BATAM (gokepri) — Lebih dari lima dekade sejak pertama kali berdiri di tepian Sungai Jodoh, Pasar Induk Jodoh akhirnya memberi harapan lagi. Pemerintah Kota Batam menandatangani Perjanjian Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) Barang Milik Daerah dengan PT Usaha Jaya Karya Makmur (UJKM) untuk membangun pasar induk modern, tanpa sepeser pun dana dari APBD.
Ini bukan kali pertama Pasar Jodoh dijanjikan kebangkitan. Bangunan lamanya sudah diratakan sekitar 2021. Selama dua tahun setelahnya, lahan seluas sekitar 2,1 hektare di kawasan Jodoh itu hanya lahan kosong. Proyek sempat disebut sebagai proyek gagal revitalisasi.
Pasar Jodoh tidak lahir dari perencanaan kota yang rapi. Ia tumbuh dari kebutuhan. Menurut jurnal Universitas Riau Kepulauan (Unrika), sejak 1970-an, kawasan pesisir Sungai Jodoh sudah menjadi titik temu pedagang dari Indragiri Hilir, Rengat, dan berbagai penjuru Batam yang ketika itu sedang dikembangkan menjadi kawasan industri.
Baca Juga:
- Tanpa APBD, Batam Bangun Pasar Induk Jodoh
- Pemko Batam Lelang Kerja Sama Pembangunan Pasar Induk Jodoh
Sebelum 1980, area ini berupa permukiman pelantar, rumah-rumah panggung di atas air di pertemuan aliran kecil dari Seraya dan Pelita. Di sinilah transaksi barter berlangsung: karet, sagu, dan hasil laut ditukar dengan sembako dan elektronik dari pedagang Singapura.
Kebakaran besar pada 1980 menghanguskan Pelantar Jodoh. Tujuh tahun kemudian, kebakaran kedua menghancurkan pasar darat. Otorita Batam merespons dengan merelokasi warga ke kavling-kavling di blok Seraya, Pelita, dan Bengkong Harapan, sekaligus membangun kembali kawasan dengan mendirikan Pasar Induk sebagai pusat perdagangan formal.
Pasar induk formal baru benar-benar berdiri pada 2001–2004 dengan anggaran Rp 34 miliar melalui skema kerja sama operasional bersama PT Golden Tirta Asia. Lahan merupakan hibah dari BP Batam. Diresmikan sekitar 2004–2006, pasar ini menjadi tulang punggung distribusi barang di Batam dan sumber penghidupan ribuan pedagang.

Namun bangunan yang awalnya menjadi kebanggaan itu perlahan runtuh oleh usia dan penelantaran. Memasuki 2018–2019, kondisi bangunan dinyatakan berbahaya. Pedagang meluber ke Tempat Penampungan Sementara (TOS) 3000, kawasan sementara yang dalam perkembangannya justru memakan badan jalan dan menjadi simbol ketidaktertiban kawasan Jodoh.
“Saat ini TOS 3000 tidak layak, bahkan memakan jalan,” kata Pelaksana Harian Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Batam Suhar, Selasa (25/3/2026).
Pemerintah Kota Batam memutuskan merobohkan bangunan lama dan merancang ulang dari nol. Desain baru disiapkan: gedung lima lantai di atas lahan 2,1 hektare dengan kapasitas lebih dari 1.800 pedagang. Lantai satu untuk pasar basah, lantai dua bahan pokok kering, lantai tiga pakaian, lantai empat elektronik, dan lantai lima foodcourt serta masjid dengan pemandangan Singapura. Anggaran diusulkan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Rp 334 miliar. Usulan itu tidak terkabul. Dana tidak turun. Lahan pun terbengkalai.

Skema KSP yang ditandatangani pada Maret 2026 menjadi terobosan dari kebuntuan itu. Dalam mekanisme ini, pihak swasta membiayai pembangunan di atas aset milik daerah dan mendapat hak pengelolaan untuk jangka waktu tertentu. sementara pemerintah tidak perlu mengeluarkan anggaran.
Bagi Wali Kota Batam Amsakar Achmad, skema ini bukan sekadar jalan keluar dari keterbatasan fiskal. “Aset daerah harus produktif dan memberi dampak ekonomi,” ujar Amsakar.
Suhar menjelaskan, keputusan memakai skema KSP lahir karena keterbatasan anggaran daerah. “APBD tidak cukup, maka kami pakai KSP. Sudah dilelang dan ada pemenangnya,” katanya. Nilai investasi PT UJKM disebut-sebut mencapai ratusan miliar rupiah. Konsep bangunan bertingkat dengan pemisahan zona pasar basah dan kering dipertahankan.
Proses relokasi pedagang dari TOS 3000 ke pasar baru sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengelola, bukan pemerintah kota. “Pengelola yang akan memindahkan pedagang,” kata Suhar. Pemko menargetkan relokasi dimulai pada 2027, dengan seluruh pedagang menempati lokasi baru pada 2028. Pasar induk baru tidak hanya dirancang sebagai tempat berjualan tetapi sebagai ruang tumbuh bagi ekonomi kerakyatan Batam. “Pasar ini untuk memberi ruang bagi UMKM agar bisa tumbuh,” kata Suhar.
Baca Juga:
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









