BATAM (gokepri.com) – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) akan menggelar Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 pada 19–21 September 2026. Untuk pertama kalinya, festival nasional ini berlangsung di dua kota, yakni Batam dan Tanjungpinang, dengan AJI Kota Batam dan AJI Kota Tanjungpinang sebagai tuan rumah.
Festival hari pertama dan kedua akan dipusatkan di Politeknik Negeri Batam, sedangkan hari ketiga berlangsung di Pulau Penyengat, Tanjung Pinang, kawasan bersejarah dalam perkembangan peradaban Melayu.
Festival Media merupakan agenda tahunan AJI Indonesia yang mempertemukan jurnalis, akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, komunitas, pegiat seni, dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat kebebasan pers, demokrasi, dan hak publik atas informasi.
Selat Malaka sebagai Tema Festival
Ketua AJI Kota Batam Yogi Eka Sahputra mengatakan, Selat Malaka dipilih sebagai identitas festival karena Batam dan Tanjung Pinang tepat berada di kawasan ini. Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan legendaris. Sekaligus ruang bertemunya berbagai isu strategis, mulai dari perdagangan internasional, lingkungan hidup, masyarakat pesisir, keamanan maritim, migrasi, hingga kebebasan pers dan hak asasi manusia di Asia Tenggara.
“Makanya Festival ini tidak hanya sekadar acara, ia menjadi cara menjaga isu-isu tersebut agar terus menjadi perhatian publik,” kata Yogi, Jumat (3/7/2026).
Seminar, Workshop, dan Panggung Budaya
Festival akan menghadirkan Seminar Nasional bertema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara” serta 12 workshop paralel selama dua hari. Topik yang dibahas meliputi peningkatan kapasitas jurnalis, transisi energi, perubahan iklim, lingkungan hidup, masyarakat adat, pulau-pulau kecil, keamanan digital, hingga kesejahteraan pekerja media.
Selain forum diskusi, festival juga menghadirkan panggung seni budaya, bazar UMKM, serta pameran komunitas dan mitra. Beragam kesenian Melayu, seperti permainan gasing, Tari Mak Yong, dan Tari Dangkong, akan ditampilkan sebagai bagian dari promosi kekayaan budaya Kepulauan Riau.
Dihadiri Perwakilan 40 AJI Kota
Ketua Panitia Festival Media Selat Malaka 2026, Adam Zulfikar, mengatakan festival akan diikuti perwakilan 40 AJI Kota dari Aceh hingga Papua, serta akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, komunitas, pegiat budaya, lembaga non pemerintah, dan masyarakat umum. Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan sebelumnya, Festival Media mampu menarik 2.000–4.000 pengunjung.
“Kami juga sudah bekerjasama dengan berbagai kampus di Batam untuk keterlibatan mahasiswa dan pengajar mereka di acara ini, kami juga bekerjasama dengan media di Batam dan Tanjungpinang, sebagai media partner acara ini,” ujar Adam.
Pertunjukan seni, bazar UMKM, dan area pameran juga dihadirkan dalam rangkaian Fesmed Selat Malaka. Semua kegiatan ini dapat diakses publik secara gratis. Sementara itu, peserta seminar dan workshop dapat mendaftar melalui https://fesmedselatmalaka.org sesuai kelas yang diminati.
Persiapan terus dimatangkan agar festival menjadi ruang kolaborasi yang memperkuat demokrasi, kebebasan pers, dan perlindungan hak asasi manusia. “Kami berharap Festival Media Selat Malaka menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan dan kolaborasi yang memberi manfaat, tidak hanya bagi dunia jurnalistik, tetapi juga bagi masyarakat luas,” tutup Adam.
Pulau Penyengat Jadi Lokasi Sarasehan Puncak Fesmed Selat Malaka 2026, AJI: Pertemuan Sejarah dan Masa Depan Pers
Pulau Penyengat resmi dipilih sebagai lokasi pelaksanaan sarasehan yang menjadi puncak Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026. Pemilihan pulau bersejarah ini bukan tanpa alasan:
Penyengat menyimpan nilai sejarah dan warisan intelektual besar bagi perkembangan peradaban Melayu dan bangsa Indonesia.
Ketua AJI Tanjungpinang, Sutana, mengatakan Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah, melainkan pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga yang dahulu wilayah kekuasaannya membentang dari Riau, Lingga, Johor, Pahang, hingga Singapura.
“Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Dari pulau kecil inilah lahir banyak pemikiran besar yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu sekaligus turut membentuk perkembangan bahasa Indonesia,” kata Sutana.
Di jantung Tanjungpinang, Pulau Penyengat menyimpan warisan intelektual yang jarang disorot publik luas. Pada abad ke-19, tepatnya tahun 1895, berdiri Rusydiah Klub di pulau ini — embrio perkumpulan ilmu pengetahuan yang meletakkan akar tradisi berpikir kritis dan menjadi cikal bakal pers di Kepulauan Riau.
Menurut Sutana, pelaksanaan Fesmed di Pulau Penyengat menegaskan kembali bahwa pers adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi ilmu pengetahuan dan kemerdekaan berpikir. Rusydiah Klub sendiri dikenal sebagai organisasi intelektual pertama di Nusantara yang menjadi pelopor tradisi menulis dan penyebaran ilmu pengetahuan di kawasan Melayu.
“Sehingga pelaksanaan Fesmed di Penyengat kami menyebutnya sebagai pertemuan antara sejarah dan masa depan pers Indonesia,” tuturnya.
Dua Agenda Utama: FGD dan Sarasehan AJI Se-Indonesia
Pelaksanaan Fesmed di Pulau Penyengat akan difokuskan pada dua agenda utama, yakni Focus Group Discussion (FGD) dan sarasehan AJI Kota se-Indonesia. Sarasehan termasuk inti dari Festival Media, menguatkan solidaritas antar jaringan jurnalis dan masyarakat.
Selain itu, FGD juga dihadirkan di hari terakhir bertujuan merumuskan gagasan dan rekomendasi bersama — melibatkan AJI, insan pers, organisasi non-pemerintah, hingga pemerintah daerah — untuk mendorong Pulau Penyengat menjadi Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.
Dasar pengajuan ini bertumpu pada kekayaan warisan benda di Penyengat, seperti situs, bangunan, dan struktur bersejarah, serta warisan tak benda seperti pantun dan Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, pahlawan nasional yang lahir dan berkarya di pulau tersebut.
Sosok Raja Ali Haji menjadi salah satu alasan kuat di balik dorongan status warisan dunia ini. Melalui karya-karya monumentalnya — Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa yang dikenal sebagai kamus bahasa Melayu modern pertama, serta Tuhfat al-Nafis — Raja Ali Haji memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi dasar lahirnya bahasa Indonesia. (r)









