Batam (gokepri.com) – Pada usia 11 tahun, Faye Simanjuntak sejak 2013 mendirikan Rumah Faye yang fokus membebaskan anak Indonesia dari perdagangan manusia, kekerasan dan eksploitasi. Satu dari beberapa afiliasi Yayasan Del, organisasi nirlaba inisiasi Luhut Binsar Panjaitan.
Yayasan Del selalu memiliki komitmen untuk memajukan kehidupan berbangsa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan terus memperbaiki kesejahteraan, kualitas, dan hak hidup individu maupun kelompok sasaran.
Salah satu fokus dari Yayasan Del adalah anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Hal ini yang menjadi latar belakang didirikannya Rumah Faye, salah satu unit dan afiliasi dari Yayasan Del hasil inisiasi dari Faye Simanjuntak, cucu dari pendiri dan pembina Yayasan Del, Luhut Binsar Pandjaitan dan Devi Simatupang.
Rumah Faye memiliki visi untuk membebaskan anak Indonesia dari perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi. Untuk mewujudkan visinya, Rumah Faye memprakarsai program 3P, yaitu Pencegahan, Pembebasan, dan Pemulihan.
Luhut Binsar Pandjaitan dan Devi Pandjaitan mendirikan Yayasan Del atas dasar kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan, sosial, budaya dan lingkungan di Indonesia.
Mereka percaya bahwa setiap orang, termasuk anak-anak, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.
“Berangkat dari kepedulian Bapak Luhut dan Ibu Devi terhadap anak-anak, Yayasan Del memberikan dukungan penuh kepada Faye untuk mendirikan Rumah Faye yang bergerak di bidang penyelamatan anak dari tindak kekerasan agar mereka memperoleh perlindungan dan hak hidupnya,” papar Bendahara Yayasan Del, Intan Simanjuntak, dalam acara virtual media briefing perkenalan Rumah Faye oleh Yayasan Del, Senin (21/6).
Pada kesempatan yang sama, Pendiri Rumah Faye, Faye Simanjuntak, 18 tahun, menyampaikan latar belakang didirikannya Rumah Faye.
Ia terinspirasi dengan cerita dan pengalaman rekan-rekan relawannya ketika ia menjadi relawan organisasi di daerah rawan perdagangan anak.
“Hal ini yang menggerakan saya untuk memfasilitasi diskusi peer-to-peer mengenai isu tabu seputar hak anak dan perlindungan anak. Seiring berjalannya waktu, kami mengembangkan jangkauan dengan mendirikan Rumah Faye sebagai “Rumah Aman” atau safehouse bagi mereka,” ungkap Faye.
Faye kemudian memaparkan pencapaian Rumah Faye yang memiliki kantor di Jakarta dan Batam,
“Hingga saat ini, kami sudah mendampingi 136 anak perempuan dan perempuan dari perdagangan, kekerasan seksual, dan prostitusi. Saya percaya, jika semakin banyak orang sadar akan isu ini dan mau bergerak untuk peduli dan melindungi orang di sekitarnya, maka perubahan akan terjadi dan anak-anak Indonesia mampu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” jelas dia.
Pegiat Perlindungan dan Pemberdayaan Anak dan Perempuan, RD Chrisanctus Paschalis Saturnus turut menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Rumah Faye.
Pria yang akrab disapa Romo Paschal seringkali terlibat langsung dalam penanganan kasus korban perdagangan manusia di Batam.
“Dari situ, saya melihat bahwa ada begitu banyak korban yang mengharapkan pembelaan. Oleh karena itu, saya mendukung pelayanan yang diberikan Rumah Faye selama ini bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi korban perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi. Advokasi mengenai persoalan tersebut harus terus digiatkan agar semakin banyak orang tergerak hatinya untuk bersatu menangkal kejahatan yang luar biasa ini,” papra dia.
Lebih lanjut, Faye menjelaskan kontribusi Rumah Faye dalam perayaan HUT ke-20 Yayasan Del, yaitu penanaman 1.000 bibit pohon bakau oleh Rumah Faye Batam di Pulau Ngenang, Kecamatan Nongsa.
Sejalan dengan tema besar HUT ke-20 Yayasan Del yaitu “Warisan Untuk Bangsa”, acara penanaman pohon bakau ini mengusung tema “Hijau Bumiku, Aman Masa Depanku”.
Kedua tema tersebut merepresentasikan semangat dan harapan Rumah Faye untuk mewariskan kecintaan dan penghargaan terhadap lingkungan yang nantinya akan menjadi tempat bagi generasi mendatang untuk bertumbuh dan berkembang secara optimal.
Faye menambahkan bahwa kegiatan ini akan melibatkan Pemerintah Daerah, Kader Posyandu, dan Komunitas Perlindungan Anak dan Perempuan (KPAP), Forum Anak, dan masyarakat sekitar Pulau Ngenang.
“Kami berharap lewat kegiatan tersebut, kepedulian masyarakat Indonesia terutama anak-anak terhadap pelestarian lingkungan akan meningkat. Selain itu, kami juga percaya Pulau Ngenang dapat menjadi tempat yang optimal bagi anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang secara optimal,” tutup dia.
Sebagai gambaran, Ssbagai salah satu unit dan afiliasi Yayasan Del, Rumah Faye didirikan oleh Faye Simanjuntak pada tahun 2013. Visi Rumah Faye adalah untuk membebaskan Anak Indonesia dari perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi. Untuk mewujudkan visi tersebut, Rumah Faye melakukan usaha pencegahan, pembebasan, dan pemulihan bagi korban. Sejak tahun 2016 hingga saat ini, Rumah Faye memberikan layanan pendampingan terhadap 136 anak perempuan dan perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi.
Adapun Yayasan Del adalah organisasi nirlaba yang didirikan untuk membawa perubahan dan pembaharuan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Atas inisiasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan bersama Devi Simatupang, Yayasan Del memulai kegiatannya pada tahun 2001 dengan membangun sebuah institusi pendidikan berkualitas global di desa terpencil, Desa Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.
Menghadirkan akses pendidikan berkualitas di daerah terpencil, menjadi satu komitmen awal Yayasan Del dalam upayanya untuk menyetarakan kompetensi individu di daerah.
Yayasan Del kemudian mengembangkan program yang disusun untuk mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Melalui program-program tersebut, kualitas sumber daya manusia Indonesia akan mampu berkembang secara optimal, hingga kelak dapat menjadi generasi penerus yang berguna bagi bangsa dan negara. (Can)
|Baca Juga: Anak di Lingkaran Prostitusi Online, KPAI Minta Kominfo Siapkan Langkah Kuratif









