Momentum Lebaran Belum Cukup Gerakkan Ekspansi Usaha

Tarif impor as
Industri manufaktur di Batam. Foto: BP Batam

JAKARTA (gokepri) — Kalangan dunia usaha diperkirakan masih akan menahan ekspansi setelah libur Idulfitri 2026. Ketidakpastian global akibat gejolak geopolitik dan tekanan fiskal dalam negeri membuat pelaku usaha cenderung bertahan.

Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menilai situasi saat ini menempatkan dunia usaha dalam posisi defensif. Menurutnya, risiko inflasi dan pelemahan daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang membuat pelaku usaha enggan memperluas kapasitas produksi.

“Kalau pemerintah melakukan penyesuaian [kebijakan], itu akan berdampak pada inflasi. Jadi apa pun yang diambil, tekanan inflasi akan tinggi. Kalau inflasi tinggi, daya beli akan kembali tertekan dan itu membuat permintaan melemah. Saya tidak melihat dunia usaha mulai ekspansi pascalebaran, mengingat situasi yang ada saat ini,” ujar Deni kepada Bisnis, Jumat (27/3/2026).

HBRL

Baca Juga: Iran Ancam Hancurkan Ekonomi Dunia

Sektor kebutuhan pokok atau consumer goods dinilai lebih tahan terhadap tekanan dibanding sektor lain, karena permintaannya relatif stabil. Di pasar modal, Deni memperkirakan saham-saham sektor komoditas akan lebih menarik bagi investor seiring peluang kenaikan harga minyak dunia yang dapat mendorong penguatan harga komoditas lain, seperti minyak sawit dan batu bara.

Sebaliknya, sektor manufaktur diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar, khususnya bagi perusahaan dengan utang berdenominasi valuta asing atau ketergantungan tinggi pada bahan baku impor.

Deni juga mengingatkan kemungkinan efisiensi anggaran pemerintah yang dapat memperparah situasi. Ruang fiskal pemerintah, menurut dia, semakin sempit—terutama jika kenaikan harga minyak mendorong pembengkakan belanja subsidi energi.

“Pengeluaran pemerintah memang sudah ketat dan makin rigid. Subsidi membengkak besar. Anggaran Makan Bergizi Gratis, kalau tidak dikurangi, masih Rp 335 triliun. Belanja bunga utang menguasai 19 sampai 20 persen [dari total belanja],” kata Deni.

Di sisi lain, pemerintah tetap optimistis dunia usaha akan mulai bergerak setelah Lebaran. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyebut kebutuhan restocking pascaLiburan menjadi pendorong utama ekspansi jangka pendek.

“Kami optimistis dunia usaha akan mulai melakukan ekspansi. Harapannya, banyak pelaku usaha yang mulai meningkatkan utilisasi mesin dan tenaga kerja untuk mengisi kembali stok produk yang terserap selama Ramadan dan Lebaran,” kata Haryo, Jumat (27/3/2026).

Haryo menegaskan optimisme itu tetap terjaga meski pemerintah tengah membahas langkah efisiensi anggaran sebagai respons atas ketidakpastian global. Tujuan utama kebijakan tersebut, kata dia, bukan sekadar penghematan, melainkan peningkatan efektivitas belanja negara.

“Target pemerintah bukan sekadar menghemat, tetapi menajamkan anggaran agar tersalurkan secara efektif. Pemerintah memastikan APBN tetap menjadi penyerap guncangan di tengah ketidakpastian global,” tutur Haryo. BISNIS.COM

Baca Juga: Ekonomi Batam Tancap Gas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait