Dinkop Kepri: Dua Koperasi Merah Putih Berhenti Sementara, Pemerintah Siapkan Skema Bisnis Baru

Riki Rionaldi. (internet)

BATAM (gokepri.com) – Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memastikan operasional dua Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) yang sempat berhenti, yakni di Pulau Buluh, Kota Batam, dan Kelurahan Kijang Kota, Kabupaten Bintan, bukan disebabkan minimnya minat masyarakat, melainkan karena model usaha awal dinilai belum mampu menopang biaya operasional.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kepri, Riki Rionaldi mengatakan kedua koperasi tersebut merupakan koperasi percontohan yang dibangun secara swadaya sebelum pemerintah menerapkan skema baru melalui Agrinas.

“Kami sudah menerima laporan terkait Pulau Buluh maupun Kijang Kota. Keduanya memang berhenti sementara dan sudah kami panggil untuk berdiskusi mencari solusi,” kata Riki, Kamis,

Menurut dia, koperasi yang dibentuk pada tahap awal mengandalkan semangat gotong royong masyarakat tanpa dukungan sistem bisnis yang kini disiapkan pemerintah. Saat itu koperasi belum memperoleh dukungan permodalan maupun ekosistem usaha sebagaimana konsep terbaru yang dijalankan Agrinas.

Ia menegaskan pemerintah tetap mengapresiasi inisiatif masyarakat yang telah lebih dulu menjalankan koperasi secara mandiri.

“Semangat gotong royong masyarakat luar biasa. Mereka mencari tempat sendiri, mengelola usaha sendiri, bahkan belum mendapatkan bantuan modal dari Himbara maupun pihak lain,” ujarnya.

Riki menjelaskan, hasil evaluasi menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap koperasi sebenarnya cukup tinggi. Namun, volume transaksi yang masih rendah membuat keuntungan usaha belum mampu menutup biaya operasional, termasuk biaya sewa bangunan dan gaji karyawan.

Menurutnya, margin keuntungan koperasi juga masih tipis karena rantai distribusi barang belum efisien. Sejumlah komoditas yang banyak diminati masyarakat, seperti LPG bersubsidi, minyak goreng, dan pupuk, belum sepenuhnya dikelola melalui koperasi.

“Bisnisnya berjalan, tetapi margin keuntungannya belum cukup. Putaran usahanya belum mampu menutup biaya operasional. Karena itu perlu intervensi pemerintah agar koperasi lebih sehat secara bisnis,” katanya.

Untuk memperkuat keberlanjutan usaha, Dinas Koperasi Kepri tengah membangun ekosistem baru melalui koperasi sekunder. Skema tersebut diharapkan dapat memangkas rantai distribusi sehingga koperasi memperoleh margin keuntungan yang lebih besar.

Selain itu, pemerintah juga akan mengintegrasikan Koperasi Merah Putih ke berbagai program nasional, termasuk rantai pasok Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penyaluran berbagai barang bersubsidi sebagaimana arahan Presiden.

Riki mencontohkan Koperasi Merah Putih di Desa Pengudang, Kabupaten Bintan, mampu bertahan karena telah menjadi bagian dari rantai pasok kawasan pariwisata Lagoi.

“Koperasi di Pengudang bisa mencatat transaksi sekitar Rp18 juta hingga Rp25 juta per hari karena memasok kebutuhan hotel-hotel di kawasan Lagoi. Model seperti inilah yang ingin diperkuat,” ujarnya.

Sementara itu, koperasi di Kuala Sempang yang memproduksi tepung mocaf juga masih mampu bertahan, meski pendapatan yang diperoleh sejauh ini baru cukup untuk membiayai operasional dan menggaji tiga orang karyawan.

Riki menegaskan hingga kini baru terdapat dua koperasi swadaya yang menghentikan operasional sementara. Adapun koperasi yang dibangun melalui skema Agrinas belum ada yang beroperasi karena masih dalam tahap pembangunan dan penyelesaian sarana pendukung.

Berdasarkan data Dinas Koperasi Kepri, saat ini terdapat 407 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Kepulauan Riau. Dari jumlah tersebut, 271 koperasi telah memiliki lahan, sedangkan 136 koperasi masih dalam proses penyediaan lahan.

Untuk pembangunan gerai, sebanyak 25 koperasi telah menyelesaikan pembangunan hingga 100 persen, 124 koperasi masih dalam proses pembangunan, dan 258 koperasi belum memulai pembangunan gerai.

Riki mengatakan pemerintah menargetkan sebagian gerai yang telah rampung dapat mulai diserahterimakan secara bertahap setelah dilengkapi sarana pendukung, seperti rak dagang, mesin kasir, kamera pengawas (CCTV), hingga kendaraan operasional.

“Kami optimistis koperasi-koperasi ini akan lebih kuat ketika seluruh ekosistem bisnis, rantai pasok, dan dukungan pemerintah mulai berjalan. Masyarakat Kepri membutuhkan Koperasi Merah Putih, sehingga tugas kami memastikan koperasi tidak hanya berdiri, tetapi juga sehat dan berkelanjutan,” kata Riki.

Penulis : Engesti

Pos terkait