kepri pada Juli 2022 mengalami peningkatan yang signifikan dengan persentase mencapai 49,23 persen.

“Jika dibandingkan Juli 2021, jumlah kunjungan wisman ke Kepri juga naik sebesar 49.722,98 persen sebagai akibat makin membaiknya penanganan COVID-19 sehingga berdampak pada industri pariwisata,” kata Miftahul.

***

Baca Juga Liputan Khusus Lain:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BAGIKAN