Legenda AC Milan Franco Baresi meninggal pada usia 66 tahun. Warisannya mengubah cara bertahan dalam sepak bola modern.
BATAM (gokepri) – Franco Baresi, legenda AC Milan dan tim nasional Italia, meninggal dunia pada usia 66 tahun pada Jumat, 31 Juli. Kepergiannya menutup perjalanan salah satu bek paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola yang membangun reputasi lewat kesetiaan, kecerdasan membaca permainan, dan kepemimpinan selama dua dekade.
Baresi bukan sekadar pemain yang mengoleksi trofi. Ia menjadi simbol identitas AC Milan karena menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama klub tersebut, bahkan bertahan ketika Rossoneri dua kali terdegradasi ke Serie B pada awal 1980-an.
Baca Juga: AC Milan Gaet Tijjani Reijnders dari AZ Alkmaar
“Kisah seluruh sejarah AC Milan kini berduka atas wafatnya Franco Baresi,” tulis AC Milan melalui akun resminya di media sosial X.
Selama 20 musim membela Milan, Baresi mempersembahkan enam gelar Serie A dan tiga trofi utama Eropa. Ia juga mengenakan ban kapten selama 15 musim sebelum pensiun pada 1997.
Sebagai bentuk penghormatan, Milan memensiunkan nomor punggung enam miliknya. Ia menjadi pemain pertama dalam sejarah klub yang menerima penghargaan tersebut.
Keistimewaan Baresi tidak hanya diukur dari gelar yang diraih. Di tengah era ketika bek identik dengan permainan keras dan fisik, ia menawarkan pendekatan berbeda melalui kemampuan membaca permainan, mengatur garis pertahanan, serta memulai serangan dari lini belakang.
Peran itu membuatnya dianggap sebagai salah satu pemain yang mendefinisikan ulang posisi sweeper dalam sepak bola modern.
Di level klub, Baresi memimpin lini belakang Milan yang dihuni Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, dan Mauro Tassotti. Kuartet tersebut menyempurnakan sistem garis pertahanan tinggi dan jebakan offside yang menjadi ciri khas Milan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.
Dari sistem itulah Milan mencatat rekor 58 pertandingan tanpa kekalahan di Serie A. Tim asuhan Fabio Capello kemudian dikenal dengan julukan Gli Invincibili atau “The Invincibles”.
Selain sukses di level klub, Baresi mencatat 81 penampilan bersama tim nasional Italia. Ia menjadi bagian dari skuad juara Piala Dunia 1982 dan kemudian mengapteni Italia hingga mencapai final Piala Dunia 1994.
Namun final di Amerika Serikat berakhir pahit. Italia kalah adu penalti dari Brasil, sementara Baresi menjadi salah satu pemain yang gagal mengeksekusi tendangan penalti.
Meski demikian, penampilannya pada laga tersebut tetap dikenang karena mampu bermain penuh selama 120 menit hanya 25 hari setelah menjalani operasi lutut.
Melawan Penyakit
Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatan Baresi sempat menjadi perhatian publik.
Pada tahun lalu, AC Milan mengungkapkan bahwa mantan wakil presiden kehormatan klub itu menjalani operasi untuk mengangkat nodul di paru-parunya. Setelah operasi, ia menjalani pemulihan di bawah pengawasan dokter spesialis kanker.
Meski menghadapi masalah kesehatan, Baresi masih tampil di depan publik. Pada Februari lalu, ia menjadi salah satu pembawa obor dalam upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina bersama mantan rivalnya di Inter Milan dan timnas Italia, Giuseppe Bergomi.
Kepergian Baresi menandai berakhirnya era salah satu ikon terbesar sepak bola Italia. Namun warisan taktik, kepemimpinan, dan kesetiaannya kepada satu klub tetap menjadi rujukan bagi generasi bek setelahnya. REUTERS
Baca Juga: Serbet Kertas Penentu Karier Messi Dilelang Rp4,3 Miliar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






