Batam (gokepri) – Gubernur Kepri Ansar Ahmad kecewa dengan tuduhan Muhammad Rudi bahwa Pemprov Kepri terlibat dalam kerusuhan unjuk rasa bela Rempang 11 September. Walikota Batam menuding Provinsi Kepri terlibat dalam kerusuhan unjuk rasa bela Rempang, namun tidak memberikan bukti-bukti yang kuat.
Ansar menerangkan sebagai gubernur, ia merasa terusik dengan pidato berapi-api yang disampaikan Rudi bahwa Provinsi Kepri menjadi penyebab kericuhan dalam aksi unjuk rasa bela rempang.
Dalam pidatonya, Rudi menuding adanya keterlibatan Provinsi Kepri dalam kericuhan itu, pidato itu ia ucapkan saat membuka kegiatan Pelatihan Digital IKM dan UKM di Harmoni One, Batam Center, pada Senin, 30 Oktober 2023 lalu.
Baca Juga:
- Aktor Intelektual di Balik Demo Rempang 11 September
- Akademisi Dukung Pengungkapan Aktor Intelektual Unjuk Rasa Rempang
Rudi mengatakan jika nanti para tahanan telah keluar, ia akan mengungkapkan ke publik siapa dalang dari kejadian aksi unjuk rasa di depan kantor BP Batam itu. “Keluar tahanan nanti, saya akan buka semua, biar masyarakat tahu, kalau ini kerjaan dari Provinsi Kepuluan Riau,” kata Rudi.
Ansar mengungkap rasa kekecewaannya itu muncul karena Rudi tidak menyebut oknum, melainkan menyebut Provinsi Kepri terlibat atau dalang dalam kericuhan itu.
“Kalau Provinsi, beliau membicarakan soal lembaga dan kalau sudah bicara soal lembaga tentu harus ada bukti-bukti dan kejelasan, keterlibatan pemerintah provinsi urusan-urusan begitu,” kata dia.
Sejak isu Rempang mulai ramai di publik, Ansar telah berpesan kepada pejabat di lingkungan Pemprov Kepri juga kepada keluarganya agar tidak ikut campur urusan Rempang. Sebab ia menilai isu Rempang sensitif.
“Saya beberapa kali mengikuti rapat di Kementerian, kemudian di Pemko Batam, di BP Batam, akhirnya kami waktu itu sepakati bahwa apa pun informasi-informasi soal Rempang ini, BP yang punya kewenangan menjelaskan itu,” kata dia.
Ansar pun mempertanyakan tuduhan terkait keterlibatan Pemprov Kepri dalam unjuk rasa itu, sehingga membuat Kepala BP Batam berani mengeluarkan pernyataan yang menuding.
“Saya ingin tahu apa keterlibatan kami dan saya sampai hari ini di demo mendalangi ini? Silakan saja kalau ada, saya sudah pesan siapa pun tidak ada boleh melakukan itu. WA [WhatsApp) saya pun saya tidak pernah menanggapi itu satu pun,” kata dia.
Ansar juga mengomentari terkait pernyataan Rudi yang berujung pada kemarahan warga Rempang. Salah satunya, kala Rudi menyebut rumah warga Rempang jika dibeli dengan harga Rp10 juta pun tidak ada yang ingin membelinya. Menurutnya hal itu menjadi pemicu demo berikutnya.
“Menambah-nambah tersinggung masyarakat waktu itu, memicu terjadinya demo berikutnya. Saya kira kita sebagai pemimpin kalau bicara mesti adalah referensi dasar yang baiklah,” kata dia.
Jangan sampai suasana yang seharusnya bisa didinginkan justru memperkeruh suasana. “Termasuklah hari ini,” kata dia.
Ansar juga sudah menyampaikan kepada Rudi untuk fokus menyelesaikan masalah Rempang dengan baik. “Kami justru jauh lebih penting investasi ini, tapi harus membuat masyarakat kita lebih baik ke depan. Daripada membangun polemik-polemik seperti ini,” kata dia.
“Saya tidak tahu ini karena mungkin menyangkut elektabilitas, popularitas di tengah-tengah masyarakat begini sehingga mencari-cari kambing hitam itu.”
Menurutnya, ia telah lama menjadi pemimpin politik, sehingga ia mengaku bisa membedakan mana urusan politik dan urusan investasi. “Ketika memimpin rapat di BP itu berkali-kali saya sampaikan, jangan ada bicara-bicara masalah politik. Pisahkan urusan politik dengan kepentingan investasi,” kata dia.
Ia meminta BP Batam fokus terhadap investasi ini agar berjalan dengan baik dan masyarakat ditangani juga dengan baik. “Kami coba membantu mencari solusinya, supaya ini bisa ditangani dengan baik. Ini sudah mulai kondusif kemarin, harusnya fokus selesaikan ini malah buat polemik-polemik baru lagi,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Muhammad Ravi








