Rocky Gerung Sebut Jokowi Bagus Sebagai Kepala Keluarga, Bukan Kepala Negara

Rocky Gerung menjadi narasumber dialog etika dan kebijakan publik di hotel Travelodge, Rabu 10 November 2021.
Rocky Gerung menjadi narasumber dialog etika dan kebijakan publik di hotel Travelodge, Rabu 10 November 2021.

Batam (gokepri.com) – Akademisi sekaligus Pengamat Politik Rocky Gerung menyebut Presiden Republik Indonesia Joko Widodo lebih bagus sebagai kepala keluarga, bukan sebagai kepala negara. Hal ini diungkapkannya pada dialog etika dan kebijakan publik di hotel Travelodge, Rabu 10 November 2021.

Menurut Rocky, kritik itu ia sampaikan bukan ke pribadi Jokowi tetapi pada kinerja dan profesinya sebagai politikus.

“Saya mengerti itu, dia sederhana saya mengerti. Tapi Jokowi itu lebih bagus jadi kepala keluarga, bukan kepala negara. Saya tidak ada personal dengan Pak Jokowi dan juga menteri-menteri, tapi ini tentang elektabilitas,” jelas Rocky di lokasi.

Kritik itu ia lontarkan bukan tanpa sebab. Ia mencontohkan pada saat sidang kabinet yang dipimpin oleh Jokowi. Katanya, pada saat sidang itu tidak ada satupun menteri-menterinya yang mengerti apa yang dibahas dalam sidang.

“Menteri-menterinya tidak tahu apa yang disimpulkan, sehingga semuanya bingung. Nggak ngerti apa yang dibahas itu mengapa tidak ada kesimpulan dari sidang kabinet. Itu mengapa menteri kehutanan berbeda pendapat dengan Presiden. Di situ persoalannya,” katanya.

Pihaknya juga menyinggung soal elektabilitas Presiden RI itu. Bahkan, ia menilai survei parameter statistik elektabilitas Jokowi yang masih tinggi adalah bohong. Menurutnya, elektabilitas yang dimiliki Jokowi saat ini hanya pencitraan dan pembohongan publik.

“Kalau ada statistik tentang elektabilitas Pak Jokowi 70 sampai 90 persen, itu bohong. Statistik seperti itu dananya darimana, itukan penelitian publik dan harus dipertanggungjawabkan kepada publik,” katanya.

Menurut Rocky, survei itu benar jika dilakukan dengan menempatkan suara oposisi di dalamnya.

“Sekarang kita mau uji legitimasi itu basisnya adalah etik atau hanya pencitraan. Dengan kata lain, kalau ada kesempatan suara oposisi bisa dihasilkan ulang, ada calon independen, ada 20 persen elektabilitas baru kita tahu yang selama ini adalah pencitraan. Siapa yang paling populer selama ini ya Pak Jokowi,” katanya. (engesti)

Baca juga: Rocky Gerung: Jadikan Kota Batam Ibu Kota Akal

Pos terkait