BATAM (gokepri) – Tuberkulosis (TB) masih menjadi persoalan kesehatan yang belum tuntas di Kota Batam. Hingga pertengahan 2026, Dinas Kesehatan Kota Batam menemukan 1.870 kasus penyakit yang menyerang paru-paru dan menular melalui udara itu dari ribuan warga yang menjalani pemeriksaan.
Temuan tersebut menunjukkan penularan masih berlangsung di tengah tingginya mobilitas penduduk kota industri itu. Tantangannya bukan hanya mengobati pasien yang telah terdiagnosis, melainkan juga menemukan penderita lebih awal sebelum menularkan penyakit kepada anggota keluarga, rekan kerja, maupun lingkungan sekitarnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Batam Meldasari mengatakan sebagian besar pasien yang ditemukan masih masuk kategori TB sensitif obat. Namun, terdapat pula kasus TB resisten obat yang membutuhkan penanganan lebih kompleks dan masa pengobatan lebih panjang.
Baca Juga: Tiban Baru dan Tiban Lama Jadi Pelopor Kelurahan Siaga TBC
“Secara kumulatif hingga Juni 2026 jumlah terduga TB yang diperiksa sebanyak 13.239 orang,” ujar Meldasari, Senin (22/6/2026).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Batam, dari seluruh pasien yang terkonfirmasi, 1.839 kasus merupakan TB sensitif obat, sedangkan 31 kasus tergolong TB resisten obat. Kondisi terakhir menjadi perhatian karena pengobatan tidak dapat menggunakan regimen standar dan membutuhkan pengawasan lebih ketat.
Upaya menemukan kasus aktif terus diperluas melalui 22 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan. Pemerintah Kota Batam juga mengoperasikan 11 unit Tes Cepat Molekuler (TCM), teknologi yang mampu mendeteksi bakteri penyebab TB sekaligus mengidentifikasi kemungkinan resistensi obat dalam waktu relatif singkat.
Peralatan tersebut tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain Puskesmas Tanjung Sengkuang, Sambau, Mentarau, dan Baloi Permai. Ketersediaan alat diagnosis menjadi faktor penting karena keterlambatan penemuan kasus sering kali berujung pada meluasnya penularan di lingkungan tempat tinggal pasien.
Selain mengandalkan layanan di fasilitas kesehatan, pendekatan berbasis komunitas mulai diperkuat. Salah satunya dijalankan Puskesmas Sekupang melalui program Jumper TB atau Jumat Periksa TB serta Layanan Putus, layanan terpadu yang menggabungkan pemeriksaan penyakit tidak menular dan TB.
Melalui kegiatan tersebut, petugas kesehatan mendatangi lingkungan warga untuk menyediakan pemeriksaan kesehatan tanpa biaya. Warga dapat memeriksa tekanan darah, gula darah, status gizi, hingga menjalani skrining TB melalui pemeriksaan dahak.
Kepala Puskesmas Sekupang Indriani Ningsih menilai pendekatan jemput bola diperlukan karena tidak semua warga memiliki waktu atau kesempatan mengakses layanan kesehatan secara rutin.
“Dengan turun langsung ke lingkungan masyarakat, kami berharap kasus TB maupun penyakit tidak menular dapat ditemukan lebih dini sehingga penanganannya lebih cepat,” kata Indriani.
Menurut dia, kesadaran masyarakat masih menjadi salah satu faktor penting dalam pengendalian TB. Banyak penderita baru memeriksakan diri setelah mengalami gejala dalam waktu cukup lama, padahal penularan dapat terjadi sejak awal melalui percikan udara saat batuk atau bersin.
Karena itu, warga yang mengalami batuk berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau keluhan lain yang mengarah pada TB dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Data Dinas Kesehatan menunjukkan sepanjang 2025 terdapat 4.558 kasus TB yang ditemukan di Batam, sedangkan pada 2024 mencapai 5.072 kasus. Perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya belum dapat digunakan untuk membaca tren karena pencatatan 2026 baru berlangsung hingga bulan keenam. ANTARA
Baca Juga: Mengapa Pengobatan TB di Batam Belum Capai Target
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








