Bali (gokepri.com) – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengajak industri untuk berinovasi menangkap peluang pasar wisatawan nusantara. Di antaranya dengan memindahkan kegiatan mereka seperti bersekolah atau bekerja dari destinasi karena potensinya yang cukup besar.
Menparekraf Sandiaga di sela aktivitasnya berkantor di Bali menyempatkan hadir di acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I PHRI Bali, Kamis (11/2/2021) di Taman Dedari Restaurant, Ubud. Sandiaga hadir secara fisik untuk mendengar langsung kendala, masukan, serta harapan dari para pelaku usaha hotel dan restoran.
“Salah satu garda terdepan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif adalah PHRI. PHRI adalah mitra pemerintah dalam mempertahankan lapangan kerja yang jumlahnya jutaan dan menangkap berbagai peluang untuk bangkit kembali,” ujar Sandiaga.
Salah satu peluang yang bisa diambil adalah pasar wisatawan nusantara yang ingin memindahkan kegiatan mereka seperti bekerja dan bersekolah dari destinasi. Belakangan, hal tersebut memang menjadi salah satu tren di kalangan masyarakat.
Ia pun mendorong agar industri bisa melihat potensi dan peluang ini dengan baik. Ia memperkirakan ada 5.000 hingga 7.500 wisatawan dari Jabodetabek dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.
“Pasarnya ada. PHRI Pusat sudah melakukan kerjasama dengan airlines dan pihak kami. Kalau sudah ada izin dari Pemprov Bali akan langsung kita eksekusi dalam promosi. Kalau bisa dieksekusi bulan Maret,” ujar Sandiaga.
Menurut Sandiaga, pemerintah akan berupaya maksimal untuk mendukung berbagai program yang akan dijalankan industri. Termasuk menargetkan lebih banyak lagi pelaku usaha hotel dan restoran yang mendapatkan sertifikasi CHSE secara gratis.
“Mudah-mudahan ini menjadi satu harapan inovasi, terobosan baru untuk membangkitkan pariwisata dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya,” ujar Sandiaga.
Ketua PHRI Pusat, Hariyadi Soekamdani, di kesempatan yang sama mengatakan, program bekerja atau bersekolah dari destinasi, khususnya di Bali memang menjadi salah satu program yang akan dijalankan pihaknya dalam waktu dekat.
“Jadi konsepnya bukan liburan, tapi berkegiatan seperti bekerja atau bersekolah dari destinasi. Mereka berkegiatan tapi dengan mendapatkan suasana lingkungan yang berbeda,” ungkap Hariyadi.
PHRI Pusat, kata Hariyadi, telah menjalin kerjasama dengan pihak airlines, dalam hal ini AirAsia. Dengan harga yang kompetitif, ia yakin konsep ini bisa menjadi salah satu program jangka pendek yang bisa dijalankan industri.
“Tinggal sekarang teman-teman di Bali menangkap peluang ini. Kalau kita bisa menyajikan harga yang kompetitif, tentu ini peluang yang besar. Jumlahnya mungkin bisa mencapai 20 ribu bahkan lebih (wisatawan). Potensi pasar ini tentunya bisa dikembangkan ke destinasi lain ke depannya selain Bali,” jelas Hariyadi.
Sementara Ketua PHRI DPD Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) berharap program-program Kemenparekraf dapat diwujudkan secepatnya. Termasuk program-program pinjaman lunak, peningkatan dana hibah pariwisata, sertifikasi CHSE gratis, prioritas vaksinasi, dan lainnya.
“Arahan juga suntikan semangat dari Menparekraf. Saya kira ini menjadi sinar di kegelapan bagi pariwisata Bali untuk menemukan harapan kita bersama. Mudah-mudahan apa yang disampaikan tadi bisa dieksekusi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Sehingga geliat ekonomi di Bali, terjadi transaksi ekonomi di Bali,” ujar Cok Ace yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Bali. (wan)








