BATAM (gokepri) – Kebijakan Singapura menutup lapangan golf membawa peluang bagi Kepulauan Riau. Dinas Pariwisata siap mengembangkan wisata golf demi menjaring turis mancanegara.
Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau menyebutkan wisata olahraga golf menjadi peluang baru untuk menarik kunjungan wisatawan mancanegara ke provinsi itu.
Baca: Ide Baru Pariwisata Kepri, Bangun Sirkuit Pacuan Kuda
Kepala Dinas Pariwisata Kepri Guntur Sakti mengatakan salah satu proposisi penjualan yang unik dari Kepri untuk ditawarkan ke negara-negara tetangga dan sudah siap untuk dijual adalah wisata golf, dengan 7 lapangan golf di Batam dan 3 lainnya di Bintan.
“Karena memang dari awal Batam dan Kepri menjadi bordernya Singapura yang memang dirancang bukan hanya sebagai tempat ekspansi di bidang industri dan perdagangan tapi juga menjadi ‘playground’ pariwisata di Singapura,” kata Guntur.
Ia menyampaikan berbagai turnamen golf internasional yang diadakan di Kepri juga menjadi salah satu strategi untuk mempromosikan destinasi ini.
Menurutnya, pemerintah daerah juga berkomitmen untuk terus meningkatkan fasilitas dan infrastruktur pendukung pariwisata golf, termasuk akomodasi, transportasi dan layanan wisata lainnya.
Selain itu, kolaborasi dengan agen perjalanan dan operator golf internasional juga terus diperkuat untuk menawarkan paket-paket wisata golf yang menarik.
Ia menjelaskan satu daerah dapat dinyatakan lengkap menjadi sebuah destinasi apabila mempunyai 3A yang lengkap, dimulai dari atraksi seperti alam, budaya, buatan.
Menurut Guntur, atraksi alam, budaya, buatan ini tidak akan bisa dijual kalau tidak dilengkapi dengan aksesbilitas.
“Dua ini tidak akan sempurna kalau tidak ada amenitas. Maka kalau dilihat 3A yang paling sempurna hari ini hanya ada di beberapa kabupaten/kota seperti Batam Bintan, Karimun, Tanjungpinang,” kata dia.

Ia mengatakan berdasarkan situasi di lapangan, Batam menjadi pintu masuk utama bagi wisman yang masuk ke Kepri, dan disusul di pintu masuk Bintan Karimun, Tanjungpinang.
Dengan begitu ia berharap dengan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Dispar melalui penjajakan-penjajakan kerja sama di wilayah perbatasan negara dapat memberikan kontribusi besar terhadap kunjungan wisman, serta berdampak terhadap penyumbang devisa negara termasuk membuka lapangan kerja baru di sektor pariwisata
“Jadi kami titip pesan juga ke pemerintah pusat asuh border ini dengan baik karena dia adalah daerah yang memang membutuhkan spesial regulasi, bukan ‘single policy’,” kata Guntur.
Singapura Tutup Lapangan Golf
Singapura menutup lapangan golf sejak awal Juli. Lapangan Marina Bay, dengan pemandangan pusat bisnis Singapura, terpaksa ditutup karena kebijakan pemerintah yang memprioritaskan pembangunan karena lahan makin sempit.

Dibuka kurang dari 18 tahun lalu, lapangan golf ini terakhir dipakai untuk umum pada Sabtu (29/6/2024). Penutupan ini melengkapi penyusutan lapangan golf lain di Singapura dalam beberapa tahun terakhir. Kini, hanya tersisa satu lapangan golf publik, yaitu lapangan di utara negara kota tersebut.
Penutupan ini langkah terbaru dari Singapura untuk membangun kembali lahan, terutama untuk perumahan. Hal ini didorong oleh lonjakan permintaan yang membuat harga rumah dan sewa melonjak, di luar jangkauan banyak penduduk. Lapangan golf di Singapura menyewa tanah pemerintah, sehingga rentan terhadap perubahan mengikuti perencanaan baru.
Pihak berwenang belum mengumumkan detail untuk pembangunan kembali lapangan Marina Bay.
Lapangan olahraga lain yang digusur untuk perumahan termasuk lintasan pacuan kuda Singapore Turf Club, yang dijadwalkan menggelar turnamen terakhirnya pada Oktober, mengakhiri lebih dari 180 tahun sejarah pacuan kuda di negara kota tersebut.
Arena klub sebelumnya di kawasan itu juga diambil kembali oleh pemerintah Singapura tahun lalu untuk membangun perumahan baru. Arena es Olimpiade Singapura ditutup tahun lalu untuk pembangunan kondominium, membuat para pemain hoki dan skater figur kehilangan tempat bermain.
Pihak berwenang harus menyeimbangkan kebutuhan ruang yang saling bersaing di pusat keuangan yang minim lahan ini. Singapura telah lama berupaya menarik ekspatriat dan memiliki kelas menengah yang berkembang pesat. Di Hong Kong, langkah serupa memicu penolakan di antara beberapa anggota elit bisnis, setelah pemerintah mengumumkan akan mengambil kembali sebagian lapangan golf untuk membangun perumahan.
“Golf bukanlah faktor yang seharusnya ada di Singapura,” kata Mohit Sagar, seorang ekspatriat dari India yang bekerja untuk platform konten. Meskipun demikian, pegolf yang sudah bermain di negara kota itu selama 16 tahun ini tetap menyesalkan penutupan lapangan Marina Bay. “Anda bisa bermain golf di Singapura, tetapi Anda tidak akan mendapatkan panorama seperti ini lagi.”
Marina Bay telah menjadi lapangan golf populer sejak dibuka pada tahun 2006, satu-satunya lapangan 18 lubang yang dapat diakses oleh semua orang. Lapangan yang dirancang oleh Phil Jacobs ini memenangkan banyak penghargaan. Lapangan ini juga menawarkan golf malam, memberikan kelegaan bagi para pemain dari terik matahari tropis sepanjang tahun. Pemerintah Singapura mengumumkan pada 2014 bahwa mereka tidak akan memperpanjang sewa klub tersebut ketika masa berlakunya habis pada tahun 2024.
Pemain golf berbondong-bondong ke lapangan ini selama pandemi, ketika sebagian besar negara kota tersebut ditutup.
Jumlah permainan golf di lapangan ini mencapai 10.000 putaran per bulan pada puncaknya, naik dari 7.800 sebelum pandemi. Permintaan begitu besar sehingga para pemain harus masuk ke situs web pada tengah malam untuk mendapatkan waktu tee off saat slot baru tersedia.
“Ini jelas mengecewakan, tapi tidak mengejutkan karena sejak saya tiba, saya tahu lapangan ini akan ditutup,” kata Tom Hawker, seorang ekspatriat yang telah tinggal di Singapura selama lebih dari satu dekade. Konsultan bisnis berusia 44 tahun ini sedang bermain golf terakhir di lapangan tersebut pada akhir Juni, yang ia datangi sekali seminggu selama pandemi.
Dengan penutupan Marina Bay dan lapangan golf publik sembilan lubang Champions pada bulan Desember, lapangan golf publik penuh terakhir di Singapura adalah Mandai. Lapangan 9-lubang par-tiga ini terletak di utara dan tadinya akan ditutup pada akhir tahun 2024. Namun, ditunda selama dua tahun setelah pemerintah menganggap penting bagi publik untuk terus memiliki akses ke olahraga ini.
Klub lain yang dipindahkan pada tahun 2022 untuk pembangunan perumahan, Keppel Club, sekarang mengoperasikan lapangan golf hibrida 18 lubang di Sime, dengan 60 persen waktu bermain dialokasikan untuk umum.
Alternatif bagi para pegolf adalah bergabung dengan klub privat yang mahal atau pergi ke negara tetangga seperti Malaysia atau Indonesia untuk bermain golf.
Di papan atas daftar harga ada Sentosa Golf Club dengan 36 lubang. Warga lokal harus merogoh kocek minimal SGD500.000 untuk menjadi anggota, sementara biaya untuk ekspatriat bisa mencapai SGD850.000 menurut pialang Singolf Services.
Meskipun orang asing dapat bergabung dengan klub privat, keterbatasan jumlah keanggotaan akan mendorong kenaikan harga, ungkap pemilik Singolf, Lee Lee Langdale.
“Sudah menjadi rahasia umum di Singapura bahwa lahan, terutama lapangan golf, akan diambil alih pemerintah untuk membangun fasilitas lain yang dibutuhkan,” kata Langdale. Ia tidak meyakini hal ini akan mengurangi daya tarik Singapura bagi warga asing. “Lagi pula, kebanyakan ekspatriat tidak punya banyak waktu untuk bermain golf,” ujarnya.
Langdale menambahkan, banyak pegolf yang ingin tetap bermain memilih untuk bermain di luar negeri.
“Pilihan termudah adalah pergi ke luar negeri,” kata Hawker, ekspatriat asal Inggris, yang kunjungannya ke Lapangan Golf Marina Bay berkurang menjadi hanya sekali dalam sebulan belakangan karena ia lebih memilih bermain di luar negeri. “Biaya keanggotaan klub privat terlalu tinggi bagi saya.” BUSINESS TIMES
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Engesti Fedro









