Keran air hanya mengalir beberapa jam menjelang subuh di Tanjung Sengkuang, Batam. Warga bergantung pada bantuan air mobil tangki setiap hari. Apa solusi pemerintah daerah?
ENGESTI FEDRO
BATAM (gokepri) – Menjelang tengah malam, sebagian warga Tanjung Sengkuang, Batam, justru baru memulai aktivitas rumah tangga. Ember, jeriken, dan drum plastik disusun di depan rumah. Mereka menunggu air mengalir dari keran.
Dalam beberapa bulan terakhir, aliran air di kawasan itu semakin tidak menentu. Pada bulan puasa, menurut warga, air biasanya hanya muncul sekitar tiga hingga empat jam sehari—mulai pukul 12 malam hingga sekitar pukul 3 subuh. Begitu air mengalir, warga segera menampungnya. Setelah itu, keran kembali kering hingga hari berikutnya. “Air sekarang paling lama tiga sampai empat jam saja menyala,” kata Ketua RW 03 Tanjung Sengkuang, Zainudin, Minggu 15 Maret 2026.
Baca Juga:
- Tanjung Sengkuang Masuk Lima Besar Kelurahan Terbaik se-Sumatera
- Langkah Baru Menata Distribusi Air Batam
Air yang mengalir pun belum tentu layak pakai. Menurut Zainudin, kualitas air yang diterima warga sering keruh sehingga harus disaring kembali sebelum digunakan. “Air yang kami terima kualitasnya jauh dari kata layak. Warga harus menyaring lagi. Biasanya hanya dipakai untuk mandi dan mencuci. Untuk minum kami terpaksa membeli air galon,” ujarnya.
Kesulitan air membuat sebagian besar warga di Tanjung Sengkuang bergantung pada distribusi mobil tangki setiap hari. Jika tidak kebagian, ada sebagian warga terpaksa mengungsi ke rumah keluarganya yang airnya mengalir.
Di wilayah RW 03 saja terdapat sekitar 280 kepala keluarga yang menunggu kiriman air secara bergiliran. Namun jumlah armada yang tersedia dinilai belum memadai untuk melayani seluruh warga.
Zainudin menjelaskan satu mobil tangki membutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam untuk menyalurkan air kepada warga. Dengan durasi distribusi yang cukup lama, jumlah rumah yang dapat terlayani setiap hari menjadi terbatas.
“Armada mobil tangki harus ditambah. Kalau hanya seperti sekarang, tidak semua warga bisa mendapat air. Kadang sampai malam baru selesai,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Harun, warga setempat. Ia menilai distribusi air menggunakan mobil tangki saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam satu RW terdapat sekitar lima RT. Jika satu wilayah hanya mendapatkan jatah sekitar sepuluh mobil tangki, jumlah itu masih jauh dari cukup untuk melayani seluruh rumah.
“Itu tidak maksimal dan tidak mencukupi. Sementara kondisi air makin parah. Bukannya makin bagus, malah makin memburuk,” kata Harun.
Masalah lain muncul dari skema pembagian air. Satu mobil tangki biasanya dibagi untuk empat rumah dengan jatah dua drum untuk setiap rumah. Padahal jumlah anggota keluarga di setiap rumah berbeda. Warga diharuskan mendaftar terlebih dahulu. Yang tidak mendaftar, hampir dipastikan tidak mendapat air. “Kalau dua drum itu mana cukup untuk satu hari. Saya saja enam anggota keluarga, tentu sangat kurang,” ujarnya.

Keterbatasan distribusi tersebut bahkan sempat memicu ketegangan antarwarga. Beberapa warga merasa telah memesan air selama dua hingga tiga hari, tetapi belum mendapat kiriman. “Kadang antar-RT pun sering berselisih,” kata Harun.
Warga berharap pemerintah daerah dan pengelola layanan air segera mengambil langkah nyata, terutama selama Ramadan ketika kebutuhan air rumah tangga meningkat.
Sementara itu, Corporate Communication PT Air Batam Hilir, Ginda Alamsyah, mengklaim distribusi air di Tanjung Sengkuang saat ini masih berjalan. Menurut dia, perusahaan juga tengah menangani berbagai keluhan yang disampaikan warga terkait distribusi air di kawasan tersebut.
“Alhamdulillah distribusi air di Tanjung Sengkuang berjalan lancar. Keluhan warga saat ini sedang dalam pengerjaan kami. Mengenai total kepala keluarga yang masih tersendat kami belum dapat memastikan saat ini,” kata Ginda, Minggu siang.
Ia menambahkan, apabila ada pelanggan di Tanjung Sengkuang yang membutuhkan air minum atau belum mendapatkan pasokan air, pihaknya akan membantu melalui pengiriman mobil tangki.
Ginda juga memastikan air yang dikirim melalui mobil tangki memiliki kualitas yang baik. Jika ditemukan adanya air dengan kondisi yang tidak layak, warga diminta segera melaporkannya. “Air yang kami kirim melalui water tank adalah air dengan kualitas baik. Jika ada pelanggan menerima air dengan kondisi buruk, silakan adukan kepada kami dan akan segera kami ganti dengan air yang kualitasnya baik,” ujarnya.
Wilayah dengan Tekanan Air Rendah
Persoalan air bersih di Batam sebenarnya bukan hal baru. Di sejumlah kawasan permukiman, keran air kerap hanya mengalir tipis pada jam-jam tertentu. Kondisi tersebut dikenal sebagai stress area, yakni wilayah dengan tekanan air rendah dalam jaringan distribusi.
Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) mencatat sedikitnya 18 titik wilayah yang masuk kategori tersebut. Beberapa di antaranya adalah Tanjung Sengkuang, Bengkong, dan Batu Merah.
Direktur Badan Usaha SPAM dan Fasling BP Batam, Iyus Rusmana, mengatakan BP Batam bersama PT Air Batam Hilir (ABH) tengah menyiapkan langkah perbaikan distribusi air. Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi tindak lanjut layanan air bersih yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026.

Salah satu langkah utama yang disepakati adalah peningkatan kapasitas suplai air hingga 850 liter per detik. “Langkah ini akan memberikan dampak terhadap total kapasitas suplai yang tersedia dari 4.429 liter per detik menjadi 4.710 liter per detik,” kata Iyus.
Dengan tambahan suplai tersebut, pengelola dapat mengalihkan pasokan air ke wilayah yang mengalami tekanan rendah ketika terjadi ketidakseimbangan distribusi.
“Sesuai arahan Kepala dan Wakil Kepala BP Batam, kami berupaya agar penanganan ini berjalan bertahap dan terukur sehingga pelayanan air bersih kepada masyarakat semakin stabil,” ujarnya.
Penguatan Jaringan Pipa
Selain penambahan suplai, BP Batam dan PT ABH juga merencanakan penguatan jaringan distribusi pipa di sejumlah jalur utama. Salah satu yang menjadi fokus adalah jalur pipa DK12 yang selama ini menyuplai beberapa kawasan dengan persoalan tekanan air rendah.
Wilayah yang terdampak antara lain Tanjung Sengkuang, Bengkong, dan Batu Merah—kawasan dengan permintaan air tinggi akibat pertumbuhan permukiman dan aktivitas ekonomi. Melalui penguatan jaringan tersebut, BP Batam berharap suplai dari pipa induk dapat mengalir lebih stabil hingga ke pelanggan.
“Melalui perkuatan jalur tersebut, suplai air dari pipa induk dipastikan lebih stabil dan akan mencukupi kebutuhan masyarakat,” kata Iyus.
Dalam rapat koordinasi yang sama, BP Batam dan PT ABH juga membahas rencana penerapan sistem pemantauan jaringan air berbasis teknologi SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition).
Sistem ini memungkinkan pengelola memantau tekanan air di berbagai titik jaringan pipa secara digital dan waktu nyata. Dengan teknologi tersebut, gangguan distribusi dapat terdeteksi lebih cepat dan penanganan menjadi lebih efektif.
Persoalan distribusi air di Batam juga dipengaruhi kondisi alam. Kota ini bergantung pada waduk tadah hujan sebagai sumber utama air baku. Ketika curah hujan menurun dalam waktu lama, debit air waduk ikut menyusut.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan kemarau panjang membuat debit air di Batam terus menipis. Untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat, pemerintah mengerahkan 34 armada mobil tangki air. Jumlah tersebut bahkan melebihi kebutuhan ideal yang diperkirakan sekitar 32 unit. Sebagian armada merupakan hasil modifikasi truk yang dipasangi tandon air.
“Kami kreasikan truk dengan tandon agar suplai tetap berjalan. Total 34 armada dikerahkan setiap hari,” kata Amsakar.
Setiap hari armada tersebut mengisi sekitar 100 tandon yang didistribusikan ke 18 wilayah terdampak. Pemerintah juga telah memetakan 18 wilayah yang kerap mengalami gangguan suplai air. Perbaikan difokuskan pada pelebaran serta pembersihan saluran distribusi agar aliran lebih lancar.
“Kami sudah memetakan 18 wilayah yang kerap terganggu. Tahun ini perbaikannya kami anggarkan, dan tahun depan cakupannya diperluas,” ujarnya.
Jika kemarau terus berlanjut, pemerintah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan tokoh agama bahkan berencana menggelar salat istisqa, yakni salat untuk memohon turunnya hujan.
“Jika kemarau terus berlanjut, kami bersama Forkopimda dan tokoh agama sepakat menggelar Salat Istisqa. Kita memohon doa agar hujan segera turun,” kata Amsakar.
Janji Perbaikan
Persoalan air bersih di Batam juga sempat memicu aksi protes warga. Dalam pertemuan dengan masyarakat Tanjung Sengkuang sebelumnya, Amsakar bersama Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra turun langsung mendengarkan keluhan warga. Dalam dialog tersebut, warga menuntut percepatan distribusi air bersih serta pelayanan yang lebih merata.

Amsakar menegaskan pemerintah kawasan tidak membedakan pelayanan kepada masyarakat. “Azaznya berkeadilan. Tidak ada perbedaan pelayanan air bersih,” kata Amsakar.
Ia mengakui masih ada sejumlah wilayah yang masuk kategori stress area, termasuk Tanjung Sengkuang. Namun pemerintah menyebut kawasan tersebut menjadi prioritas penanganan.
“Area-area tersebut setiap hari kami tangani dengan langkah cepat. Distribusi terus kami upayakan sebagai bentuk komitmen kami kepada masyarakat,” ujarnya. Untuk sementara, distribusi mobil tangki tetap menjadi solusi utama hingga pasokan air kembali stabil.
Namun bagi warga Tanjung Sengkuang, persoalan air masih terasa setiap hari. Keran yang hanya mengalir beberapa jam membuat mereka harus menyesuaikan aktivitas rumah tangga dengan jadwal air yang tak menentu. Sebagian menunggu hingga tengah malam. Sebagian lain berharap mobil tangki datang lebih cepat. (*)
Baca Juga:
- Aspirasi Warga Tanjung Sengkuang Didengar, BP Batam Siapkan Langkah Cepat Atasi Krisis Air
- Sudah Dua Bulan Warga Batu Merah dan Tanjung Sengkuang Krisis Air
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
*Reportase mengalami perubahan setelah mendapat wawancara PT ABH.









