NDP Siapkan SWRO untuk Pasok Air Sembilan Pusat Data

Perluasa lahan kek nongsa
Pembangunan salah satu pusat data di kawasan Nongsa, Batam. Foto: WIKA

Sembilan pusat data membutuhkan air 500 Lps. NDP menyiapkan air laut sebagai sumber tambahan.

BATAM (gokepri) – Kebutuhan air sembilan pusat data di Nongsa Digital Park diperkirakan hampir 500 liter per detik, sedangkan alokasi air dari BP Batam maksimal 160 liter per detik. NDP kini menyiapkan fasilitas penyulingan air laut atau Seawater Reverse Osmosis (SWRO) untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Fasilitas itu akan mengolah air laut menjadi air tawar untuk kebutuhan operasional pusat data. Nilai investasi awal yang dibahas NDP diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.

Baca Juga: Pusat Data Makin Marak, Pemerintah Diminta Buat Regulasi soal Air dan Listrik

Direktur Pengelola NDP Batam Peter Vincen mengatakan pembangunan SWRO menjadi bagian dari persiapan kawasan menghadapi kebutuhan air pusat data. Lokasi NDP yang berada di tepi laut juga dinilai memudahkan pembangunan fasilitas tersebut. “Kami harus bangun fasilitas SWRO-nya,” kata Peter di kawasan Nagoya dikutip dari video wawancara KilasKepri via Instagram, Selasa 6 Oktober 2026.

Menurut Peter, kedekatan dengan laut dapat mengurangi kebutuhan infrastruktur pemipaan untuk mengambil bahan baku air. Infrastruktur pipa menjadi salah satu komponen biaya dalam pembangunan fasilitas pengolahan air laut.

Saat ini NDP masih membahas skema kerja sama dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk merealisasikan proyek tersebut. Pembahasan itu mencakup bentuk kerja sama yang akan digunakan dalam pembangunan fasilitas SWRO.

“Kami sekarang tinggal bicarakan dengan BP Batam, kerja samanya bagaimana,” ujar Peter.

Ahli Interkoneksi Energi NDP Nyoman S Astawa mengatakan NDP telah menyiapkan teknologi dan pendanaan untuk proyek tersebut. Ia mengakui kebutuhan investasinya cukup besar karena fasilitas harus dibangun untuk memenuhi kebutuhan air pusat data dalam skala besar. “Dari sisi teknologi dan pendanaan, kami sudah siapkan,” kata Nyoman.

Menurut Nyoman, kebutuhan air yang besar membuat NDP perlu menyiapkan sumber air sendiri. Dengan SWRO, air laut menjadi bahan baku yang kemudian diproses menjadi air untuk kebutuhan operasional pusat data.

Ads bp batam 2026 baru

NDP menyebut BP Batam mengalokasikan air maksimal 160 liter per detik (Lps) untuk seluruh fasilitas pusat data di kawasan tersebut. Sementara itu, kebutuhan operasional sembilan pusat data diperkirakan hampir 500 Lps.

Dengan selisih kebutuhan tersebut, NDP memperkirakan membutuhkan tambahan pasokan sekitar 340 Lps. Tambahan itu yang menjadi dasar pembahasan pembangunan fasilitas SWRO di kawasan NDP.

Peter mengatakan estimasi biaya pembangunan SWRO yang pernah dibahas berada di kisaran Rp1 miliar untuk setiap kapasitas produksi 1 Lps. Dengan kebutuhan tambahan sekitar 300 Lps, ia memperkirakan investasi proyek dapat mencapai ratusan miliar rupiah.

“Kalau 1.000 Lps itu 1 triliun, berarti 1 Lps ya 1 miliar,” ujar Peter.

Namun, angka Rp500 miliar yang disebut Peter merupakan gambaran estimasi awal, bukan nilai investasi final. Besaran investasi masih bergantung pada kapasitas akhir, rancangan fasilitas, teknologi, serta skema pembangunan yang disepakati.

Nyoman mengatakan kebutuhan air pusat data menjadi salah satu persoalan yang perlu dibahas bersama para pemangku kepentingan. Pembahasan itu mencakup ketersediaan air dan listrik yang menjadi kebutuhan utama pengoperasian pusat data.

NDP menyiapkan SWRO agar kebutuhan tambahan air pusat data dapat dipenuhi melalui sumber air laut. Dengan skema tersebut, NDP menyatakan pasokan air untuk pusat data tidak perlu seluruhnya bergantung pada alokasi air dari BP Batam.

Pembangunan fasilitas itu juga masih menunggu pembahasan lebih lanjut antara NDP dan BP Batam. NDP menyatakan teknologi dan pendanaan telah disiapkan, sementara skema kerja sama masih dimatangkan.

Nyoman mengatakan pelibatan berbagai pemangku kepentingan penting untuk membahas kebutuhan infrastruktur pusat data di Batam. Menurut dia, pembahasan bersama diperlukan untuk mencari solusi atas kebutuhan listrik dan air seiring pengembangan kawasan pusat data.

Kapasitas Operasional Pusat Data di Batam

Sebagai gambaran, Batam mencatat pertumbuhan kapasitas pusat data yang tercepat pada paruh pertama 2026. Laporan Cushman & Wakefield Asia Pacific Data Centre Update H1 2026 mencatat kapasitas operasional Batam mencapai 82 megawatt (MW), naik 89 persen dari 43 MW.

Pertumbuhan itu menempatkan Batam sebagai salah satu pasar pusat data dengan laju perkembangan paling agresif di Asia Pasifik. Meski begitu, Batam masih masuk kategori pasar “Emerging” dan skalanya jauh di bawah pusat data di Singapura maupun Johor, Malaysia.

Laporan Cushmand & Wakefield tidak menyebutkan jumlah unit pusat data di Batam, namun berdasarkan data Data Center Map, ada 16 unit pusat data di kota ini, termasuk yang sudah beroperasional maupun dalam proses pembangunan.

Baca Juga: Pusat Data Batam Tumbuh 89 Persen Jadi 82 MW, Jauh di Bawah Jakarta dan Johor

pusat data asia pasifik
GRAFIS: Candra Gunawan

Perkembangan itu ikut mengubah pembagian peran pusat data di Indonesia. Cushman & Wakefield menggambarkan Indonesia sebagai pasar “Dual Hub”, dengan Jakarta sebagai pusat utama kebutuhan domestik dan Batam sebagai lokasi strategis untuk kebutuhan lintas negara.

Jakarta saat ini memiliki kapasitas operasional 356 MW. Selain itu, terdapat 395 MW kapasitas dalam konstruksi dan pipeline proyek mencapai 1.304 MW.

Batam memiliki posisi yang berbeda dari Jakarta. Kedekatannya dengan Singapura membuat pasar Batam lebih terkait dengan kebutuhan perusahaan internasional dan infrastruktur digital yang melayani konektivitas kawasan.

Perbandingan dengan Singapura menunjukkan besarnya peluang sekaligus tantangan Batam. Singapura sudah memiliki kapasitas operasional 1.068 MW, tetapi laporan Cushman & Wakefield mencatat kapasitas yang masih berada dalam tahap perencanaan hanya 207 MW karena keterbatasan lahan dan daya.

Kondisi Singapura membuat pasar di sekitarnya mendapat perhatian pengembang pusat data. Batam dapat menyediakan ruang untuk kebutuhan komputasi berskala besar yang membutuhkan lahan dan energi lebih banyak, meski laporan lebih tepat menggambarkan Batam sebagai hub cross-border daripada sekadar “pelimpahan” kapasitas Singapura.

Persaingan yang lebih langsung terjadi dengan Johor, Malaysia. Kedua wilayah sama-sama berada dekat Singapura dan sama-sama mengembangkan pusat data untuk menangkap permintaan digital regional.

Namun, skala Johor jauh lebih besar daripada Batam. Cushman & Wakefield mencatat Johor memiliki kapasitas operasional 1.110 MW dan kapasitas terencana 2.486 MW, dengan total pipeline yang melampaui 4 gigawatt.

Dengan kapasitas operasional 82 MW, Batam masih berada jauh di belakang Johor. Status Batam dalam Maturity Index juga masih “Emerging”, sedangkan Johor sudah berkembang menjadi salah satu pasar pusat data terbesar di Asia Pasifik.

Johor juga menghadapi perubahan dalam pengembangan pusat data. Laporan mencatat persyaratan keberlanjutan, termasuk ukuran efisiensi penggunaan energi dan air melalui metrik PUE (Power Usage Effectiveness) serta WUE (Water Usage Effectiveness), semakin ketat di pasar tersebut.

Pengembang di Johor juga menghadapi kenaikan biaya utilitas. Kondisi itu menjadi bagian dari dinamika persaingan pusat data di kawasan, tetapi belum berarti investasi otomatis berpindah ke Batam.

Bagi Batam, faktor lahan dan kebijakan tetap menjadi bagian penting dari daya tarik investasi. Insentif jangka panjang serta kebijakan KEK yang berpusat di Nongsa Digital Park menjadi salah satu faktor yang disebut Cushman & Wakefield dalam perkembangan pasar Batam.

Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan posisi Batam dalam industri pusat data. Batam tidak lagi hanya muncul sebagai lokasi potensial, tetapi sudah memiliki kapasitas pusat data yang beroperasi dan terus menarik rencana investasi berbasis AI serta konektivitas internasional.

Meski pertumbuhannya tinggi, angka kapasitas menunjukkan Batam masih berada pada tahap awal dibandingkan pusat-pusat data utama di Asia Tenggara.

Baca Juga: Investasi Pusat Data Batam Ditaksir Sentuh Rp500 Triliun hingga 2028

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait