Pengembang Minta Harga Rumah Subsidi Naik

Rumah subsidi di Batam
Deretan rumah subsidi di Batam. Foto: Kementerian PUPR

Harga material dan logistik terus naik. Pengembang mulai minta harga rumah disesuaikan.

JAKARTA (gokepri) – Kenaikan harga material bangunan dan biaya logistik mulai menekan sektor rumah subsidi. Sejumlah pengembang mengusulkan penyesuaian harga jual rumah subsidi sedikitnya 10 persen agar proyek tetap berjalan dan kualitas bangunan tidak menurun.

Tekanan biaya muncul di tengah gejolak nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan bakar minyak, dan pembatasan penambangan material alam di sejumlah daerah. Kondisi itu mendorong lonjakan harga pasir, batu, besi baja, hingga ongkos distribusi.

HBRL

Baca Juga: Harga Rumah di Batam Melambung, Kenaikan Tertinggi Kedua di Indonesia

Tenaga Ahli Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Harry Endang Kawidjaja, mengatakan biaya struktur bangunan saat ini naik rata-rata sekitar 20 persen. Kenaikan tertinggi terjadi pada material alam seperti pasir dan batu yang mencapai 50 persen.

“Sudah banyak yang teriak naik karena peningkatannya sekitar 20 persen di bangunan saja. Yang paling tinggi di material alam sampai 50 persen,” ujar Endang dalam diskusi Inovasi Pembiayaan Perumahan bagi Pekerja Informal, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, komponen bangunan menyumbang sekitar separuh dari total biaya pembangunan rumah subsidi. Karena itu, kenaikan biaya konstruksi otomatis mengerek biaya pengembangan secara keseluruhan.

Selain harga material, pengembang juga menghadapi kenaikan biaya tenaga kerja dan distribusi akibat naiknya harga solar. Tekanan tersebut dinilai mulai mempersempit margin keuntungan pengembang rumah subsidi.

Endang menilai penyesuaian harga jual menjadi pilihan realistis untuk menjaga keberlanjutan proyek rumah subsidi di lapangan. Jika margin keuntungan terlalu tipis, sebagian pengembang dikhawatirkan beralih ke proyek rumah komersial yang dianggap lebih menguntungkan.

“Minimal 10 persen untuk menjaga profit margin. Kalau profit terlalu tipis, nanti banyak pengembang beralih ke komersial dan itu bisa mengurangi realisasi target rumah subsidi,” kata Endang.

Persoalan itu tidak hanya berdampak pada pengembang, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah. Ketika biaya pembangunan terus naik tanpa penyesuaian harga, pengembang berisiko menekan ukuran bangunan atau menurunkan kualitas material sebagai langkah efisiensi.

Menurut Endang, sebagian pengembang mulai mempertimbangkan pengurangan luas bangunan dan spesifikasi rumah agar proyek tetap berjalan.

“Nanti arahnya bisa mengecilkan ukuran unit atau bahkan menurunkan kualitas. Menaikkan harga itu juga tidak otomatis membuat keuntungan pengembang naik,” ujarnya. BISNIS.COM

Baca Juga: Harga Rumah Subsidi Naik Per Juni 2023

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait