Konsistensi investasi dan pembinaan berjenjang membawa Como menembus Liga Champions.
BATAM (gokepri) – Tampil di Liga Champions musim depan membuat Como 1907 menjadi salah satu kisah paling menarik di Liga Italia musim ini. Klub yang diakuisisi Djarum Group itu tidak hanya memastikan tiket kompetisi Eropa, tetapi juga menembus papan atas Serie A hanya dalam dua musim setelah promosi.
Kemenangan 4-1 atas Cremonese pada laga terakhir memastikan Como menutup musim di posisi keempat klasemen akhir dengan 71 poin. Hasil itu sekaligus menyingkirkan AC Milan dan Juventus dari persaingan menuju kompetisi elite Eropa.
Baca Juga: Varane Gabung Klub Serie A Como
Bagi publik Indonesia, perkembangan Como bukan sekadar cerita olahraga. Klub yang sempat bangkrut pada 2018 itu kini menjadi simbol pembangunan jangka panjang di sepak bola Eropa melalui investasi yang bertahap.
Jarak Como dengan AC Milan dan AS Roma juga tidak terpaut jauh. Kedua tim tersebut berada di posisi ketiga dan keempat klasemen, sehingga persaingan menuju Liga Champions berlangsung hingga pekan terakhir.
Lolos ke kompetisi elite Eropa, nama Indonesia akan lebih sering muncul dalam siaran sepak bola internasional. Hal itu karena kepemilikan Como berada di bawah Djarum Group, kelompok usaha asal Indonesia yang selama ini dikenal luas lewat pembinaan bulu tangkis.
Melaju dengan Fondasi Bertahap
Capaian Como musim ini cukup menonjol dari sisi statistik. Klub asuhan Cesc Fabregas itu menjadi salah satu tim dengan jumlah kekalahan paling sedikit di Serie A.
Produktivitas mereka juga menonjol. Como mencetak 65 gol sepanjang musim, melampaui catatan sejumlah klub besar seperti AC Milan, AS Roma, Juventus, bahkan Napoli.
Pertahanan Como pun tampil solid. Hingga menjelang akhir musim, mereka baru kebobolan 28 gol. Angka itu lebih baik dibandingkan Inter Milan yang telah kemasukan 35 gol.
Kombinasi serangan produktif dan lini belakang yang disiplin membuat selisih gol Como menjadi salah satu yang terbaik di liga.
Pencapaian itu terlihat kontras jika melihat perjalanan klub dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, Como berada dalam kondisi bangkrut sebelum diambil alih Djarum Group pada 2019.
Saat akuisisi berlangsung, Como masih bermain di Serie D atau kasta kelima sepak bola Italia.
Klub tersebut kemudian menjuarai Serie D dan promosi ke Serie C2. Setelah satu musim, Como naik lagi ke Serie C dan kemudian promosi ke Serie B pada 2021.
Perjalanan menuju Serie A tidak berlangsung mulus. Como sempat berjuang di papan bawah Serie B sebelum akhirnya finis sebagai runner-up dan promosi pada musim 2024.
Artinya, Como baru menjalani dua musim di Serie A. Namun, dalam waktu singkat mereka sudah masuk kelompok atas kompetisi.
Kebangkitan Como berbeda dengan pola investasi sejumlah klub Eropa yang bertumpu pada belanja besar sejak awal.
Djarum Group memilih pendekatan bertahap. Klub dibangun dari level bawah, memperkuat struktur, lalu menaikkan kualitas skuad secara perlahan.
Pada bursa transfer musim panas lalu, Como mendatangkan sebelas pemain baru. Namun, lima di antaranya merupakan pemain pinjaman yang dipermanenkan.
Transfer terbesar mereka datang melalui perekrutan Jesus Rodriguez dari Real Betis dengan nilai sekitar 22,5 juta euro.
Sementara pada bursa transfer Januari, Como hanya menambah dua pemain dengan nilai pembelian tertinggi berada di kisaran 12 juta euro.
Strategi itu membuat pertumbuhan klub tetap terkendali dan tidak terlalu agresif terhadap struktur keuangan.
Peran Fabregas juga menjadi faktor penting. Mantan gelandang tim nasional Spanyol itu bukan hanya pelatih, tetapi juga pemegang saham minoritas klub bersama mantan pemain Arsenal, Thierry Henry.
Reputasi Fabregas sebagai pelatih memang belum sebesar kariernya ketika bermain bersama Arsenal, Barcelona, Chelsea, Monaco, dan tim nasional Spanyol. Namun, pendekatan taktis dan pengembangan pemain memberi warna baru bagi Como.
Kolaborasi antara investasi jangka panjang dan penguatan tim secara bertahap membuat Como berkembang lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
Kompetisi Eropa akan menghadirkan ujian baru bagi Como. Jika tampil di Liga Champions ataupun Liga Europa, kebutuhan terhadap kedalaman skuad akan meningkat.
Klub perlu menambah pemain dengan kualitas lebih tinggi agar mampu bersaing di dua kompetisi sekaligus tanpa kehilangan performa di Serie A.
Tantangan tersebut akan menentukan apakah Como hanya menjadi kejutan sesaat atau berkembang menjadi kekuatan baru di sepak bola Italia.
Sejauh ini, perjalanan mereka menunjukkan satu hal: perubahan besar tidak selalu lahir dari langkah yang cepat. Dalam kasus Como, kemajuan justru dibangun lewat proses bertahap yang konsisten.
Baca Juga: Cesc Fabregas Resmi Bergabung Como, Klub Serie B Milik Grup Djarum
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









