BATAM (gokepri) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya membutuhkan bahan pangan dan dapur untuk melayani penerima manfaat. Di Kepulauan Riau, operasional 235 dapur SPPG hingga Juni 2026 menyerap 9.204 tenaga untuk memasak, menyiapkan, mengantar, hingga membersihkan peralatan makan.
Kepala Regional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kepri Anindita Ayu mengatakan ribuan tenaga tersebut tersebar di seluruh tujuh kabupaten/kota di Kepri. Setelah Juni 2026, belum terdapat penambahan dapur SPPG di daerah itu.
“Hingga kini ada 9.204 relawan yang bekerja di 235 dapur operasional di seluruh tujuh kabupaten/kota di Kepri,” kata Anindita di Batam, Kamis 8 Oktober 2026.
Baca Juga: BGN uji coba MBG prasmanan di sekolah untuk perbaiki kualitas
Sebaran 235 dapur SPPG tersebut meliputi Batam sebanyak 141 dapur, Tanjungpinang 24 dapur, Anambas tiga dapur, Lingga tujuh dapur, Natuna 12 dapur, Karimun 29 dapur, dan Bintan 19 dapur.
Jumlah tenaga yang dibutuhkan setiap dapur berbeda sesuai jumlah penerima manfaat yang dilayani. Dengan 9.204 tenaga di 235 dapur, rata-rata terdapat sekitar 39 tenaga untuk setiap dapur, meskipun kebutuhan aktual setiap dapur tidak sama.
Anindita menjelaskan tenaga tersebut mengisi berbagai pekerjaan yang menopang operasional dapur. “Rinciannya ada 323 petugas lapangan, 227 kepala juru masak, 1.226 juru masak, 1.497 tenaga persiapan, 2.144 tenaga pemorsian, 873 pengemudi, 2.313 tenaga pencuci ompreng, 299 tenaga kebersihan dan 302 tenaga keamanan,” paparnya.
Komposisi itu menunjukkan pekerjaan di balik satu dapur MBG tidak berhenti pada kegiatan memasak. Sebagian besar tenaga justru berada pada pekerjaan persiapan dan pemorsian makanan, pengantaran, serta pencucian peralatan.
Kebutuhan tenaga juga mengikuti skala layanan masing-masing dapur. Berdasarkan petunjuk teknis, dapur yang melayani 2.001 hingga 3.000 penerima manfaat membutuhkan 47 relawan.
“Sementara dapur dengan 1.501-2.000 penerima manfaat membutuhkan 40 relawan, 1.251-1.500 penerima manfaat membutuhkan 35 relawan, dan kurang dari 1.250 penerima manfaat membutuhkan 30 relawan,” kata Anindita.
Selain tenaga operasional dapur, setiap SPPG memiliki kepala SPPG, pengawas gizi, dan pengawas keuangan. Struktur tersebut menunjukkan kebutuhan sumber daya manusia dalam program MBG mencakup produksi makanan sekaligus pengawasan dan pengelolaan.
Dari sisi kompensasi, tenaga yang disebut relawan tersebut memperoleh honor dan perlindungan jaminan sosial. “Untuk kompensasi, petunjuk teknis program mencantumkan besaran honor relawan sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari. Para relawan juga mendapatkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan,” kata Anindita.
Perekrutan tenaga tidak dilakukan melalui satu mekanisme terpusat. Yayasan pengelola masing-masing dapur SPPG merekrut tenaga untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya.
“Untuk kontrak kerja relawan biasanya dibuat dengan yayasan dan untuk proses perekrutan relawan juga dilakukan secara mandiri oleh yayasan,” kata Anindita Ayu. ANTARA
Baca Juga: Korupsi MBG Jerat Tersangka Baru Kolonel Budi Utomo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







