Batam (gokepri.com) – Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Batam mencatat nilai ekspor rumput laut kering dari Batam ke berbagai negara meningat 500 persen.
Nilainya mencapai Rp24,58 miliar pada 2021, sedangkan tahun 2020 nilai ekspor rumput laut kering hanya 4,09 miliar.
Kepala SKIPM Batam, M Darwin Syah Putra mengatakan kenaikan nilai ekspor rumput laut Batam tinggi tersebut disebabkan karena bertambahnya permintaan negara tujuan ekspor seiring relatif membaiknya kondisi perekonomian global, meskipun masih dalam situasi pandemi Covid-19.
“Permintaan ekspor rumput laut Batam mengalami peningkatan yang signifikan pada 2021 dibanding tahun sebelumnya, bahkan pada awal 2022 sudah mulai ramai pengiriman,” kata Darwin, Senin 31 Januari 2022.
Ia menyebutkan tujuan ekspor rumput laut kering Batam pada 2021, yakni China tercatat 105 kali dengan volume 6.763, 47 ton senilai Rp23,95 miliar, Jepang 5 kali dengan volume 95,36 ton senilai Rp286,08 juta, Vietnam 2 kali dengan volume 32 ton senilai Rp342 juta dan Singapura 1 kali dengan volume 990 kg senilai Rp279 juta.
Sementara pada 2020, lanjut Darwin, ekspor rumput laut Batam hanya ke tiga negara, yakni China sebanyak 17 kali dengan volume 920,9 Ton senilai Rp2,50 miliar, Vietnam sebanyak 5 kali dengan volume 129 Ton senilai Rp1,28 miliar dan Jepang sebanyak 5 kali dengan volume 100 Ton senilai Rp300 juta.
“Potensi rumput laut Batam sangat besar, mudah-mudahan ekspornya pada tahun ini bisa lebih tinggi lagi dari tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Untuk saat ini sudah tercatat ada lima pelaku usaha yang mengekspor rumput laut dan semua dominan rumput laut yang diambil oleh masyarakat nelayan dengan cara dicabut dari alam seperti jenis Sargassum dan Spinosum, sedangkan untuk jenis Cottoni yang dibudidayakan masih sedikit.
- Baca Juga : Rumput Laut Batam Tembus Pasar Dunia
Hal ini sejati sangat potensial dengan wilayah Kepri yang hampir 97% merupakan lautan dengan kualitas air yang baik sangat potensial untuk budidaya rumput laut ini lebih ditingkatkan lagi sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan perekonomian daerah Batam dan Kepri.
Terlebih untuk saat ini industri pengolahan rumput laut di Indonesia baru 40% terpakai kapasitas pabrik pengolahannya karena kekurangan bahan baku, belum lagi kebutuhan dunia.
Ia mengatakan pihaknya akan terus memberikan pendampingan kepada pelaku usaha komoditas perikanan, khususnya yang berpotensi ekspor agar mereka tetap komitmen menjaga mutu dan kualitas produk yang dikirim ke luar negeri.
“Makanya, dilakukan surveilan dan pengambilan sampel terjadwal pada unit pengolahan rumput laut, untuk memastikan mutunya, kemudian diterbitkan sertifikat ekspornya,” ucap Darwin.
Menurutnya peningkatan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Batam mulai tertarik dan menjadikan rumput laut sebagai mata pencaharian alternatif.
- Baca Juga : Hasil Nelayan Kepri Transaksinya Harus di Kepri
Jika semula dianggap sampah yang mengotori tepi pantai, kini masyarakat mendapatkan manfaat langsung dari rumput laut jenis Sargassum
ini,
“Bahkan menghasilkan devisa negara setelah bisa diekspor. Saat ini rumput laut menjadi primadona masyarakat pulau-pulau di Kota Batam,” jelasnya.
Stasiun KIPM Batam senantiasa berkomitmen penuh untuk mendukung ekspor hasil perikanan Indonesia guna menggerakkan roda perekonomian bangsa dan mendukung pemulihan ekonomi nasional.
(Penulis : Romadi)








