Kejutan di Pasar Otomotif 2026, BYD Naik Cepat

BYD bangun pabrik di Indonesia
Gerai BYD di Yokohama, Jepang. Foto: AP

Pasar mobil Indonesia kuartal I 2026 hanya tumbuh tipis. Toyota masih dominan, sementara BYD mulai menekan posisi Honda di tengah tren kendaraan listrik.

JAKARTA (gokepri) – Pasar mobil belum pulih benar. Di tengah pertumbuhan tipis, dominasi lama mulai digoyang pemain baru.

Industri otomotif nasional membuka 2026 dengan laju yang tertatih. Penjualan mobil hanya tumbuh tipis, sementara tekanan mulai terlihat di bulan terakhir kuartal pertama.

HBRL

Baca Juga: Kijang Innova Raja Pasar di tengah Naik Tipisnya Penjualan Mobil Juli 2025

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan wholesales—dari pabrik ke dealer—sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai 209.021 unit. Angka ini naik 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 205.539 unit.

Penjualan ritel, dari dealer ke konsumen, bahkan lebih datar. Totalnya 211.905 unit, hanya naik 0,5 persen dari 210.766 unit pada kuartal I 2025.

Di tengah perlambatan itu, struktur pasar masih didominasi pemain lama. Toyota memimpin jauh dengan penjualan 60.584 unit. Pangsa ini menegaskan posisi grup Astra sebagai aktor utama industri otomotif domestik.

Daihatsu, yang juga berada di bawah Astra, menyusul di posisi kedua dengan 34.881 unit. Mitsubishi Motors berada di peringkat ketiga dengan 19.096 unit, diikuti Suzuki 16.994 unit.

Namun dinamika baru mulai terlihat di papan tengah. Honda yang selama ini stabil di lima besar mencatatkan 13.530 unit. Angka ini kini dikejar ketat oleh BYD, produsen kendaraan listrik asal China, yang membukukan 12.473 unit.

Selisih keduanya menipis. Ini bukan sekadar pergeseran angka, melainkan indikasi perubahan preferensi pasar.

BYD agresif memperluas penetrasi di Indonesia, seiring rencana pengoperasian pabrik kendaraan listrik di Subang, Jawa Barat. Kehadiran fasilitas produksi lokal berpotensi menekan harga sekaligus memperkuat distribusi.

Di bawah BYD, merek pendatang baru seperti Jaecoo langsung menembus 10 besar dengan 8.065 unit. Sementara itu, segmen kendaraan niaga masih diisi Mitsubishi Fuso (7.519 unit) dan Isuzu (5.781 unit). Hyundai melengkapi daftar dengan 4.774 unit.

Meski secara kumulatif tumbuh, tekanan terlihat jelas pada Maret 2026. Penjualan wholesales bulan itu hanya 61.271 unit, turun 13,8 persen dibandingkan Maret tahun lalu yang mencapai 71.099 unit.

Penjualan ritel juga melemah. Totalnya 66.637 unit, turun 13,2 persen dari 76.765 unit pada Maret 2025.

Secara bulanan, penurunan bahkan lebih tajam. Wholesales merosot 24,6 persen dari Februari yang mencatat 81.250 unit. Ritel turun 14,8 persen dari 78.239 unit.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyebut faktor musiman sebagai penyebab utama. Libur panjang menjelang Lebaran membuat aktivitas penjualan di dealer melambat. “Biasanya agak panjang,” ujarnya.

Namun faktor musiman saja tak cukup menjelaskan perlambatan struktural. Dalam dua tahun terakhir, daya beli kelas menengah cenderung tertekan. Suku bunga kredit kendaraan yang belum turun signifikan ikut menahan keputusan pembelian.

Di sisi lain, pasar mulai mengalami fragmentasi. Konsumen kini dihadapkan pada lebih banyak pilihan, terutama dari merek China yang agresif di segmen kendaraan listrik dan hybrid.

Perubahan ini perlahan menggerus dominasi merek Jepang yang selama puluhan tahun nyaris tak tergoyahkan. Meski Toyota masih kokoh di puncak, tekanan kompetitif semakin nyata di lapisan bawah.

Daftar 10 Merek Terlaris Kuartal I/2026:
1. Toyota: 60.584 unit
2. Daihatsu: 34.881 unit
3. Mitsubishi Motors: 19.096 unit
4. Suzuki: 16.994 unit
5. Honda: 13.530 unit
6. BYD: 12.473 unit
7. Jaecoo: 8.065 unit
8. Mitsubishi Fuso: 7.519 unit
9. Isuzu: 5.781 unit
10. Hyundai: 4.774 unit

BISNIS.COM

Baca Juga: Rekor Baru Penjualan Mobil Listrik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait