Dibuang Warga, Dipungut Pemulung

TPA Telaga Punggur Batam
Pemulung beraktivitas di TPA Punggur, Kota Batam, 28 Mei 2022. (Foto: gokepri/Engesti)

Di balik gemerlapnya pembangunan Batam, ada pemulung yang menyantap sampah makanan yang mereka temukan di TPA Telaga Punggur tempat mereka mengais rezeki.

Ditulis oleh: Engesti
Batam

Jam menunjukkan pukul 14.30. Cuaca di Batam sedikit redup. Awan panas ditambah bau busuk dari gunung sampah yang menghiasi aktivitas ratusan pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau.

Kondisi itu tidak menyurutkan semangat para pemulung mengais rezeki di lokasi itu. TPA Punggur memang menjadi titik akhir sampah yang ada di penjuru Kota Batam. Meski terlihat menjijikkan, bagi mereka para pemulung, sampah adalah penyambung hidup. Setiap ada tumpukan sampah baru yang datang ada rezeki yang dapat mereka ambil.

Bermodal keranjang dan roll cat yang hanya besinya saja, mereka ulet mengais rezeki dari sampah itu. Biasanya, para pemulung memisahkan sejumlah barang bekas seperti botol plastik, kardus, kantong plastik dan barang lainnya untuk di jual kembali. Dengan harga Rp2 ribu sampai Rp5 ribu per kilogram, bervariasi setiap jenis sampah.

Tak hanya barang bekas, para pemulung itu juga mengumpulkan sisa makanan untuk dijadikan pakan ternak. Dastarina (38) salah satu pemulung mengatakan dirinya sudah 4 tahun mengais rezeki TPA Punggur. Selama 4 tahun itu ia hanya fokus mencari sisa makanan untuk pakan ternak.

“Suami yang cari barang bekas, saya cari sisa makanan,” kata dia saat ditemui di lokasi, Sabtu 28 Mei 2022.

Dia mengatakan sisa makanan itu nantinya dijual dengan harga Rp5 ribu satu plastik. Katanya, sampah sisa makanan yang ia cari kebanyakan masih layak untuk dikonsumsi. Bahkan tak jarang dirinya juga ikut memakan sisa makanan yang ia cari.

“Kadang menemukan roti masih terbungkus plastik, kalau masih bagus ya di makan saja,” katanya.

Ia menambahkan tidak hanya roti jika ada bahan makanan lainnya seperti sayur jika masih layak akan di bawah ke rumah untuk dijadikan lauk.

“Sayur-sayur ini dari pasar atau restoran masih bagus yang dibuang warga. Mereka kira jelek, di sini kami pungut. Kadang ada kecap saos yang masih disegel kami ambil,” katanya.

Pemulung lainnya, Erwin P (36) mengatakan, dalam sehari dirinya bisa menghasilkan Rp120 ribu dari mengumpulkan barang bekas. Pria yang awalnya enggan diwawancarai oleh awak media ini menyebut, sudah dua tahun berkecimpung di TPA Telaga Punggur.

“Sudah dua tahun. Ya Begini kerjaanya,” katanya.

Menurut dia, uang yang ia dapatkan dalam perhari bisa lebih tergantung kesiapan fisik. Ia mengaku memilih pekerjaan ini karena tidak memiliki ijazah formal. Tak peduli dengan bau busuk, dalam sehari dirinya mampu mengumpulkan 15-20 kilogram barang bekas berbagai variasi.

“Saya biasanya sore saja pagi enggak, soalnya panas saya tidak tahan,” katanya.

Meski begitu, ia sangat berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

“Sebenarnya mau kerja lain tapi kerja apa. Pengen biar terpandang juga,” katanya.

Seorang petugas penjaga TPA Sujoko, mengatakan, setidaknya ada 400 lebih pemulung di lokasi itu. Mereka rata-rata berasal dari kaveling dan dulu yang ada di Punggur.

“Setiap pagi sore mereka ke sini,” katanya.

Dia bilang, perhari setidaknya ada 100 ton lebih sampah yang masuk di TPA. Kondisi ini katanya, masih normal disinggung terkait ketersediaan lahan. Untuk di Batam lahan TPA masih cukup.

“Masih cukup cuma kalau tidak ada antispasi lain seluas apapun lahan bakal penuh juga,” kata dia.

***

 

Pos terkait