Karimun Jadi Basis Fabrikasi Jacket Raksasa Proyek Tangguh UCC

Serimoni Struktur offshore jacket Ubadari untuk Proyek Strategis Nasional Tangguh Ubadari, CCUS, Compression (UCC) resmi melakukan sailaway dari Karimun Yard, Kepulauan Riau, Kamis (8/5/2026), menuju Teluk Bintuni, Papua Barat. (foto: gokepri/engesti)

SKK Migas: Proyek Ubadari Wujud Pemerataan Manfaat Energi Nasional

BATAM (gokepri.com) – Struktur offshore jacket Ubadari untuk Proyek Strategis Nasional Tangguh Ubadari, CCUS, Compression (UCC) resmi melakukan sailaway dari Karimun Yard, Kepulauan Riau, Kamis (8/5/2026), menuju Teluk Bintuni, Papua Barat.

Pengiriman ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan proyek gas alam terbesar Indonesia bagian timur.

HBRL

Jacket berbobot lebih dari 8.000 metrik ton tersebut merupakan hasil fabrikasi di dalam negeri yang dikerjakan sepenuhnya di galangan Karimun dengan melibatkan ratusan ribu jam kerja dan tenaga kerja mayoritas Indonesia.

Presiden Regional Asia Pasifik BP untuk Gas dan Energi Rendah Karbon, Kathy Wu, menyebut proyek Tangguh menjadi bukti kemampuan Indonesia dalam mengelola proyek migas berstandar global.

“BP telah menunjukkan bahwa Indonesia mampu mengembangkan proyek minyak dan gas yang kompleks dengan standar kualitas dan kinerja lingkungan tertinggi. Kami bangga menjadi bagian dari perjalanan ini,” ujarnya, Jumat 8 Mei 2026.

Ia menegaskan proyek ini juga menjadi bagian dari komitmen jangka panjang BP dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus transisi energi rendah karbon.

Fabrikasi Dalam Negeri dan TKDN Tinggi

Proyek Ubadari merupakan bagian dari pengembangan Tangguh LNG dalam skema Tangguh UCC yang akan membuka tambahan sumber daya gas hingga sekitar 3 triliun cubic feet (TCF).

Jacket yang dibuat di Karimun ini akan berlayar sejauh sekitar 5.800 kilometer menuju lokasi instalasi di Teluk Bintuni. Proyek ini mencatat tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sekitar 45 persen, dengan sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh tenaga kerja Indonesia.

“Di lokasi fabrikasi, proyek ini telah menyerap lebih dari 1,3 juta jam kerja dengan sekitar 95 persen pekerja merupakan warga negara Indonesia,” kata dia.

Dukungan Industri dan Pemerintah

Country Manager Saipem Indonesia, Eddie McCarthy, menyebut sailaway ini sebagai simbol kemajuan industri migas nasional sekaligus menandai tiga dekade kerja sama Saipem di Indonesia.

“Hari ini bukan hanya peluncuran jacket UCC, tetapi juga perayaan 30 tahun kemitraan dan komitmen di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Eksploitasi SKK Migas, Surya Widiyantoro, menegaskan bahwa proyek ini mencerminkan pemerataan pembangunan energi nasional.

Menurut dia, pengembangan sumber daya migas yang dilakukan di Papua namun difabrikasi di Karimun menunjukkan implementasi prinsip keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam.

“Ini sejalan dengan Pasal 33 UUD 1945, bahwa kekayaan alam harus sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia,” katanya.

Ia juga menyebut lapangan Ubadari memiliki potensi produksi sekitar 476 juta kaki kubik gas per hari dengan cadangan mencapai hampir 1 triliun kaki kubik.

“Ini termasuk berkah dari Allah di kekayaannya alam di Papua kita bawa ke barat untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” kata dia.

Dampak Ekonomi Daerah

Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, menyambut baik keberlanjutan proyek migas di wilayahnya. Ia berharap Karimun dapat terus menjadi basis industri strategis yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kalau bisa proyek migas seperti ini terus bertambah di Kepri, terutama Karimun, agar ekonomi daerah semakin bergerak,” ujarnya.

Untuk informasi, Proyek Tangguh UCC merupakan salah satu proyek strategis nasional yang diharapkan memperkuat produksi gas domestik di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional.

Selain mendukung ketahanan energi, proyek ini juga menjadi bagian dari pengembangan kapasitas industri nasional, peningkatan rantai pasok lokal, serta penguatan posisi Indonesia dalam industri migas global.

Dengan sailaway jacket Ubadari ini, Indonesia memasuki tahap lanjutan pengembangan infrastruktur lepas pantai yang akan menjadi fondasi penting produksi energi dalam beberapa dekade mendatang.

Penulis: Engesti

 

Pos terkait