BATAM (Gokepri.com) – Belasan tahun para jemaah calon haji (JCH) menanti untuk dapat menuju tanah suci Makkah. Mereka kini mendapat jawaban atas penantian panjang.
Tahun ini mereka bersyukur masih diberikan umur untuk dapat beribadah haji. Upaya mereka menyisihkan sedikit demi sedikit pundi-pundi rupiah akhirnya terwujud.
Adalah Nurjiah (78) calon jemaah haji asal Karimun yang mengaku sangat senang bisa berangkat haji setelah 12 tahun menunggu.
Baca Juga: Calon Jemaah Haji Embarkasi Batam dapat Biaya Hidup Rp3 Juta
Sehari-hari ia berjualan nasi lemak dibantu anaknya, suaminya sudah meninggal dunia dua tahun lalu.
“Anak yang bantu kadang ada uang lebih disisakan untuk haji,” kata dia Selasa 23 Mei 2023.
Nurjiah sebenarnya punya penyakit bawaan. Namun, tetap semangat melengkapi ibadah rukun Islamnya ditemani sang putri.
“Saya berangkat sama anak. Dia juga mau membahagiakan orang tuanya kata dia,” kata dia.
Cerita lainnya datang dari Suriam. Wanita 63 tahun asal Karimun itu, sudah menantikan giliran untuk berangkat menuju baitulharam sejak sepuluh tahun silam.
Setelah sempat gagal berangkat 2020 lalu karena pandemi Covid-19, akhirnya ia bersama suaminya, Tukimin (69) dan anaknya, Suriati (48) berangkat di momen haji tahun 2023 ini.
“Kami ini bukan orang senang, orang susah. Bisa berangkat untuk haji tentu senang. Alhamdulillah sekali,” kata dia
Sedikit demi sedikit pundi-pundi rupiah ia kumpulkan dari hasil bertani karet dan menjual pinang di salah satu desa di daerah Karimun.
Suriam sudah menabung sejak 2012 silam, harusnya dua tahun lalu merupakan gilirannya berangkat jika sesuai jadwal.
Namun, rencana Tuhan nyatanya berbeda, tapi ia masih bersyukur, nikmat sehat masih dititipkan Tuhan dan ia pun berangkat tahun ini.
“Alhamdulillah masih sehat saja senang, semoga pergi sampai pulang nanti bisa sehat terus,” kata dia.
Rasa senang juga dirasakan oleh pasangan Habib (71) dan Siti Juariha (67). Pasangan lansia yang sehari-hari merupakan petani tebu itu akhirnya berangkat setelah 11 tahun menunggu giliran merasakan haji di Baitulharam.
“Alhamdulillah sekali, senang pasti. Saya sama istri bisa berangkat. Kami ini hanya manusia yang berencana, Allah yang menentukan. Kami masih diberikan umur panjang untuk bisa merasakan haji,” ujarnya.
Habib mengaku, hasil kebun sebenarnya tak cukup untuk membiayai keberangkatan mereka. Namun, karena keinginan yang kuat, akhirnya mereka menjual tanah yang telah mereka siapkan sedari dulu.
“Kami kan ada beli tanah, itulah saya jual. Kalau hasil kebun manalah cukup. Panen tebu setahun sekali, paling kami sisihkan sebagian buat makan untuk anak-anak, dan sebagian untuk berangkat (haji),” kata dia.
Ia tak berharap banyak, bisa sehat selama ibadah haji hingga pulang menjadi doa yang tak putus ia panjatkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Engesti









