Sistem pendingin kabin yang tak terawat membebani mesin. Konsumsi bahan bakar meningkat tanpa disadari pengendara.
JAKARTA (gokepri) – Banyak pengendara menyalakan AC tanpa berpikir panjang. Padahal, ketika sistem pendingin itu bermasalah, mesin bekerja lebih keras. Dampaknya langsung terasa pada konsumsi bahan bakar yang merangkak naik.
Penggunaan air conditioner (AC) dalam kendaraan bukan sekadar soal kenyamanan. Sistem ini terhubung langsung dengan kerja mesin. Setiap gangguan pada AC dapat berdampak pada efisiensi bahan bakar, baik pada mobil bensin, diesel, maupun berbahan bakar gas.
Baca Juga: Cara Merawat AC Mobil agar Berkendara Selalu Nyaman
Co-Founder Dokter Mobil, Ko Lung-Lung, mengingatkan kondisi AC yang tidak optimal sering luput dari perhatian pemilik kendaraan. Banyak pengendara tetap menyalakan AC meski tidak dingin. “Kalau tidak dingin tapi terus dinyalakan, itu bisa boros,” ujar Ko Lung-Lung, Rabu, 22 April 2026.
Secara teknis, sistem AC terdiri atas beberapa komponen utama. Kompresor, kondensor, filter dryer, katup ekspansi, dan evaporator bekerja dalam satu siklus tertutup. Kompresor mendorong sirkulasi freon dan oli. Kondensor mengubah freon dari gas menjadi cair. Setelah disaring, freon kembali menjadi gas di evaporator.
Perubahan fase freon dari cair ke gas menyerap panas dari udara. Proses ini menghasilkan udara dingin yang kemudian dihembuskan ke dalam kabin. Namun, siklus tersebut membutuhkan energi tambahan dari mesin kendaraan.
Kompresor menjadi titik krusial. Komponen ini digerakkan langsung oleh mesin melalui sistem penggerak. Semakin berat kerja kompresor, semakin besar beban mesin. “Beban mesin naik, konsumsi BBM ikut meningkat,” kata Ko.
Masalah muncul ketika sistem tidak bekerja optimal. Misalnya, freon berkurang, oli kompresor kotor, atau komponen mengalami keausan. Dalam kondisi itu, kompresor tetap berputar, tetapi pendinginan tidak maksimal. Mesin tetap menanggung beban, sementara hasilnya tidak sebanding.
Perawatan berkala menjadi faktor penentu. Ko menyarankan penggantian oli kompresor setiap 20.000 kilometer. Langkah ini mencegah gesekan berlebih yang dapat merusak komponen internal. Selain itu, sistem yang terawat membuat kerja AC lebih ringan.
Faktor lain yang kerap terabaikan adalah suhu radiator. Posisi kondensor yang berdekatan dengan radiator membuat keduanya saling memengaruhi. Ketika radiator terlalu panas atau kipas tidak bekerja optimal, panas merambat ke kondensor. Efisiensi pendinginan pun menurun.
Akibatnya, sistem AC harus bekerja lebih keras untuk mencapai suhu yang diinginkan. Beban mesin kembali meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya memicu pemborosan BBM, tetapi juga mempercepat keausan komponen.
Komponen pendukung seperti magnetic clutch dan solenoid valve juga memegang peran penting. Keduanya mengatur kapan kompresor aktif atau berhenti, mengikuti perintah sistem elektronik kendaraan. Gangguan pada komponen ini membuat kerja AC tidak stabil dan menambah beban mesin.
Fenomena ini memperlihatkan keterkaitan antara kenyamanan dan efisiensi energi pada kendaraan. AC yang terawat menjaga suhu kabin tetap sejuk tanpa membebani mesin secara berlebihan. Sebaliknya, sistem yang diabaikan berpotensi meningkatkan konsumsi bahan bakar secara diam-diam.
Pemeriksaan rutin pada sistem AC dan pendingin mesin menjadi kunci. Selain menjaga performa kendaraan, langkah ini juga menekan biaya operasional yang kerap tak terasa dalam penggunaan harian. ANTARA
Baca Juga: Pusing Tak Ada Uang, 2 Pria di Batam Nekat Pecahkan Kaca Mobil
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News










