JAKARTA (gokepri) — Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI meminta maaf atas polemik penilaian dalam babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat. MPR menyatakan akan mengevaluasi kinerja dewan juri dan sistem perlombaan setelah insiden tersebut memicu kritik di media sosial.
Polemik muncul saat sesi pertanyaan rebutan pada final lomba di Pontianak, Sabtu (9/5/2026). Sejumlah warganet menyoroti perbedaan penilaian terhadap jawaban peserta yang dinilai serupa, tetapi memperoleh keputusan berbeda dari dewan juri.
Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman mengatakan, MPR menyesalkan insiden tersebut dan akan menindaklanjuti evaluasi terhadap proses penjurian.
Baca Juga: Video Final LCC Empat Pilar MPR RI Viral, Ini Respon MPR RI
“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” ujar Akbar dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Menurut Akbar, dewan juri seharusnya bersikap objektif dan responsif terhadap keberatan peserta. Ia juga menilai terdapat persoalan teknis dalam pelaksanaan lomba, termasuk tata suara dan mekanisme penyampaian keberatan.
“Saya melihat lomba cerdas cermat ini perlu evaluasi supaya lebih baik. Jangan ada lagi kejadian seperti ini,” kata Akbar.
Final LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat mempertemukan SMA Negeri 1 Pontianak, SMA Negeri 1 Sambas, dan SMA Negeri 1 Sanggau.
Berdasarkan tayangan lomba di kanal YouTube MPRGOID, polemik bermula dari pertanyaan mengenai lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Regu C dari SMA Negeri 1 Pontianak menjawab, “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”
Namun, dewan juri mengurangi nilai regu tersebut sebesar lima poin. Pertanyaan kemudian dilempar kepada regu lain.
Regu B dari SMA Negeri 1 Sambas memberikan jawaban yang pada pokoknya serupa. Dewan juri lalu menyatakan jawaban itu benar dan memberikan nilai penuh.
“Ya, inti jawabannya sudah benar. Nilai sepuluh,” ujar anggota dewan juri, Dyastasita W.B.
Keputusan itu memicu keberatan dari regu C yang menilai jawaban mereka sama dengan jawaban regu B. Dalam tayangan tersebut, peserta meminta dewan juri mempertimbangkan ulang penilaian.
Dewan juri kemudian menyatakan artikulasi jawaban peserta dianggap tidak terdengar jelas. Salah satu juri, Indri Wahyuni, menyebut artikulasi menjadi bagian penting dalam penilaian lomba.
“Kalau menurut kalian sudah, tetapi dewan juri menilai tidak mendengar artikulasi dengan jelas, artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus lima,” ujar Indri.
Perdebatan itu kemudian menyebar di media sosial dan memicu kritik terhadap konsistensi penilaian dewan juri. Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan mekanisme koreksi dan ruang keberatan peserta dalam perlombaan tersebut. ANTARA
Baca Juga: Pemprov Kepri dan NTT Bangun Kolaborasi Pengendalian Inflasi hingga Investasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









