PADANG (gokepri) – Pemerintah Kota (Pemko) Padang, Sumatera Barat (Sumbar), meliburkan aktivitas belajar mengajar di tingkat SD dan SMP menyusul bencana hidrometeorologi yang melanda daerah itu sejak beberapa hari terakhir.
“Betul, dan surat edarannya sedang kami siapkan,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Padang Yopi Krislova di Kota Padang, Kamis 27 November 2025.
Senada dengan itu Wali Kota Padang Fadly Amran juga memerintahkan agar kantor lurah dan camat difungsikan sebagai tempat evakuasi sementara bagi warga yang terdampak banjir. Sementara para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tidak terdampak bencana diminta tetap bekerja.
“Kami sudah minta agar ASN yang tidak terdampak bencana tetap bertugas. Buka kantornya untuk tempat evakuasi sementara warga yang membutuhkan,” ujar Fadly Amran disela-sela peninjauan korban banjir di Lubuk Minturun.
Mengingat kondisi bencana hidrometeorologi yang belum mereda, Fadli Aman meminta personel yang memiliki pengalaman rescue di lapangan untuk membantu penanganan dampak bencana.
“Untuk mengatasi keterbatasan personel rescue, saya sudah minta agar personel yang memiliki pengalaman bertugas di kebencanaan kembali bergabung ke dalam satuan tugas BPBD untuk mempercepat proses evakuasi,” kata Fadly Amran.
Terpisah, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau Desindra Deddy Kurniawan mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di provinsi itu yang diperkirakan masih dapat terjadi hingga 29 November 2025.
“Dengan melihat perkembangan dinamika atmosfer aktual, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem terutama hujan lebat hingga ekstrem yang dapat disertai angin kencang di sebagian besar wilayah Sumbar,” kata Deddy.
Desindra Deddy mengatakan peringatan cuaca ekstrem tersebut sehubungan dengan adanya bibit siklon tropis 95B yang teridentifikasi sejak 21 November 2025 di wilayah Selat Malaka sebelah timur perairan Aceh.
Kondisi tersebut, kata dia, memicu pola pertemuan arus angin atau massa udara di Sumbar serta Indeks Ocean Dipole (IOD) bernilai negatif, sehingga meningkatkan suplai uap air dan kelembapan yang menyebabkan kondisi atmosfer labil. Termasuk pula pertumbuhan awan-awan hujan yang tebal dan luas dan menimbulkan hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang di Sumbar dalam sepekan terakhir. ANTARA
Baca Juga: Akses Padang-Bukittinggi Tersendat Akibat Banjir
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









