Hidup Semakin Mahal, Harga LPG 12 Kg di Batam Naik Jadi Rp175.000

Harga LPG nonsubsidi di Batam
Warga Batam membeli LPG Bright Gas di salah satu minimarket, Selasa 4 Januari 2022. Pertamina menaikkan harga LPG nonsubsidi sejak 25 Desember 2021. (foto: gokepri/Engesti)

Batam (Gokepri.com) – Biaya hidup semakin mahal. Pengeluaran rumah tangga akan membengkak karena harga elpiji nonsubsidi naik sejak 25 Desember 2021. Pelaku usaha pun menyiasati dengan menaikkan harga jual dagangannya.

Tepat pada Hari Natal 2021, harga baru liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi resmi berlaku. PT Pertamina menetapkan kenaikan harga itu untuk dua produk Bright Gas ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram.

Setelah adanya penyesuaian harga berkisar Rp1.600–Rp2.600 per kilogram, harga untuk isi ulang LPG 5,5 Bright Gas berkisar pada harga Rp76.000 atau sekitar Rp13.818 per kilogram, sedangkan harga untuk isi ulang LPG 12 kilogram menjadi Rp163.000 atau sekitar Rp13.583 per kilogram.

HBRL

Di Batam harga baru juga sudah berlaku. Agen penjualan elpiji di sejumlah minimarket mematok harga Rp175 ribu untuk Bright Gas 12 kilogram. Harganya naik terbilang tinggi. Harga sebelumnya Rp140 ribu. Sedangkan elpiji 5,5 kilogram naik menjadi Rp79 ribu dari harga sebelumnya Rp69 ribu.

Kebijakan Pertamina tersebut menuai beragam keluhan dari pelaku usaha yang menggunakan LPG nonsubsidi. Menurut mereka naiknya harga gas nonsubsidi akan menambah pengeluaran.

“Saya jualan pakai gas ini (nonsubsidi). Ya terpaksalah dinaikkan harganya,” kata Fikri yang akrap dipanggil pak Pres, pemilik rumah makan, di bilangan Batam Center, Selasa 4 Desember 2022.

Pres menilai kenaikan harga gas nonsubsidi saat ini sangat memberatkan. Sebab, kondisi ekonomi yang belum membaik. Lain ceritanya harga naik ketika ekonomi masyarakat sedang-sedang sehat-sehatnya.

“Mas bisa lihatlah. Ini yang datang saja tidak ramai. Kalau naik ya jangan jauh kali begitu,” kata dia.

Harga LPG yang baru sendiri beragam. Di salah satu gerai ritel minimarket ternama, harga LPG 12 kilogram dijual Rp174 ribu. Selisih Rp1.000 dari agen kebanyakan.

“Naiknya kebangetan. Biasa Rp142 ribu,” ungkap Anita, warga Tiban 3.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau mengatakan akan melakukan pengawasan terhadap peredaran gas subsidi.

Sebab, dia memperkirakan dengan naiknya harga nonsubsidi berpotensi terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat pengguna elpiji nonsubsidi jadi menggunakan elpiji subsidi.

“Sebenarnya ini langsung aja ke Pertamina. Pemko khusus subsidi tapi kami akan awasi karena kenaikan harga ini berpengaruh,” kata Gustian melalui telpon seluler.

Ia berharap kenaikan gas non subsidi tidak berdampak signifikan di Kota Batam.

Sementara itu, harga untuk LPG subsidi 3 kilogram atau gas melon tetap Rp21.000, karena masih mengacu kepada harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Pekan lalu atau tiga hari setelah Pertamina mengumumkan harga baru LPG nonsubsidi, Anggota DPR RI Mulyanto menegaskan Fraksi PKS menolak rencana kenaikan harga elpiji nonsubsidi oleh Pemerintah.

“PKS dengan tegas menolak kenaikan harga elpiji nonsubsidi,” kata Mulyanto dalam keterangan tertulis, Selasa 28 Desember 2021.

Wakil Ketua Fraksi PKS bidang industri dan pembangunan itu beralasan kenaikan elpiji nonsubsidi akan diikuti kenaikan bahan kebutuhan pokok lainnya. Pasalnya, pengguna LPG nonsubsidi lebih banyak daripada kalangan usaha.

“Bila harga LPG (elpiji) nonsubsidi naik, biaya produksi naik. Selanjutnya harga jual produk juga ikut naik. Ujung-ujungnya masyarakat yang akan menanggung dampak kenaikan ini,” kata Mulyanto menegaskan.

Pos terkait