Surplus Telur, Pemerintah Bidik Ekspor ke Malaysia dan Singapura

Harga telur 2026
Deretan ayam petelur berada di kandang produksi pada salah satu sentra peternakan unggas. Foto: Kementan

JAKARTA (gokepri) — Pemerintah mulai mengandalkan ekspor sebagai salah satu instrumen menjaga harga pangan di dalam negeri. Di tengah produksi beras yang melimpah dan tren penurunan harga telur ayam ras, pemerintah mempercepat pembahasan ekspor beras ke Malaysia dan Singapura sekaligus membuka peluang ekspor telur ke Singapura agar hasil produksi petani dan peternak terserap pasar.

Strategi tersebut menunjukkan perubahan pendekatan pemerintah dalam mengelola surplus pangan. Produksi yang melebihi kebutuhan domestik tidak semata disimpan sebagai cadangan, tetapi juga diarahkan memasuki pasar regional sehingga tekanan terhadap harga di tingkat produsen dapat dikurangi.

Langkah pertama ditempuh melalui ekspor beras. Perum Bulog mendapat arahan dari Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk mempercepat pembahasan teknis dengan Malaysia dan Singapura.

Baca Juga: Ekspor ke Singapura, Kepri Buktikan Unggas Perbatasan Berdaya Saing

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan negosiasi masih berfokus pada kepastian harga serta skema perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak.

“Kami kejar terus supaya mereka siap terima kami sehingga ada kepastian harga,” ujar Rizal di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Menurut Rizal, hingga kini Pemerintah Malaysia belum menetapkan waktu pertemuan karena masih menyelesaikan urusan internal. Bulog memilih terus membangun komunikasi sambil menunggu kesiapan tersebut.

Rizal menegaskan pemerintah tidak ingin ekspor justru merugikan petani Indonesia. Arahan Presiden Prabowo Subianto, kata dia, menempatkan kesejahteraan petani sebagai pertimbangan utama dalam penentuan harga ekspor.

Rencana ekspor beras ke Malaysia mencapai 200.000 ton dan masih berada pada tahap negosiasi harga. Bulog bersama Kementerian Pertanian juga menyiapkan kunjungan ke Sarawak untuk melanjutkan pembahasan.

Selain Malaysia, pemerintah juga membahas ekspor 10.000 ton beras ke Singapura. Rencana itu mengemuka dalam pertemuan bilateral Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu pada akhir Juni lalu.

Tekanan Harga Telur

Upaya memperluas pasar ekspor juga ditempuh pada komoditas telur ayam ras. Langkah ini muncul ketika harga telur di tingkat peternak terus melemah akibat pasokan yang melimpah.

Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Nawandaru Dwi Putra mengatakan Singapura menjadi negara yang paling berpeluang membuka akses impor telur ayam ras dari Indonesia.

“Saat ini memang ada potensi komoditas telur ayam ras bisa terbuka untuk kita ekspor ke Singapura,” ujar Nawandaru dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (13/7/2026).

Selain Singapura, pemerintah menjajaki peluang ekspor ke Vietnam, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Namun, realisasinya bergantung pada kemampuan pelaku usaha memenuhi standar keamanan pangan serta persyaratan teknis negara tujuan.

Kemendag juga memperbaiki distribusi di dalam negeri agar produksi dari daerah surplus dapat mengalir ke wilayah yang masih mengalami harga tinggi. Koordinasi melibatkan pemerintah daerah, dinas terkait, asosiasi, dan koperasi peternak.

Dorongan membuka pasar ekspor beriringan dengan tren penurunan harga sejumlah komoditas pangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata harga telur ayam ras pada pekan kedua Juli 2026 mencapai Rp 29.201 per kilogram. Angka tersebut turun 3,34 persen dibandingkan Juni dan berada di bawah Harga Acuan Penjualan sebesar Rp 30.000 per kilogram.

Sebanyak 70 persen wilayah Indonesia juga mencatat penurunan Indeks Perkembangan Harga telur ayam ras. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga terus menyusut selama empat pekan terakhir.

“Secara umum harga telur ayam ras sudah relatif membaik dan dalam tren menurun,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.

Tren serupa terjadi pada daging ayam ras. Harga rata-rata nasional turun menjadi Rp 37.273 per kilogram atau lebih rendah daripada Harga Acuan Penjualan sebesar Rp 40.000 per kilogram.

Sebanyak 56,67 persen wilayah Indonesia mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga daging ayam ras. Meski demikian, disparitas harga antarwilayah masih tinggi. Di Kabupaten Intan Jaya, Papua, harga telur mencapai Rp 90.000 per kilogram, sedangkan harga daging ayam ras menyentuh Rp 100.000 per kilogram. ANTARA/BISNIS.COM

Baca Juga: Indonesia Surplus Produksi Telur dan Ayam, Ancang-Ancang Ekspor ke Singapura

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait