Inflasi terkendali di 3,06 persen sementara Gubernur Ansar Ahmad mengejar target pertumbuhan 8 persen lewat investasi Rp 86 triliun.
BATAM (gokepri) – Ekonomi Kepulauan Riau tumbuh 7,04 persen pada triwulan I 2026, tertinggi di Sumatera meski melambat dari 7,89 persen pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang lonjakan sektor pertambangan sebesar 23,19 persen dan kuatnya kinerja perdagangan serta industri pengolahan di tengah tekanan rantai pasok global.
Capaian Kepri jauh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera yang sebesar 5,13 persen secara tahunan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Posisi ini menempatkan Kepri sebagai motor pertumbuhan regional Sumatera pada awal 2026.
Baca Juga: Ekonomi Kepri Melesat, Ansar-Nyanyang Pacu Investasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri Rony Widijarto P. menyebut empat sektor utama sebagai penopang pertumbuhan: industri pengolahan tumbuh 5,79 persen, pertambangan dan penggalian 23,19 persen, perdagangan 9,03 persen, serta konstruksi 3,06 persen.
“Meski melambat, sektor industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung ekonomi di tengah tekanan rantai pasok global serta kenaikan biaya bahan baku dan logistik,” kata Rony dalam siaran pers, Rabu (30/4/2026).
Akselerasi sektor pertambangan didorong mulai beroperasinya lapangan minyak dan gas bumi sejak Mei 2025. Sementara dari sisi permintaan, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh 7,47 persen dengan kontribusi 3,02 persen terhadap pertumbuhan keseluruhan, mencerminkan iklim investasi yang kondusif berkat kemudahan perizinan.


Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 4,62 persen dengan kontribusi 1,80 persen. Indeks Keyakinan Konsumen tercatat 132,22, angka yang menunjukkan optimisme masyarakat masih terjaga. Ekspor neto tumbuh 9,95 persen, meski mengalami perlambatan akibat tekanan harga bahan baku global.
Di tengah pertumbuhan yang tinggi, inflasi Kepri tetap terkendali. Indeks Harga Konsumen April 2026 mencatat inflasi 3,06 persen secara tahunan, masih dalam rentang sasaran nasional 2,5 persen plus minus satu persen.
“Ke depan, perekonomian Kepri diprakirakan tetap tumbuh, meski menghadapi tantangan normalisasi efek basis tinggi pada sektor pertambangan,” ujar Rony.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad menargetkan pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 8 persen pada 2026, didukung percepatan realisasi investasi senilai Rp 86 triliun. Sejumlah proyek strategis disiapkan untuk menopang target itu yakni pengembangan kawasan ekonomi khusus di Batam, pembangunan industri petrokimia dan baja di Bintan, serta Kawasan Ekonomi Khusus di Lingga yang masih menunggu penyelesaian lahan.
Pemerintah provinsi juga mendorong industri berbasis kelautan, termasuk budidaya rumput laut di Lingga dan Kepulauan Anambas. “Penyebaran investasi akan diarahkan ke seluruh wilayah agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak terpusat di satu daerah saja,” kata Ansar.
Baca Juga: Ekonomi Kepri Tumbuh Pesat Triwulan Pertama 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









