Diduga Tertipu Travel Umrah, Warga Batam Rugi Rp100 Juta

Penipuan umrah batam altintur
(internet)

BATAM (gokepri) – Harapan Amnah Fitriah Mona untuk menunaikan umrah pupus menjelang keberangkatan. Perempuan asal Batam itu dan keluarganya menduga menjadi korban penipuan travel umrah PT Altin Tour and Travel (Altintur). Uang Rp100 juta yang mereka setorkan tak berujung keberangkatan, juga belum kembali.

Mona mendaftar umrah bersama empat anggota keluarganya setelah mendapat rekomendasi kerabat. Kerabat tersebut lebih dulu berangkat menggunakan jasa Altintur pada Juli 2025. Pengalaman itulah yang membuat Mona menaruh kepercayaan.

Keputusan itu kian mantap setelah ia berkomunikasi intens dengan Agustina, istri Muhammad Ali, pendiri Altintur. Melalui WhatsApp, Agustina aktif menawarkan berbagai promo. Salah satunya paket “beli empat gratis satu” seharga Rp25 juta per orang. Lima jamaah cukup membayar Rp100 juta.

HBRL

Baca Juga: Kemenag Minta Masyarakat Hati-Hati Pilih Agen Travel Umrah

Belakangan, Mona mulai mencium kejanggalan. Seluruh pembayaran diminta ditransfer ke rekening pribadi Agustina, bukan ke rekening perusahaan. Alasannya, rekening perusahaan disebut sedang bermasalah.

“Kami sempat ragu. Tapi karena keluarga kami sebelumnya berangkat, akhirnya uang itu kami kirim,” kata Mona, Selasa 27 Januari 2026.

Setelah pelunasan, persiapan umrah dilakukan hampir sepenuhnya secara mandiri. Dari pihak travel, Mona hanya menerima perlengkapan terbatas. Koper dan seragam lengkap tak kunjung diberikan. Alasannya, stok habis dan dijanjikan menyusul.

Masalah mencuat pada 27 Desember. Mona menerima kabar bahwa Altintur diduga bermasalah. Sebanyak 80 jamaah dari sebuah pondok pesantren disebut gagal diberangkatkan sejak November. Informasi itu diperkuat oleh agen Altintur yang menyebut Agustina dilaporkan ke kepolisian.

Mona dan keluarganya mendatangi kantor polisi, tetapi tak bisa memberikan laporan karena bukan pelapor. Dari informasi yang mereka peroleh, Agustina sempat membuat surat pernyataan di hadapan polisi. Ia berjanji menyelesaikan persoalan dan mengembalikan dana jamaah pada Senin berikutnya.

Sore harinya, Mona sempat bertemu langsung dengan Agustina di kantor Altintur. Ia kembali diyakinkan bahwa keberangkatan tetap akan dilakukan. “Kalian pasti berangkat,” kata Agustina saat itu, menurut Mona.

Janji itu tak pernah terwujud. Sejak malam 27 Desember hingga 29 Desember, komunikasi terputus. Nomor Agustina tak lagi aktif. Aktivitas di grup komunikasi Altintur pun berubah. Percakapan lama diduga dihapus, kolom komentar ditutup, dan jumlah admin dipangkas.

Dari grup-grup korban yang kemudian terbentuk, terungkap dugaan korban Altintur tersebar di berbagai daerah. Tak hanya Batam, tetapi juga Uban, Tanjungpinang, Dabo Singkep, Kalis, Guntung, dan wilayah lain di Kepulauan Riau.

Kerugian yang dialami Mona mencapai Rp100 juta untuk lima jamaah. Kerabatnya mengaku menyetor hingga Rp400 juta untuk 13 orang. Sebagian dana tambahan yang diminta tak pernah dikembalikan.

Bagi Mona, perkara ini bukan semata soal uang. Ia menunggu umrah selama tiga tahun. Dua kali tertunda karena musibah keluarga. Tahun ketiga gagal karena dugaan penipuan.

“Kalau uang itu tidak kembali, kami ikhlas. Tapi jangan sampai ada korban lain,” ujarnya.

Baca Juga: Kemenhaj Minta Masyarakat Jangan Tergiur Haji Tanpa Antre

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait