Dibuka Juli, Sekolah Tatap Muka Harus Penuhi Syarat Kesehatan

belajar tatap muka SD
Murid di SD Belakangpadang, Kota Batam, untuk pertama kali belajar tatap muka sejak pandemi, Senin (4/1/2021). (foto: Kecamatan Belakangpadang)

Jakarta (gokepri.com) – Sekolah tatap muka akan dilaksanakan mulai tahun ajaran baru 2021/2022 bulan Juni mendatang. Menteri Keehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, jumlah murid yang boleh menghadiri pembelajaran tatap muka di sekolah maksimal 25 persen dari total murid. Sedangkan jadwal masuk sekolah selama pembelajaran tatap muka terbatas diatur maksimal dua hari dalam seminggu.

“Tidak boleh lebih dari dua hari seminggu,” katanya.

Sementara itu untuk menekan risiko penularan Covid-19 pada anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan sekolah menyiapkan sejumlah persyaratan kesehatan. “Kami mendukung sekolah tatap muka bisa secepatnya dimulai, tetapi syarat-syaratnya harus dipenuhi,” kata Ketua Umum IDAI, Aman B Pulungan, dalam diskusi online pada Minggu (13/6/2021).

Syarat yang disusun IDAI, di antaranya, rasio tes positif Covid-19 di bawah 5 persen dan angka kematian menurun. Kemudian guru dan orangtua murid harus sudah divaksin. Sistem tes dan lacak diperbaiki, termasuk apabila ada kasus harus bisa dilacak hingga ke kontak ke-30.

Sebagai perbandingan, rasio tes positif di Indonesia dalam sepekan terakhir masih 11,48 persen dengan kapasitas tes yang tidak merata. Di sisi lain, kasus Covid-19 di Indonesia cenderung naik seiring dengan penyebaran varian baru yang lebih menular.

“Tes kita sangat terbatas, masih sepersepuluh Malaysia. Di bawah Thailand, Pakistan, dan negara lain di Asia. Padahal, tanpa tes yang baik, kita seperti orang buta melawan Covid-19,” katanya.

Syarat lain, pendidik dan tenaga kependidikan yang menjalani pembelajaran tatap muka harus negatif Covid-19 berdasarkan tes PCR. Sekolah disarankan di luar ruangan dan kalau di dalam ruangan tertutup harus ada penyaring partikel udara (HEPA filter).

Baca juga: Edukasi Kesehatan saat Kembali ke Sekolah

Aman mengakui, penutupan sekolah terlalu lama menyebabkan banyak masalah pada perkembangan anak. Di sisi lain, sejumlah studi menunjukkan, pembukaan sekolah baik bagi perkembangan ekonomi. (wan)

BAGIKAN