Batam (gokepri.com) – Tak seperti data nasional, penurunan konsumsi masyarakat di Kepri yang terekam data Badan Pusat Statistik (BPS) relatif baik selama pandemi meski masih tertahan dibanding 2019.
BPS mencatat indeks harga konsumen (IHK) deflasi dua kali di Kepri dalam tiga bulan terakhir. Sedangkan BPS merekam IHK nasional deflasi selama tiga bulan berturut-turut.
Jika dihitung sejak kasus pertama bulan Maret atau tujuh bulan terakhir, IHK Kepri terekam tiga kali deflasi yakni pada Maret, Juli dan September. Inflasi terjadi pada April, Mei, Juni dan Agustus. Inflasi tertinggi terjadi pada Januari 0,18 persen atau sebelum pandemi.
Dibandingkan data 2019, konsumsi masyarakat Kepri selama pandemi Maret-September tampak tertahan mengacu indikator IHK bulanan. IHK lebih tinggi dari 2019 hanya terjadi pada bulan Agustus. IHK Kepri pada Agustus 2019 deflasi 0,80%, sedangkan Agustus 2020 inflasi 0,04%.
Sementara IHK Kepri deflasi terendah tercatat pada Maret atau saat kasus pertama ditemukan. Adapun inflasi tertinggi terjadi pada Mei, 0,15%, atau pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Ramadan.
Memasuki triwulan III/2020, laju inflasi di Kepri mulai mengalami peningkatan seiring dengan pelonggaran aktivitas masyarakat yang juga mendorong konsumsi.
Berdasarkan laporan BPS Kepri, pergerakan IHK selama pandemi banyak dipengaruhi pergerakan harga kelompok makanan, transportasi dan pendidikan.
Secara rinci, penurunan indeks harga konsumen di Kepri yang terekam sepanjang 2020 terjadi di kelompok makanan, minuman dan tembakau (-1,36%), transportasi (-6,16) dan informasi, komunikasi dan jasa keuangan (-1,49%).
Sedangkan kelompok yang mengalami inflasi yakni pakaian dan alas kaki (0,15%), perumahan, air, listrik dan BBRT (0.16%), perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,22%), kesehatan (0,95%), rekreasi, olahraga dan budaya (0,82%), pendidikan (3,14%), penyediaan makanan dan minuman atau restoran (0,79%) dan perawatan pribadi dan jasa lainnya (9,10%).
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam, Suyono Saputra, menilai penurunan permintaan dan daya beli masyarakat berkurang bisa dilihat dari data IHK yang terekam BPS.
“Tapi sepanjang angka deflasinya rendah, saya pikir belum jadi masalah serius. Tapi kalau angkanya besar harus dicegah karena bisa jadi uang beredar makin kecil atau masyarakat cenderung menyimpan uangnya di bank,” papar dia baru-baru ini.
Dia melanjutkan sejak wabah corona, masyarakat menahan belanja kebutuhan sekunder dan tersier lalu mengalihkan ke kebutuhan dasar. “Secara umum, pembentukan deflasi didorong kelompok angkutan udara dan makanan, minuman,” tambah dia.
Sementara Bank Indonesia Kepri mencatat transaksi pembayaran tunai sepanjang pandemi mengalami penurunan drastis. Net flow tercatat Rp194 miliar atau kontraksi -91,93% sepanjang triwulan II/2020.
Pandemi juga menahan penyaluran kredit dari perbankan di Kepri. BI mencatat penyaluran kredit mengalami kontraksi -4,32% pada triwulan II/2020.
Meski begitu, dana pihak ketiga (DPK) terekam bertumbuh 16,94% selama pandemi. DPK perbankan di Kepri tercatat Rp58,42 triliun atau tumbuh dibanding tahun lalu.
Transportasi dan Makanan
Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Kepulauan Riau mencatat, penurunan harga tiket pesawat mendorong deflasi di daerah setempat pada September 2020.
“Deflasi di Kepri pada September 2020 bersumber dari penurunan harga pada kelompok transportasi dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” kata Wakil Ketua TPID Kepri, Musni Hardi K Atmaja di Batam, Selasa (6/10/2020).
Ia menyatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri secara bulanan mengalami deflasi sebesar 0,15 persen (mtm), menurun dibandingkan Agustus 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,04 persen (mtm).
Komoditas utama penyumbang deflasi pada September 2020 adalah angkutan udara, beras dan telur ayam ras.
Kelompok transportasi pada September deflasi 1,82 persen (mtm) dengan komoditi utama penyumbang deflasi adalah angkutan udara yang mengalami deflasi sebesar 17,53 persen (mtm).
“Deflasi pada angkutan udara bersumber dari penurunan harga oleh maskapai penerbangan untuk menarik jumlah penumpang,” kata dia.
Selain itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga mengalaml deflasi 0,11 persen (mtm), yang didorong penurunan harga beras dan telur ayam res masing-masing sebesar 3,54 persen (mtm) dan 7,15 persen (mtm).
“Penurunan harga beras dan telur ayam ras terjadi seiring dengan tercukupinya pasokan dari sentra peghasil,” kata dia.
Sementara itu, secara tahunan, Kepri mengalami Inflasi sebesar 0,10 persen (yoy), meningkat dibadingkan Agustus 2020 yang deflasi 0,30 persen (yoy).
Dengan demikian, inflasi Kepri pada September 2020 masih berada di bawah kisaran sasaran inflasi 2020 sebesar 3 plus minus 1 persen (yoy).
(Can)
Editor: Candra Gunawan
Baca Juga:









