BATAM (gokepri.com) – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepulauan Riau menyebut kesenjangan kompetensi antara pencari kerja dan kebutuhan industri masih menjadi tantangan utama dalam menekan angka pengangguran, terutama di kawasan industri Batam.
Kepala Disnakertrans Kepri Diky Wijaya mengatakan persoalan ketenagakerjaan saat ini tidak lagi semata-mata disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaan, tetapi karena banyak pencari kerja belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
“Saat ini upaya menurunkan angka pengangguran harus dimulai dari peningkatan kompetensi masyarakat. Industri di Batam masih membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian tertentu, tetapi jumlah tenaga yang memenuhi standar tersebut masih terbatas,” kata Diky, Kamis.
Ia mencontohkan, sektor galangan kapal, fabrikasi, hingga manufaktur berat masih membutuhkan tenaga las bersertifikat 4G Flux Cored Arc Welding (FCAW). Namun, ketersediaan tenaga kerja dengan sertifikasi tersebut belum mampu memenuhi permintaan industri.
Menurut Diky, perkembangan dunia kerja juga telah mengubah pola rekrutmen perusahaan. Ijazah pendidikan formal tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan, melainkan harus didukung dengan kompetensi teknis dan sertifikasi profesi.
“Hari ini ijazah saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah peningkatan keterampilan, kompetensi, dan sertifikasi. Perusahaan menginginkan tenaga kerja yang siap bekerja tanpa harus menjalani pelatihan dasar lagi,” ujarnya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Disnakertrans Kepri menyusun program pelatihan berbasis kebutuhan industri atau tailor made training. Materi pelatihan dirancang berdasarkan hasil komunikasi dengan pelaku usaha sehingga kompetensi yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan standar yang dibutuhkan perusahaan, sekaligus meningkatkan peluang lulusan pelatihan untuk langsung terserap di dunia industri.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kepulauan Riau Aman menilai program pelatihan dan sertifikasi berbasis kebutuhan industri merupakan langkah strategis dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal.
Menurutnya, Batam masih memiliki peluang besar untuk menyerap tenaga kerja di sektor manufaktur, fabrikasi, dan galangan kapal, asalkan kualitas sumber daya manusia mampu mengikuti kebutuhan industri.
“Kami berharap peserta yang mengikuti pelatihan ini dapat segera bekerja di perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga las bersertifikat,” kata Aman.
Ia menambahkan DPRD Kepri akan terus mendukung penguatan anggaran untuk program pelatihan vokasi yang disusun berdasarkan kebutuhan industri. Dengan demikian, lulusan pelatihan tidak hanya memperoleh sertifikat kompetensi, tetapi juga memiliki peluang nyata untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri yang terus berkembang di Batam.
Penulis: Engesti







