BATAM (gokepri) — Nama Ferry Suwadi menjadi perbincangan di media sosial pada akhir 2024. Pria asal Desa Bale Asri, Malang, Jawa Timur, ini dikenal sebagai pemilik usaha Bakso Gunung di Batam. Ia disorot karena aksi sosialnya membangun jalan di kampung halaman.
Jalan sepanjang 1,5 kilometer dan lebar enam meter itu dibangun secara bergotong royong oleh warga dusun sejak 2017. Pembangunan ini sepenuhnya didanai dari uang pribadi Ferry. Setiap tahun, pengerjaan terus dikebut hingga jalanan mulus seperti jalan tol, sesuai harapan warga.
Ferry, 52 tahun, enggan menyebutkan nominal yang telah dikeluarkan untuk proyek ini. Pria yang akrab disapa Sam Ferry ini berencana melanjutkan pembangunan jalan di kampung halamannya hingga mencapai 5,5 kilometer.
Sejak 2016, jalan tersebut rusak dan belum beraspal, menyulitkan warga melintas. Keprihatinan inilah yang mendorong Ferry untuk memajukan kampung halaman yang telah ditinggalkannya sejak usia 16 tahun.
Tak hanya membangun jalan, Ferry bersama istrinya, Sri, 57 tahun, juga telah membangun masjid, lapangan sepak bola, dan fasilitas umum lainnya. Meski didorong warga untuk mencalonkan diri sebagai bupati, Ferry menegaskan bahwa motivasinya membangun fasilitas umum di tanah kelahirannya adalah ibadah.
“Niatnya ibadah, lillahi ta’ala. Awalnya, saya mencari ke mana saya bisa menyalurkan sedekah,” kata Ferry saat ditemui di rumahnya di Batam, awal 2025.
Pekerja Keras

Di mata Sri Asmani, istrinya yang dinikahi 30 tahun lalu, Ferry adalah sosok pekerja keras, fokus, dan berorientasi pada pengembangan usaha. Ia berharap anak-anaknya kelak dapat hidup lebih baik darinya.
Pencapaian Ferry saat ini diraih melalui kerja keras, kejelian melihat peluang, dan kegigihan menabung serta berinvestasi. Ia telah mendirikan delapan cabang Bakso Gunung di Batam. Tujuh di antaranya milik sendiri, dan satu menyewa. Tahun ini, ia berencana membuka cabang kesembilan di Sekupang dengan membeli ruko tanpa utang.
Baca Juga:
Inspirasi Putri Ariani yang Memukau Panggung America’s Got Talent
Ferry membangun usahanya secara otodidak dengan bekal pendidikan SMP. Ia memilih usaha bakso karena kegemarannya dan karena kampung halamannya terkenal dengan kuliner bakso Malang.
Sejak usia 16 tahun, Ferry telah bekerja untuk menafkahi diri karena keterbatasan biaya. Ia hidup sebagai anak petani miskin bersama enam saudaranya yang juga tidak tamat SMA.
Tanpa keterampilan khusus, Ferry bekerja sebagai buruh cangkul dengan upah Rp700 per hari. Pekerjaan itu dilakoninya selama beberapa bulan.
Kemudian, ia diajak temannya berjualan bakso di Kuningan, Jawa Barat. Ferry pun hijrah dan memulai pekerjaan sebagai penjual bakso pikul. Setiap hari, ia berjalan kaki berkeliling dari perumahan ke perumahan.
Pekerjaan ini disukainya karena penghasilannya lumayan, Rp3.000 per hari dari bagi hasil penjualan, empat kali lipat dari upahnya sebagai buruh cangkul. Ia bertahan selama enam bulan.
Menjelang usia 20 tahun, Ferry mencoba peruntungan baru berjualan bakso gerobak di Jimbaran, Bali, selama dua tahun. Ia mendorong gerobaknya sejauh 4 kilometer, dari Jimbaran ke Nusa Dua, menjajakan bakso di kompleks perumahan.
Di Bali, pendapatannya jauh lebih besar. Ia mampu menabung untuk modal usaha. “Di Bali kan banyak perantau, orang Jawa juga banyak. Apalagi penjual bakso tidak banyak di sana,” ujarnya antusias.
Merintis Usaha

Sambil berjualan, Ferry memperluas jaringan dan mencari informasi tentang cara membangun usaha bakso sendiri. Dari pergaulan sesama perantau Jawa, ia mendengar informasi tentang Batam, kota industri dengan kemitraan Sijori (Singapura, Johor, dan Riau) sebagai tempat perdagangan bebas.
Ia mendapat informasi bahwa jika memiliki keterampilan, bekerja di Batam bisa menghasilkan penghasilan lumayan sebagai buruh pabrik. Namun, Ferry hanya memiliki satu keahlian: berjualan bakso. Informasi tentang Batam membuatnya tertarik mencoba peruntungan. Sembari mendengarkan berita di radio tentang Sijori, Ferry yakin bisa meraih mimpinya.
Baca Juga:
Roti Pisang Lembut, Resep Sederhana yang Menggoda Selera
Pada 1992, ia berangkat ke Batam melalui jalur darat, dari Bali ke Merak-Bakauheni, lalu bus ke Pekanbaru, dan bus lagi ke Dumai. Di Pekanbaru, ia sempat ditawari pekerjaan, tetapi Ferry tetap melanjutkan perjalanan ke Batam untuk memulai usaha baksonya sendiri.
Bersama seorang rekannya, ia merintis usaha bakso keliling dengan gerobak. Bermodal Rp900 ribu hasil tabungan dua tahun berjualan bakso di Bali, Ferry membeli gerobak, peralatan masak, bahan baku, dan menyewa rumah liar (ruli) di Jodoh, Batam.
Perhitungannya tepat. Dengan minim pesaing, usaha baksonya berkembang pesat. Ia bisa mendapatkan Rp50 ribu per hari. Uang itu terus ditabung untuk menambah jumlah gerobak.
“Dari dua gerobak, jadi empat gerobak. Saya ajak abang saya dan temannya dari kampung bergabung,” katanya.
Sejak itu, usaha baksonya terus berkembang. Ferry menjadi pemilik usaha bakso keliling dengan empat gerobak. Modal kembali, keuntungan pun didapat, dan setiap keuntungan diputar kembali untuk pengembangan usaha.
Ferry tak lagi berjualan keliling. Ia bertugas di dapur, sementara abang dan kedua temannya yang berjualan. Sembari itu, ia juga bekerja sebagai pengojek untuk menambah modal.
Syukur dan Ikhlas

Hingga menikah pada 1995, Ferry masih berjualan bakso gerobak. Sedikit demi sedikit, ia menabung untuk modal membangun usaha bakso rumahan.
Dibantu istrinya, Ferry mengembangkan usaha bakso rumahan dengan nama Bakso Gunung. Ia berinovasi dengan model bakso yang berbeda, seperti bakso urat berbentuk segitiga dan bakso gunung merapi berisi telur. Ide itu muncul karena teringat Gunung Kawi, tempat tinggalnya.
Bakso Gunung dikenal dengan rasa yang khas, gurih, dan porsi yang mengenyangkan. Saat ini, gerai Bakso Gunung juga menjual mie ayam, aneka minuman, dan ayam penyet, resep masakan istrinya.
Selain jeli melihat peluang dan mempertahankan rasa, Ferry juga tidak mengambil untung besar. Misalnya, ia masih menjual teh obeng dengan harga Rp5.000, sementara di tempat lain harganya Rp6.000.
Semua usahanya dibangun dari nol dengan modal tabungan yang diputar dan diinvestasikan. Ferry dan istri juga rutin bersedekah, termasuk membangun masjid, lapangan sepak bola, dan jalan.
Dari usahanya yang memiliki delapan cabang, Ferry mempekerjakan 80 karyawan, baik dari Batam maupun kampung halamannya.
Ferry dan istri mengatakan kunci sukses mereka adalah rasa syukur dan keikhlasan. Selama 30 tahun berumah tangga, mereka mengalami pasang surut. Namun, berkat rasa syukur dan ikhlas, mereka tidak pernah merasa kesulitan.
“Keinginan sekarang ini ya bisa hidup sehat, itu yang terpenting,” kata Ferry santai saat ditanya keinginannya setelah sukses membangun usaha dan memajukan kampung halaman. ANTARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









