Antara Soeharto, Paspampres dan Ikan Bilih dari Danau Singkarak Sumbar

Presiden Soeharto saat menikmati jamuan sederhana di meja makan.

Karimun (gokepri.com) – Hari ini, 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hari bersejarah ini tak terlepas dari peranan Presiden Soeharto yang menumpas G30S/PKI pada 1965.

Usai peristiwa kelam itu, kekuasaan Indonesia beralih dari tangan Soekarno ke Soeharto.

Sebagai Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto sangat lama memimpin Indonesia bahkan hingga 32 tahun lamanya.

Selama puluhan tahun menjadi Presiden Indonesia, tentu saja banyak kisah menarik Soeharto untuk diulik. Salah satunya saat melakukan kunjungan ke Sumatera Barat.

Dikisahkan, Soeharto pernah melakukan kunjungan kerja ke Sumatera Barat. Tentu saja, setiap kedatangan kepala negara, kepala daerah setempat menyajikan hidangan terbaik untuk sang pemimpin.

Dan Soeharto pun terkesima dengan salah satu menu makanan yang disajikan, yakni Ikan Bilih yang berasal dari Danau Singkarak.

Saking enaknya, Soeharto malah minta ikan tersebut dibungkus untuk dibawa pulang ke Jakarta.

Begitulah, ikan itu kemudian dibungkus dan dibawa ke Jakarta oleh Jenderal Kunarto yang saat itu menjadi ajudan Presiden.

Kunarto pernah menjadi Kapolri periode 1991-1993.

Jenderal Kunarto menceritakan sendiri kisah Ikan Bilih yang menjadi kesukaan Pak Harto itu.

Ada kisah menarik, lucu dan menggelitik serta penuh canda dibalik cerita Ikan Bilih, Soeharto dan Paspampres.

Ceritanya, setiap sore Soeharto suka memakan cemilan di rumahnya Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.

Rencananya, Ikan Bilih itu akan dimakan Pak Harto sebagai cemilan sore hari itu.

Ketika hendak makan ikan itu, Soeharto memanggil Kunarto dan menanyakan soal Ikan Bilih kesukannya itu.

Pertanyaan Pak Harto singkat, “Wader yang kemaren mana,” wader yang dimaksud Soeharto adalah Ikan Bilih asal Danau Singkarak, Sumbar.

Kunarto malah menjadi bingung, dia merasa ikan itu sudah diserahkan ke pengawal atau Paspampres, tapi kenapa malah tidak disajikan ke Pak Harto.

Kemudian, Kunarto mencari Paspampres tersebut dan menanyakan soal ikan itu. Awalnya, pengawal itu diam saja. Akhirnya setelah didesak, pengawal itu mengaku kalau ikan itu telah habis dimakannya.

Kunarto kemudian membawa Paspampres tersebut menghadap Soeharto. Keduanya nampak tegang. Melihat mereka berdua tegang, Soeharto pun jadi tersenyum geli.

“Enak yo wadernya,” ujar Soeharto.

“Iya Pak, enak sekali,” jawab Paspampres itu malu-malu.

Mendengar jawaban itu, Ibu Tien malah ikut bercanda. “Yang dimakan ikan wadernya Presiden, ya pasti enak tho,” kata Bu Tien sambil bercanda.

Suasana tegang berubah menjadi penuh canda tawa.

Kunarto dan pengawal itu lega karena Ibu Tien dan Pak Harto tidak marah.

Ikan Bilih dan Azwar Anas

Kisah Ikan Bilih ini juga pernah dialami Gubernur Sumatera Barat, Azwar Anas.

Ceritanya, Soeharto mengundang Azwar Anas untuk sarapan pagi.

Azwar datang telat. Dia lega Soeharto tidak marah.

Ketika itu Azwar melihat Soeharto sarapan dengan sayur lodeh dan Ikan Bilih.

Sementara untuk tamunya, makanan yang dihidangkan lebih mewah.

“Dari beberapa kali kunjungan, saya jadi tahu bahwa Pak Harto menyukai Ikan Bilih dari Danau Singkarak. Pak Harto sangat menikmatinya. Oleh karena itulah, istri saya selalu memasakkan Ikan Bilih jika Pak Harto sedang berdinas ke Sumatera Barat dan sesekali mengirim ikan bilih ke kediaman Pak Harto,” kata Azwar Anas dalam Pak Harto The Untold Stories.

 

Dari berbagai sumber

Pos terkait