Batam (gokepri.com) – Penetrasi perbankan asing di Indonesia masih berlanjut. Sumitomo Mitsui Financial Group (SMFG), raksasa perbankan dari Jepang masih mengincar bank di Indonesia setelah kalah berebut Bank Permata.
Rencana aksi bisnis SMFG di Indonesia diungkap CEO-nya, Jun Ohta. Pemberi pinjaman terbesar kedua di Jepang ini tetap ingin membeli bank komersial di Indonesia setelah di tahun 2019 kalah bersaing mengakuisisi PT Bank Permata.
Rencana bisnis dari CEO SMFG muncul saat bank-bank di Jepang berjuang dengan suku bunga yang rendah di dalam negerinya sendiri. Sehingga korporasi finansial seperti SMFG mencari peluang di luar Jepang terutama di Asia Tenggara.
Akusisi bank di Indonesia terbilang berongkos murah. Korporasi seperti SMFG mengejar tambahan penyaluran kredit dengan dana murah dari negara asalnya.
Di mata bank asing, tingkat pendapatan bunga bersih perbankan Indonesia sangat manis. Pada 2018, Rata-rata selisih pendapatan dari bunga deposito dan bunga kredit mencapai empat persen. Sedangkan rata-rata di negara lain hanya dua persen.
Hingga akhir 2019, selisih pendapatan bunga bersih perbankan di Indonesia menyentuh level 5 persen lebih tinggi dibanding negara tetangga seperti Singapura atau Filipina. Pada 2020, rasio margin bunga bersih turun di level 4 persen. Jangan heran jika hampir setiap tahun ada bank asing yang membeli saham bank lokal.
CEO SMFG Jun Ohta mengatakan tidak akan ada perubahan signifikan dalam strateginya di Asia bahkan setelah wabah COVID-19, karena dia masih mengharapkan kawasan itu menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.
Indonesia, dimana SMFG tahun lalu menyelesaikan pembelian PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, merupakan pasar utama bagi pemberi pinjaman Jepang.
Namun, SMFG kalah akhir tahun lalu dari Bangkok Bank Thailand dalam penawaran untuk Permata, yang memiliki basis klien yang kuat dari usaha kecil hingga menengah dan pelanggan ritel berpenghasilan menengah.
“Itu menyakitkan. Saya pikir kami bisa menang,” kata Ohta dilansir Reuters.
Ia menambahkan bahwa pemberi pinjaman tidak bisa menyetujui harga pembelian. “Kami akan pertimbangkan target selanjutnya jika ada yang seperti Permata, karena platform perbankan kami di Indonesia belum lengkap.”
SMFG juga akan memperluas bisnisnya di pasar termasuk Filipina, Vietnam dan India.
Grup keuangan Jepang ini memiliki fleksibilitas yang kurang dalam strategi merger dan akuisisi (M&A) di Amerika Serikat, karena unit perbankannya diperintahkan tahun lalu oleh Federal Reserve AS untuk meningkatkan tindakan terhadap pencucian uang.
Hal itu membatasi aktivitas M&A-nya, dan masih belum jelas kapan pembatasan tersebut akan dicabut.
“Saya sedang mempertimbangkan sesuatu yang bisa melengkapi (pialang) SMBC Nikko Securities untuk memperkuat bisnis seperti pasar modal ekuitas, meski kami belum bisa melakukannya sekarang,” kata Ohta.
(can)
|Baca Juga: Permata Bank Syariah dan YPI Al-Azhar Indonesia Jalin Kerjasama








