BATAM (gokepri.com) – Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hang Nadim terus memperkuat upaya pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Program KIMARA (Kampung Inovasi Sampah Permata Bandara) yang dijalankan bersama Unit Bank Sampah (UBS) RT One Berseri di Kota Batam, Kepulauan Riau.
Program yang telah berjalan selama empat tahun itu mendorong masyarakat mengelola sampah secara terpadu melalui pendekatan ekonomi sirkular dan prinsip zero waste, sehingga limbah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan pembinaan yang dilakukan AFT Hang Nadim bertujuan menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
“Melalui pembinaan UBS RT One Berseri, kami mendorong masyarakat untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Program KIMARA ini memberikan dampak lingkungan yang positif, membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya kelompok ibu rumah tangga,” kata Fahrougi.
Ia menjelaskan kelompok binaan tersebut kini mampu mengelola berbagai jenis sampah organik maupun anorganik secara produktif.
Setiap bulan, UBS RT One Berseri mengolah sekitar 41 kilogram limbah buah dari kedai buah dan usaha jus menjadi eco enzyme. Selain itu, sebanyak 231 kilogram sampah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai pakan maggot dan 39 kilogram lainnya diolah menjadi kompos.
Tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, kelompok tersebut juga mengembangkan budidaya hidroponik di lingkungan permukiman. Hasil panen sayuran hidroponik mencapai sekitar 20 kilogram per bulan dan dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Menurut Fahrougi, keberhasilan program tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi solusi lingkungan sekaligus sumber ekonomi baru bagi warga.
Sementara itu, pengelolaan sampah anorganik juga menunjukkan hasil yang signifikan. Kelompok binaan mampu mengumpulkan dan memilah hingga tiga ton sampah anorganik setiap bulan untuk kemudian dijual kepada perusahaan daur ulang.
“Dari seluruh aktivitas tersebut, kelompok binaan ini berhasil mengurangi timbunan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir serta menciptakan sumber pendapatan tambahan yang mendukung perekonomian anggota UBS RT One Berseri,” ujarnya.
Anggota UBS RT One Berseri, Nella Nelfia, mengaku pembinaan yang diberikan Pertamina telah membantu kelompoknya menjadi lebih mandiri dalam mengelola sampah dan mengembangkan usaha berbasis lingkungan.
Menurut dia, program tersebut membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi hambatan bagi masyarakat untuk menghasilkan produk yang bernilai ekonomi.
“Pertamina sudah membina kami selama empat tahun, sekarang kami semakin mandiri dalam mengelola sampah dan pendapatan kami semakin meningkat.
Melalui program ini, kami belajar bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi alasan untuk tidak menanam sayuran. Dengan lahan sederhana di rumah, kami dapat membudidayakan sayuran secara hidroponik,” katanya.
Program KIMARA yang dijalankan Pertamina tersebut juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pengurangan sampah, daur ulang, serta pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.
Melalui program tersebut, Pertamina berharap dapat terus mendorong terbentuknya masyarakat yang mandiri, produktif, dan peduli terhadap lingkungan, sekaligus memperkuat budaya pengelolaan sampah berkelanjutan di Kota Batam. (r)









