Kebun Raya Batam Dipacu Jadi Ikon Wisata Ekologi

Kebun Raya Batam
Wali Kota Batam Amsakar Achmad (kanan) dan Deputi Kepala Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN R. Hendrian saat audiensi di Kantor Wali Kota Batam, Rabu (29/4/2026). Pertemuan itu membahas percepatan pengembangan Kebun Raya Batam sebagai destinasi wisata berbasis ekologi. Foto: Diskominfo Batam

Kerja sama Pemko Batam dan BRIN difokuskan pada kepastian lahan, riset, dan koleksi tanaman.

BATAM (gokepri) – Pemerintah Kota Batam dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat realisasi kerja sama pengembangan Kebun Raya Batam, kawasan konservasi tumbuhan seluas 85,66 hektar di Nongsa yang sudah beroperasi sejak 2018 namun dinilai belum optimal sebagai destinasi wisata.

Langkah itu ditandai dengan audiensi Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Deputi Kepala Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, di Kantor Wali Kota Batam, Rabu (29/4/2026). Pertemuan itu menindaklanjuti perjanjian kerja sama yang sebelumnya disepakati sebagai turunan nota kesepahaman antara kedua pihak.

Baca Juga: BFB Nikmati Wisata Sehat Lewat Halal BikeHalal di Kebun Raya Batam

Kebun raya ini mulai dirintis sejak penandatanganan MoU antara LIPI, Pemerintah Kota Batam, dan BP Batam pada 18 Mei 2012. Peletakan batu pertama dilakukan pada 28 Agustus 2014 oleh Menteri Pekerjaan Umum, dan kebun raya ini secara resmi diluncurkan pada 18 Desember 2018, bertepatan dengan Hari Jadi Batam.

Di atas lahan 85,66 hektare itu kini tersimpan koleksi 9.454 tanaman non-anggrek dan 377 tanaman anggrek—seluruhnya hasil eksplorasi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor bersama LIPI ke pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau. Koleksi itu terdiri dari 28 famili, 149 genus, 193 jenis, dan 824 spesies, dengan lebih dari 10.000 bibit yang dibudidayakan di kawasan ini. Tiket masuk hingga kini gratis, dan kebun buka setiap hari pukul 08.00–18.00.

Pengunjung terus berdatangan pada 2022 jumlahnya hampir 14.000 orang, umumnya di akhir pekan dan hari libur. Hanya saja Amsakar menyebut potensi kawasan ini belum tergarap maksimal. Ia mendorong BRIN mempercepat realisasi kerja sama di bidang pengelolaan kebun raya, penguatan riset, dan pengayaan koleksi tanaman, dengan syarat kepastian status lahan segera terwujud.

“Keberadaan Kebun Raya Batam sangat strategis. Selain sebagai pusat konservasi dan pengayaan tumbuhan, juga berpotensi menjadi pengungkit sektor pariwisata,” ujar Amsakar.

BRIN menilai posisi Kebun Raya Batam strategis, terutama karena berada di kawasan Nongsa, salah satu destinasi wisata unggulan Batam. Lokasinya hanya sekitar 12 kilometer dari Bandara Hang Nadim dan dekat dengan sejumlah pelabuhan internasional, menjadikannya pintu masuk potensial bagi wisatawan dari Singapura dan Malaysia.

Dengan pengembangan yang tepat, kawasan itu diyakini dapat menjadi bagian dari ekosistem pariwisata terintegrasi kota ini.
Amsakar menambahkan, publikasi yang masif akan menjadi kunci mendongkrak kunjungan wisatawan.

“Jika Kebun Raya Batam dapat kami dorong menjadi destinasi unggulan dan dipublikasikan secara luas, tentu akan berdampak langsung pada peningkatan kunjungan wisatawan,” katanya. Audiensi itu turut dihadiri Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN, Asep, serta sejumlah pejabat Pemerintah Kota Batam.

Baca Juga: Ansar: Sirkuit Internasional Batam Akan Dipindah ke Bintan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait