BANJARMASIN (gokepri) – Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) terus mengguncang industri media massa, menghadirkan peluang dan tantangan baru bagi jurnalis dan pekerja kreatif.
Head of Grup WIR dan Penulis Kreatif Konten AI, Adi Priomo Rizki, mengatakan disrupsi ini tak terhindarkan, tetapi bisa dimanfaatkan untuk melahirkan berbagai peluang. “Ini adalah sebuah perubahan yang tidak bisa kita hindarkan. AI ini bukan sebuah ancaman tapi menjadi alat bantu bersama dengan perkembangan teknologi sekarang,” kata Primo dalam SUMMIT Nasional Media Massa di Kalsel, Sabtu (8/2/2025).
Primo menyebut AI sebagai “Akal Imitasi” yang tidak akan menggantikan peran jurnalis sepenuhnya. Namun, AI mengubah lanskap media massa dalam memproduksi konten dan mengubah ekosistem bisnis perusahaan pers. Pekerja pers dan industri kreatif harus berdamai dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Menurutnya, jurnalis atau pekerja kreatif yang tidak menguasai kecerdasan buatan rentan tergantikan. “Karena AI itu adalah sebuah tools (alat), tetap ada manusia yang mengoperasikan. AI itu bekerja berdasarkan instruksi yang tepat,” kata dia.
Primo menyarankan agar media pers tidak hanya berfokus pada tantangan, tetapi juga harus adaptif terhadap perubahan. “Media yang bisa berinovasi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak akan memiliki keunggulan kompetitif di era digital ini. Namun, tetap dibutuhkan sentuhan manusia untuk menjaga kepercayaan dan integritas informasi,” tegasnya.
Tokoh Pers Nasional, Dahlan Iskan, menilai ada atau tanpa AI, media tetap harus hidup. Meskipun AI memberikan kemudahan dalam pengolahan data dan informasi, namun ada potensi besar untuk kesalahan dalam penyajian fakta.
Dahlan menyoroti beberapa hal yang perlu menjadi perhatian para jurnalis saat ini. Salah satunya media sosial (medsos). Menurutnya, penyakit media sosial adalah tulisan pendek yang membuat orang berpikir dangkal. “Media pasti terus hidup. Penyakit medsos adalah membuat orang berpikir pendek jadi yang sudah kena medsos tidak mau baca tulisan panjang,” kata dia.
Maka dari itu, jurnalis diminta untuk kreatif dalam menyajikan informasi. Dahlan juga menyoroti soal pemberitaan saat ini yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, bukan kepentingan umum.
“Jadi tulisan Anda apakah ada hubungannya dengan saya. Jadi sekarang jurnalistik itu untuk kepentingan pribadi. Seharusnya bukan itu,” kata dia.
Selain itu, banyak wartawan yang enggan bekerja di perusahaan pers karena alasan gaji. “Jadi tulisan Anda apakah ada hubungannya dengan saya. Jadi sekarang jurnalistik itu untuk kepentingan pribadi. Seharusnya bukan itu,” kata dia.
“Wartawan tidak mau lagi kerja di perusahaan pers. Karena gajinya kecil. Mending buat media sendiri. Nah apakah sekarang kita bisa cari uang? Bagaimana kita bisa dapat duit dari platform?” kata dia.
Baca Juga: Apple Hentikan Fitur AI yang Keliru Merangkum Berita
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








