PEMULIHAN EKONOMI: Kepri Perlu Sederet Strategi di Tengah Pandemi

Ekonomi Kepri
Pengamat ekonomi dan dosen Universitas Internasional Batam, Suyono Saputra. (Foto: Facebook/Suyono Saputro).

Batam (gokepri.com) – Kepri perlu menyiapkan banyak strategi demi mengatasi dampak pandemi yang menggerus aliran investasi asing. Harus ada perubahan seiring pergeseran rantai ekonomi global.

Langkah banyak negara yang membatasi aktivitas ekonominya demi mengatasi pandemi berdampak pada pergeseran rantai pasokan global, termasuk aliran investasi asing di Kepri.

Menurut laporan World Forum Investment 2020, aliran investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment diproyeksi dapat anjlok pada tahun ini sampai 40 persen.

“Kita masih bersyukur di tengah pandemi arus investasi masih masuk sampai triwulan dua tahun ini,” ungkap Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam (UIB), Suyono Saputra, Senin.

Lihat Juga: INVESTASI ASING: Kepri Tetap Masuk 10 Besar se-Indonesia

Menurut Suyono, pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama penurunan investasi yang terjadi di Kepri seiring langkah pembatasan yang ditempuh banyak negara. “Seluruh aktivitas di negara asal investor juga melambat bahkan terhenti,” sebut dia.

Berdasarkan laporan realisasi penanaman modal asing (PMA) yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, nilai investasi asing yang parkir di Kepri mencapai USD767,5 juta dengan total 988 proyek sepanjang semester pertama 2020.

Realisasi investasi asing itu mengkerek dibandingkan periode enam bulan pertama 2019. Pada semester I/2019, nilai investasi asing yang mengalir ke Kepri mencapai USD906 juta dengan 828 proyek.

Penurunan investasi juga tampak dari nilai investasi meski tak begitu signifikan. Pada triwulan I/2020 investasi asing di Kepri tercatat USD400,1 juta dan pada triwulan II/2020 atau sepanjang periode pandemi Covid-19 turun menjadi USD367,4 juta. Sepanjang triwulan II/2020 ada sebanyak 394 proyek investasi. Adapun nilai investasi asing pada triwulan pertama 2019 tercatat senilai USD455,7 juta. Triwulan II/2019 senilai USD451 juta. (Lihat grafis)

Investasi Kepri
Infografis investasi Kepri. (Gokepri/cg)

Demi merespons penurunan tersebut, Kepri dinilai perlu menyiapkan sejumlah strategi yang fokus dalam perbaikan secara internal demi menarik investasi asing masuk.

Perubahan sistem birokrasi perizinan investasi yang lebih mudah dan cepat harus segera dilaksanakan seiring terjadinya perubahan rantai pasokan global akibat pandemi.

“Yang harus dipersiapkan pada dua triwulan ke depan adalah memperkuat sistem birokrasi perizinan. Untuk perizinan saya yakin BP Batam dan Pemko sudah mempersiapkan agar pelayanan semakin maksimal,” jelas Suyono.

Lihat Juga: Investasi di Batam Berada pada Tren Positif Meski Masa Covid-19

Hanya saja, tak cukup berhenti pada perubahan pelayanan perizinan. Penyelesaian sejumlah masalah di Kepri terutama FTZ Batam juga perlu diperhatikan seperti regulasi lalu lintas barang yang kerap terjadi multitafsir sehingga malah tak aplikatif di lapangan.

Kemudian, penguatan daya saing harus ditingkatkan seperti penyediaan infrastruktur pelabuhan dan akses logistik dari kawasan industri ke pelabuhan. “Proses pengembangan (pelabuhan peti kemas) Batu Ampar harus dipercepat agar kepercayaan investor semakin meningkat,” tutur Suyono.

Lulusan Magister Universitas Trisakti ini juga menyoroti masa depan kawasan perdagangan bebas Batam pasca ditetapkanya dua KEK dan pascapandemi. KEK yang dimaksud adalah KEK Nongsa Digital Park dan KEK MRO Batam Aero Technic. Keduanya akan mengalirkan investasi dengan total Rp22,2 triliun.

Dia mengatakan model pengembangan Batam harus diubah agar lebih inovatif menjawab tuntutan dan kebutuhan global. Pemetaan posisi dan keunggulan daya saing harus dibuat biar semakin jelas arah tujuan pengembangan pulau Batam. “Yang tidak kalah penting adalah visi pengembangan Batam sebagai daerah tujuan investasi. Setelah dua KEK disahkan, selanjutnya apa lagi?,” kata dia. (Cg)

Editor: Candra Gunawan

Pos terkait